Kasus Folarin Balogun, pemain Amerika Serikat, yang kartu merahnya dianulir menjelang laga krusial Piala Dunia, memicu kontroversi besar. Keputusan FIFA ini menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi badan sepak bola dunia tersebut dan berpotensi menggoyahkan kepemimpinan Presiden Gianni Infantino.
Balogun, yang menjadi andalan lini serang AS dengan tiga gol sejauh ini, seharusnya absen dalam pertandingan babak 16 besar melawan Belgia akibat akumulasi kartu. Namun, FIFA secara tak terduga mengizinkannya bermain, sebuah keputusan yang melanggar aturan FIFA sendiri mengenai banding kartu merah.
Kejanggalan ini semakin mencuat ketika Presiden AS Donald Trump mengaku terlibat. Ia menyatakan telah meminta peninjauan atas sanksi Balogun. Meskipun Trump menegaskan tidak memerintahkan pembatalan larangan, intervensi politik dalam keputusan teknis olahraga menjadi sorotan tajam.
Tindakan FIFA ini menuai kritik keras. Mantan pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, menyebutnya "kegilaan" jika Trump dan Infantino mengatur masalah ini. Ia menekankan bahwa keputusan tersebut mempertanyakan segala aspek dalam sepak bola.
Aturan FIFA sendiri melarang campur tangan politik. Sejumlah negara pernah disanksi karena intervensi pemerintah dalam federasi sepak bola nasional. Namun, dalam kasus Balogun, muncul persepsi bahwa aturan tersebut tidak berlaku sama.
Intervensi ini terjadi di tengah hubungan dekat antara Infantino dan Trump. Keduanya pernah terlihat bersama, bahkan Trump dianugerahi FIFA Peace Prize. Laporan sebelumnya dari kelompok hak asasi manusia FairSquare juga menuduh Infantino melanggar netralitas politik FIFA terkait pemberian penghargaan tersebut.
Kontroversi ini bukan yang pertama kali menghampiri kepemimpinan Infantino. Penyelenggaraan Piala Dunia 2030 dan 2034 yang dinilai tidak transparan, serta pembentukan Club World Cup yang dinilai tanpa dialog, juga menuai kritik. Sepp Blatter, mantan presiden FIFA yang tersandung skandal korupsi, bahkan berkomentar bahwa "sepak bola tidak boleh menjadi arena kekuasaan politik."
UEFA, badan sepak bola Eropa, menyatakan FIFA telah "melampaui batas merah" dengan keputusan Balogun. UEFA bahkan sempat melakukan walk-out dalam Kongres FIFA saat Infantino terlambat hadir setelah melakukan tur diplomatik dengan Trump.
Meski demikian, posisi Infantino di FIFA masih kokoh. Program FIFA Forward yang didanai oleh turnamen besar seperti Piala Dunia, telah membantu pengembangan sepak bola di banyak negara. Perluasan format Piala Dunia menjadi 48 tim juga membuka peluang bagi negara-negara berkembang.
Secara matematis, Infantino memiliki dukungan suara yang cukup untuk terpilih kembali. Konfederasi Amerika Selatan (Conmebol), Afrika (CAF), dan Asia (AFC) telah menyatakan dukungan penuh. Dengan 111 suara yang sudah di tangan, jalan Infantino menuju pemilihan presiden berikutnya tampaknya mulus, kecuali terjadi "sesuatu yang benar-benar luar biasa."











