Friday, 17 July 2026
BREAKING
BERITA

Terungkap! Rahasia RI ‘Menang Setengah’ dari Perdagangan dengan AS Selama 3 Dekade

Oleh Emanuel July 17, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Jakarta – Perundingan perjanjian dagang komprehensif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah berlangsung selama 30 tahun tanpa hasil konkret. Namun, di balik lamanya proses tersebut, Indonesia diklaim justru meraih keuntungan signifikan dalam hubungan dagangnya dengan Negeri Paman Sam.

Menteri Perdagangan RI, Zulkifli Hasan, melalui juru bicaranya Budi Santoso, memberikan pandangan mengenai fenomena unik ini. Menurutnya, absennya perjanjian dagang formal justru memberikan fleksibilitas bagi Indonesia untuk terus menjalin relasi dagang yang saling menguntungkan.

“Kita selama 30 tahun ini tidak ada perjanjian dagang dengan Amerika, tapi kita untung kok,” ujar Budi Santoso dalam sebuah kesempatan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa neraca perdagangan Indonesia dengan AS cenderung positif, meskipun tanpa payung hukum perjanjian dagang yang mengikat.

Budi Santoso menjelaskan lebih lanjut, bahwa tanpa adanya perjanjian yang ketat, Indonesia memiliki keleluasaan lebih dalam berekspansi pasar. Hal ini memungkinkan Indonesia untuk memanfaatkan peluang-peluang yang muncul secara dinamis di pasar AS. Berbeda jika ada perjanjian, ada kemungkinan pembatasan-pembatasan yang justru bisa merugikan.

Fakta ini menjadi menarik mengingat banyak negara yang berupaya keras untuk mendapatkan perjanjian dagang dengan kekuatan ekonomi seperti AS. Namun, Indonesia tampaknya mampu mengukir suksesnya sendiri. Keberhasilan ini tidak terlepas dari strategi negosiasi dan kemampuan adaptasi pelaku usaha Indonesia.

Selama tiga dekade terakhir, volume perdagangan antara kedua negara terus meningkat. Produk-produk ekspor unggulan Indonesia seperti komoditas pertanian, tekstil, dan alas kaki, terus menemukan pasarnya di Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa permintaan pasar AS terhadap produk Indonesia tetap tinggi.

Di sisi lain, Budi Santoso juga tidak menutup kemungkinan untuk terus menjajaki kemitraan dagang yang lebih formal di masa depan. Namun, prioritas saat ini adalah bagaimana memaksimalkan potensi yang sudah ada. Fokusnya adalah pada produk-produk yang memiliki daya saing tinggi dan permintaan pasar yang stabil.

Klaim keuntungan dagang ini menjadi bukti bahwa hubungan bilateral tidak selalu harus diukur dari adanya perjanjian formal. Fleksibilitas dan adaptabilitas bisa menjadi kunci keberhasilan dalam arena perdagangan global yang kompetitif. Indonesia terus berupaya menjaga momentum positif ini di tengah dinamika ekonomi internasional.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait