Biaya yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk konflik yang melibatkan Iran ternyata jauh lebih besar dari perkiraan awal, menciptakan perdebatan sengit di kalangan pembuat kebijakan dan ekonom. Pentagon dilaporkan akan mengajukan permintaan anggaran sebesar US$ 80 miliar kepada Kongres untuk menutup berbagai pengeluaran pertahanan, termasuk yang terkait dengan Iran. Angka ini meroket dibandingkan perkiraan sebelumnya yang berkisar di bawah US$ 25 miliar, memicu kekhawatiran akan beban finansial yang ditanggung oleh perekonomian AS dan masyarakatnya.
Laporan mengenai kebutuhan anggaran tambahan sebesar US$ 80 miliar ini diungkapkan oleh Wall Street Journal (WSJ), mengutip sumber-sumber yang mengetahui diskusi internal mengenai anggaran pertahanan. Angka ini mencakup berbagai kebutuhan, namun secara spesifik juga dialokasikan untuk menutupi biaya yang timbul akibat ketegangan dengan Iran. Jika disetujui, angka tersebut akan menjadi pukulan telak bagi anggaran negara, mengingat perkiraan biaya perang yang sebelumnya beredar jauh lebih rendah.
Selama ini, angka US$ 25 miliar atau sekitar Rp 450 triliun kerap disebut sebagai perkiraan biaya perang AS terkait Iran. Namun, para pemimpin Partai Demokrat dan sejumlah ekonom terkemuka menyuarakan keraguan, meyakini bahwa angka tersebut hanyalah puncak gunung es. Mereka berpendapat bahwa biaya sebenarnya bagi perekonomian AS dan 330 juta penduduknya bisa mencapai angka yang jauh lebih fantastis, berkisar antara US$ 630 miliar hingga US$ 1 triliun.
Situasi ini semakin kompleks ketika melihat laporan awal dari Pentagon sendiri. Pada bulan Maret lalu, para pejabat pertahanan AS sempat menginformasikan kepada Kongres bahwa perang tersebut menelan biaya US$ 11,3 miliar hanya dalam enam hari pertama. Angka ini, meskipun terdengar besar, ternyata masih jauh di bawah permintaan awal pemerintahan Trump yang mencapai US$ 200 miliar untuk keperluan perang yang sama.
Jay Hurst, pelaksana tugas pengawas keuangan Pentagon, saat memberikan kesaksian di hadapan anggota Kongres, menyebutkan angka perkiraan US$ 25 miliar. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut mencerminkan "biaya perang" yang meliputi pengeluaran amunisi dan operasional lainnya. Namun, Hurst juga berjanji akan memberikan rincian biaya yang lebih lengkap di kemudian hari setelah dilakukan penilaian menyeluruh terhadap seluruh biaya yang timbul dari konflik tersebut.
Namun, perdebatan mengenai biaya perang AS melawan Iran belum menunjukkan titik terang. Direktur Anggaran Gedung Putih, Russell Vought, pada April lalu menyatakan dalam sebuah dengar pendapat bahwa pihaknya belum memiliki estimasi yang pasti mengenai total biaya perang tersebut. Ketidakpastian ini semakin memperkuat dugaan bahwa angka yang beredar saat ini mungkin belum mencerminkan keseluruhan beban finansial yang ditanggung oleh Amerika Serikat.
Linda Bilmes, seorang ekonom terkemuka dari Universitas Harvard yang memiliki rekam jejak panjang dalam menghitung ongkos perang, memberikan pandangan yang lebih mengkhawatirkan. Ia memperkirakan bahwa AS bisa saja telah mengeluarkan dana hingga US$ 1 triliun, setara dengan Rp 17 ribu triliun. Perkiraan ini tentu saja mencakup berbagai aspek biaya yang tidak selalu terlihat dalam laporan anggaran pertahanan konvensional.
Salah satu contoh konkret yang disajikan adalah ketidakseimbangan anggaran yang tercipta akibat penggunaan teknologi militer yang mahal. Biaya rudal pencegat AS senilai US$ 4 juta untuk menembak jatuh drone Iran yang hanya berharga US$ 30.000 untuk diproduksi, jelas menunjukkan adanya disparitas yang signifikan. Hal ini belum termasuk biaya operasional dan pemeliharaan sistem persenjataan yang canggih.
Lebih jauh lagi, penggantian instalasi militer regional yang rusak akibat konflik juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nilai buku aset yang dilaporkan secara historis seringkali jauh lebih rendah dibandingkan biaya sebenarnya untuk memulihkan atau membangun kembali fasilitas tersebut. Investasi ulang dalam infrastruktur militer yang terdampak konflik menjadi komponen biaya yang krusial.
Aspek yang seringkali terlupakan namun memiliki dampak jangka panjang yang sangat besar adalah biaya perawatan kesehatan bagi para veteran perang. Pengerahan puluhan ribu pasukan AS ke wilayah konflik membuat mereka terpapar berbagai risiko, yang kemudian membutuhkan kompensasi cacat dan perawatan medis berkelanjutan. Berdasarkan pengalaman perang sebelumnya, biaya ini dapat menelan ratusan miliar dolar dari waktu ke waktu, menjadi beban finansial yang terus berlanjut bahkan setelah konflik berakhir.
Implikasi dari angka biaya perang yang fantastis ini sangat luas. Selain membebani anggaran pertahanan, dana besar yang dialokasikan untuk konflik berpotensi mengalihkan sumber daya dari sektor-sektor vital lainnya seperti pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur sipil. Perdebatan mengenai transparansi anggaran dan efektivitas penggunaan dana militer pun semakin mengemuka, menuntut akuntabilitas yang lebih besar dari pemerintah AS dalam mengelola pengeluaran terkait kebijakan luar negeri dan pertahanannya.
Situasi ini juga menyoroti kompleksitas peperangan modern dan tantangan dalam mengukur biaya riilnya. Faktor-faktor seperti kerusakan lingkungan, biaya kemanusiaan, dan dampak psikologis terhadap prajurit seringkali sulit diukur secara kuantitatif, namun tetap menjadi bagian integral dari total ongkos sebuah konflik. Dengan terus berlanjutnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, isu mengenai biaya perang AS melawan Iran ini akan tetap menjadi topik yang relevan dan memerlukan kajian lebih mendalam.











