Dunia perfilman horor kembali digemparkan. Film horor psikologis berjudul ‘Backrooms’ sukses mencetak sejarah baru. Ia menjadi debut film horor orisinal dengan pendapatan terbesar sepanjang masa.
Performa ‘Backrooms’ di tangga box office melampaui ekspektasi semua pengamat film dunia. Pada pekan perdana, film ini meraup pendapatan fantastis US$81 juta di Amerika Serikat saja. Secara global, angkanya menembus US$118 juta.
Angka ini menjadi keuntungan luar biasa bagi rumah produksi A24 dan Chernin Entertainment. Padahal, ‘Backrooms’ diproduksi dengan anggaran efisien sekitar US$10 juta. Keberhasilan ini membuktikan kekuatan konsep cerita yang kuat.
Jeff Bock, analis dari Exhibitor Relations, mengungkapkan keterkejutannya. Ia mengaku tak ada yang menyangka film ini bisa menembus angka pembukaan di atas US$80 juta. Bock menilai antusiasme publik terhadap mitologi ‘Backrooms’ yang sudah populer sebelumnya menjadi pemicu utama.
Bahkan, ia menyandingkan gairah penonton film ini dengan skala pembukaan film-film Marvel. Bagi A24, ini adalah debut film terbesar dalam sejarah perusahaan. Rekor sebelumnya dipegang ‘Civil War’ pada 2024 dengan US$25,5 juta.
‘Backrooms’ membuka lebih dari tiga kali lipat rekor lama A24. Prestasi ini juga menempatkan Kane Parsons sebagai sutradara termuda yang berhasil memuncaki box office. Ia menggeser rekor Josh Trank yang berusia 27 tahun saat merilis ‘Chronicle’ pada 2012.
Keberhasilan Parsons menunjukkan tren baru. Kreator konten digital kini mampu menembus industri arus utama. Ia sukses menggerakkan basis penggemar online untuk memenuhi kursi bioskop.
Film yang mengusung konsep ‘liminal spaces’ ini menepis kekhawatiran tentang minat generasi muda. Banyak pihak meragukan kebiasaan Gen Z menonton di layar lebar. Namun, data menunjukkan 85 persen penonton berusia di bawah 35 tahun.
Setengah dari total penonton bahkan berusia 25 tahun atau lebih muda. Tren serupa terlihat pada film horor thriller ‘Obsession’ yang 75 persen penontonnya berusia 18-25 tahun.
Jeff Bock menambahkan, kedua film ini sukses karena tingginya permintaan pasar. Dahaga audiens akan konten segar belum terpenuhi. Gen Z memang selektif, mereka tidak hanya datang karena populer.
Generasi muda cenderung menghindari sekuel atau reboot. Hal ini terlihat dari penurunan tajam film besar ‘The Mandalorian and Grogu’. Film berbiaya besar itu turun 70 persen di pekan kedua.
Fakta menariknya, ‘Backrooms’ mencatat rekor pendapatan tertinggi film horor orisinal. Film ini menghasilkan US$118 juta global di pekan perdana. Kane Parsons menjadi sutradara termuda di puncak box office AS.
Film ini berhasil menarik 85 persen penonton Gen Z dan milenial muda. ‘Backrooms’ memecahkan rekor internal A24 yang sebelumnya dipegang ‘Civil War’.
Pergeseran tren penonton horor kini mengarah pada narasi unik. Penonton mulai jenuh dengan formula horor konvensional yang hanya mengandalkan efek kejut. Horor psikologis seperti ‘Backrooms’ menjadi jawaban atas kejenuhan itu.
Analis David A. Gross mencatat perubahan selera penonton. Dulu horor identik kekerasan fisik, kini kualitas narasi jadi poin utama. Film horor terbaik menyampaikan cerita ambisius dan mendalam.
‘Backrooms’ diadaptasi dari serial web Parsons yang mengeksplorasi ‘liminal spaces’. Konsep ini menggambarkan ruangan ganjil yang akrab namun menyeramkan. Tema ini populer di media sosial sebelum diangkat ke layar lebar.
Sutradara ‘Backrooms’ adalah Kane Parsons. Pemeran utamanya adalah Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve. Film ini diproduksi A24, Chernin Entertainment, dan Atomic Monster dengan anggaran US$10 juta.
Film ini mengikuti kisah pemilik toko furnitur (Ejiofor) yang terseret ke ruangan misterius. Terapisnya (Reinsve) berusaha menyelamatkannya. Indonesia akan tayang mulai 12 Juni 2026.
Kane Parsons sudah memberi sinyal hijau untuk sekuel. ‘Backrooms’ berpotensi menjadi waralaba film yang lebih luas. Ruang lintas dimensi ini tampaknya akan terus menghantui bioskop.
