Spanyol: Kuda Hitam Piala Dunia 2026, Pertahankan Prestasi Gemilang Lewat Benteng Pertahanan Kokoh

Danu Eko

New Jersey – Spanyol berpeluang besar merengkuh gelar Piala Dunia kedua mereka di edisi 2026. Perjalanan impresif tim Matador sejauh ini tak lepas dari pertahanan baja yang belum tertembus. Mereka kini hanya berjarak tiga kemenangan dari final yang akan digelar di New Jersey pada 19 Juli.

Kekuatan Spanyol di masa lalu identik dengan "tiki-taka" yang memukau dunia pada 2010. Ditenagai gelandang brilian seperti Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, serta ketajaman David Villa, mereka menjadi salah satu tim paling ikonik dalam sejarah turnamen. Dengan fondasi kuat dari Barcelona dan taktik jitu Vicente del Bosque, mereka meraih gelar perdana setelah mengalahkan Belanda 1-0 di final.

Kini, Spanyol kembali menunjukkan taringnya. Kemenangan 1-0 atas Portugal di babak 16 besar menjadi bukti nyata. Gol tunggal Mikel Merino memastikan langkah Spanyol ke perempat final, mengingatkan pada capaian mereka di Cape Town 16 tahun silam. Namun, kali ini, kunci kesuksesan Spanyol tampaknya terletak pada soliditas pertahanan, bukan semata lini serang.

"Tim ini tahu cara bersaing," ujar pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Sport. "Mereka adalah kelompok yang berkomitmen, semua berpikir sama."

Semangat "Solidaritas, kerja keras, pengorbanan" menjadi mantra pelatih Luis de la Fuente. Spanyol memiliki barisan penyerang dan gelandang yang mumpuni. Mikel Oyarzabal telah mencetak 17 gol dalam 17 penampilan terakhirnya. Wonderkid berusia 18 tahun, Lamine Yamal, kembali bugar. Pedri terus mengendalikan lini tengah, didukung Rodri, pemenang Ballon d’Or 2024.

Namun, fondasi utama tantangan Piala Dunia kali ini dibangun di lini pertahanan. Tim asuhan De La Fuente ini berhasil mencapai perempat final tanpa kebobolan satu gol pun. Mereka menjadi satu-satunya tim yang belum pernah ditembus gawangnya di turnamen ini.

Spanyol mencetak rekor baru sebagai tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mampu mencatat enam pertandingan beruntun tanpa kebobolan. Rekor sebelumnya dipegang oleh Italia (1990) dan Swiss (2006-2010). Mereka telah bermain selama 10 jam dan 9 menit tanpa kebobolan, terhitung sejak hasil imbang tanpa gol melawan Maroko di babak 16 besar Piala Dunia 2022.

"Ini adalah hasil kerja kolektif – soliditas pertahanan yang luar biasa," kata De La Fuente seusai kemenangan atas Portugal. "Ada solidaritas, kerja keras, pengorbanan, dan semua orang berlari untuk satu sama lain. Setiap ide sepak bola hadir dengan sangat jelas, tetapi yang indah adalah sikap para pemain ini, mereka berkomitmen pada tujuan."

Kekokohan pertahanan Spanyol dimulai dari kiper Unai Simon. Ia terus mengukir sejarah dengan rekor 609 menit tanpa kebobolan di Piala Dunia, melampaui Walter Zenga (517 menit) dan Iker Casillas (476 menit). Simon berhasil menahan gempuran Cristiano Ronaldo dan rekan-rekannya di Dallas.

"Portugal mendominasi sebagian besar pertandingan, tetapi Rafael Leao tidak memberikan percikan ekstra, begitu juga pemain pengganti lainnya," nilai Balague. "Spanyol bertahan dengan jumlah pemain yang banyak dan secara kolektif. Mereka bekerja keras dari belakang. Jadi kami tidak memerlukan penyelamatan ajaib dari Simon."

Di depan Simon, duet Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi menjadi tembok kokoh di jantung pertahanan. Pedro Porro dan Marc Cucurella memberikan lebar dari posisi bek sayap. Duet Laporte dan Cubarsi dinilai sempurna untuk gaya bermain Spanyol dalam mengalirkan bola dan bertahan dengan ruang di belakang.

Perjalanan Spanyol sejak juara 2010 memang tidak selalu mulus. Meski mempertahankan Euro 2012, kiprah mereka di Piala Dunia berikutnya minim prestasi. Namun, kini, sebagai juara Eropa, Spanyol memiliki skuad yang dinilai mampu kembali mengukir sejarah di kancah sepak bola dunia.

"Mereka tidak menampilkan performa terbaik, tetapi terasa ada potensi lebih besar yang bisa dikeluarkan Spanyol," ujar mantan striker Inggris, Chris Sutton. "Fakta bahwa mereka tidak kebobolan menjadi pertanda buruk bagi tim lain. Tantangan terberat mereka kemungkinan datang dari Prancis jika kedua tim memenangkan pertandingan masing-masing."

Sebelum itu, Spanyol akan menghadapi pemenang antara Amerika Serikat atau Belgia di perempat final. Mampukah benteng pertahanan Spanyol terus bertahan dan mengantar mereka meraih gelar kedua? Jawabannya akan terungkap seiring berjalannya turnamen.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All