Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan militer negaranya akan tetap berada di Lebanon selatan "selama diperlukan", meski ada kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dan Iran. Keputusan ini memicu respons keras dari Iran, yang memperingatkan Israel akan dipaksa mundur dengan kehinaan jika tidak menarik pasukannya.
Netanyahu menyatakan komitmen Israel untuk mempertahankan zona keamanan di Lebanon selatan demi melindungi warga di wilayah utara dan seluruh masyarakat Israel. "Tidak ada yang akan mengubah komitmen tersebut," tegasnya pada Minggu (21/6). Sikap ini diambil di tengah klaim Israel bahwa kampanye militer gabungan dengan Amerika Serikat telah berhasil memberikan pukulan telak terhadap Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Netanyahu meyakini pukulan tersebut dapat menciptakan kondisi keruntuhan rezim Iran, yang ia sebut sebagai "kemenangan yang sesungguhnya".
Selain itu, Netanyahu kembali menekankan tekad Israel untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, terlepas dari perkembangan politik regional. "Selama saya menjabat sebagai perdana menteri Israel, hal itu tidak akan terjadi," ujarnya, mengutip AFP. Ia mengklaim bahwa perang di Timur Tengah telah mencapai tujuan utamanya, yaitu menggagalkan rencana Iran untuk memiliki bom atom yang berpotensi memusnahkan Israel. Menurutnya, tanpa tindakan Israel, Iran sudah seharusnya memiliki senjata nuklir dan menggunakannya.
Netanyahu juga merinci klaim efektivitas militer Israel dalam operasinya di Lebanon, khususnya dalam menghadapi Hizbullah. Ia menyebutkan bahwa rasio korban di lapangan menunjukkan lima teroris Hizbullah tewas untuk setiap satu warga sipil yang terdampak, sebuah rasio yang ia klaim belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa Israel berperang melawan Hizbullah, bukan melawan negara Lebanon. "Ketika proksi Iran itu tidak lagi menjadi ancaman, ketika organisasi itu dibongkar dan dilucuti senjatanya, maka ya, kita akan memiliki perdamaian dengan Lebanon, dan saya menantikan untuk menandatangani perjanjian tersebut," katanya.
Menanggapi sikap Israel, Komandan pasukan elite Al Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Esmail Qaani, mengeluarkan peringatan keras. Ia mendesak Israel untuk segera menarik pasukannya dari Lebanon selatan, menyamakan situasi dengan penarikan tanpa syarat yang terjadi pada tahun 2000. Qaani memperingatkan bahwa jika Israel terus melanjutkan "agresi dan pendudukannya", mereka akan dipaksa keluar dari Lebanon dalam keadaan "terhina dan kalah".
"Jika kalian tidak meninggalkan Lebanon selatan dengan kaki kalian sendiri, maka epos tahun 2000 akan terulang kembali. Tahun ketika kalian melarikan diri dari tanah ini dengan penuh kehinaan," ujar Qaani seperti dikutip media pemerintah Iran, Press TV. Ia menekankan bahwa pilihan ada di tangan Israel.
Penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan pada 25 Mei 2000, setelah 22 tahun pendudukan, diperingati di Lebanon sebagai Hari Pembebasan. Momen tersebut dianggap sebagai kemenangan penting bagi perlawanan Lebanon terhadap kehadiran militer Israel dan menjadi bagian krusial dalam sejarah konflik Israel-Lebanon. Keputusan Israel untuk tetap bertahan di wilayah tersebut, terlepas dari kesepakatan internasional, kembali memanaskan tensi di kawasan yang selama ini dilanda ketidakstabilan. Pernyataan Netanyahu yang juga menyinggung potensi keruntuhan rezim Iran menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika geopolitik regional yang melibatkan kekuatan besar dan aktor non-negara. Situasi ini mengindikasikan potensi eskalasi konflik jika tuntutan Iran tidak dipenuhi dan Israel tetap pada pendiriannya.











