Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan intervensi drastis terhadap pasar bahan bakar minyak di negaranya. Di tengah lonjakan harga bensin yang kian membebani masyarakat akibat dampak geopolitik perang AS-Israel melawan Iran, Trump mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh pengecer BBM di seluruh penjuru Amerika untuk segera menurunkan harga jual mereka. Langkah ini diambil sebagai respons atas keluhan publik terkait kenaikan biaya hidup yang dianggap sudah tidak terkendali.
Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump memberikan peringatan keras kepada para pelaku usaha sektor energi. Ia menekankan bahwa tidak ada toleransi bagi praktik penetapan harga ilegal atau yang dikenal dengan istilah gouging. Trump bahkan mengancam akan adanya konsekuensi hukum yang serius bagi para pemilik stasiun pengisian bahan bakar umum yang tetap mempertahankan harga tinggi di tengah situasi darurat nasional ini.
Dalam pernyataannya, Trump secara spesifik mematok target harga bensin di angka US$ 2,50 atau setara dengan Rp 40.850 per galon. Ia mendesak para pengecer untuk merespons instruksi ini dengan cepat sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat Amerika. Menurut Trump, langkah tersebut merupakan tindakan yang benar dan harus dilakukan guna meringankan beban ekonomi warga yang saat ini sedang berjuang menghadapi inflasi harga energi.
Kebijakan intervensi pasar yang dilakukan oleh Gedung Putih ini mencuat pasca-laporan dari Al Jazeera pada Selasa (30/6/2026). Gejolak harga bensin domestik di Amerika memang menjadi sorotan utama setelah konflik di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Meskipun sempat mengaku tidak terlalu ambil pusing dengan fluktuasi harga energi sebelumnya, sikap Trump kini berubah drastis dengan melakukan intervensi langsung ke pasar ritel.
Selain menekan pengecer, Trump juga melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan pajak bensin di negara bagian California. Ia mendesak otoritas setempat untuk memangkas pajak yang dinilai terlalu membebani masyarakat. Trump menuding bahwa besaran pajak di wilayah tersebut kini hampir melampaui harga produk bahan bakarnya itu sendiri. Serangan retorika ini ditujukan kepada Gubernur California, Gavin Newsom, yang dikenal sebagai salah satu lawan politik utama Trump dari Partai Demokrat, terutama terkait isu transisi energi dan ambisi netral karbon.
Langkah konkret lainnya yang diambil pemerintahan Trump adalah menggunakan kewenangan darurat untuk mengaktifkan kembali pipa minyak di California. Infrastruktur pipa tersebut diketahui telah ditutup sejak tahun 2015 setelah mengalami insiden kebocoran massal. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mendongkrak pasokan bahan bakar domestik secara cepat guna menstabilkan harga di tingkat konsumen.
Tidak hanya menyasar pengecer skala kecil, Trump juga telah mengambil langkah tegas terhadap korporasi minyak raksasa. Pada pekan lalu, ia secara resmi memerintahkan Departemen Kehakiman atau DOJ untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap perusahaan minyak besar. Trump menuding korporasi-korporasi ini melakukan praktik pemerasan terhadap pelanggan karena enggan menurunkan harga di pompa bensin, padahal biaya pengadaan minyak mentah di pasar dunia sudah anjlok pasca-adanya perundingan damai.
Trump menegaskan bahwa penurunan harga minyak mentah di pasar global seharusnya diikuti dengan penurunan harga yang setara di tingkat konsumen. Menurutnya, harga minyak dunia sudah turun seperti batu, namun perusahaan minyak besar terkesan menahan harga untuk meraup keuntungan berlebih dari masyarakat. Investigasi dari Departemen Kehakiman diharapkan mampu membongkar apakah terdapat pelanggaran atau kesengajaan dalam mempertahankan harga tinggi tersebut.
Di balik langkah berani ini, banyak pengamat politik menilai bahwa manuver Trump sangat erat kaitannya dengan persiapan menghadapi pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Isu ekonomi dan kenaikan biaya hidup menjadi salah satu topik paling sensitif bagi pemilih di AS. Tekanan politik yang dilakukan oleh Trump menjadi upaya nyata untuk menunjukkan kepada publik bahwa pemerintah hadir untuk melindungi kepentingan rakyat di tengah krisis ekonomi.
Meski Trump terus meyakinkan publik bahwa harga bahan bakar akan segera merosot tajam setelah konflik di Timur Tengah benar-benar berakhir, sejumlah pakar ekonomi memiliki pandangan berbeda. Beberapa ahli justru menyanggah klaim optimis tersebut dengan memprediksi adanya dampak inflasi jangka panjang yang jauh lebih berat bagi ekonomi Amerika Serikat. Mereka khawatir bahwa intervensi pasar yang dilakukan secara sepihak justru dapat mengganggu mekanisme ekonomi dan stabilitas pasokan energi dalam jangka panjang.
Situasi di Amerika Serikat saat ini menjadi potret ketegangan antara kebijakan populis pemerintah dengan realitas pasar energi global. Dengan adanya instruksi dari Gedung Putih, para pelaku usaha kini berada di bawah pengawasan ketat, baik dari pemerintah pusat maupun otoritas penegak hukum. Fokus utama saat ini tetap pada upaya menekan harga di tingkat stasiun pengisian bahan bakar agar beban masyarakat dapat segera berkurang sebelum memasuki periode krusial menjelang pemilihan umum mendatang.
Perkembangan ini masih akan terus dipantau, mengingat dampak dari perang di Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas sangat sulit diprediksi secara pasti. Bagi Trump, keberhasilan menurunkan harga bensin akan menjadi modal politik yang sangat berharga. Namun, bagi para pelaku industri minyak dan pakar ekonomi, kebijakan ini menyisakan pertanyaan besar mengenai efektivitas jangka panjang dan potensi risiko terhadap ketahanan pasokan energi nasional Amerika Serikat di masa depan.











