Loh Kean Yew akhirnya mengukir sejarah di Singapore Open. Setelah bertahun-tahun berjuang di turnamen kandangnya, sang juara dunia 2021 ini berhasil menembus final, sebuah pencapaian yang telah lama dinantikan oleh publik Singapura. Kemenangannya di semifinal atas Koki Watanabe dari Jepang pada Sabtu malam (waktu setempat) tidak hanya mengakhiri penantian 24 tahun untuk seorang finalis tunggal putra Singapura, tetapi juga membawa impian kejayaan di tanah sendiri semakin dekat.
Ribuan penonton yang memadati Singapore Indoor Arena menyaksikan langsung momen bersejarah ini. Loh Kean Yew, yang merupakan idola tuan rumah, membuktikan ketangguhannya dengan kemenangan tiga gim atas Watanabe, dengan skor 21-15, 15-21, dan 21-9. Pencapaian ini menjadikannya finalis tunggal putra pertama sejak Ronaldo Susilo di tahun 2002. Namun, untuk menemukan juara tunggal putra Singapura sebelumnya, kita harus kembali ke tahun 1962 saat Wee Choon Seng meraih gelar. Sejak itu, generasi demi generasi penggemar bulu tangkis Singapura telah menanti lahirnya kembali seorang juara dari negeri sendiri.
Tahun ini, Loh Kean Yew tiba di Singapore Open dengan membawa beban sejarah tersebut, namun ia mengaku kali ini tidak lagi merasakan beratnya ekspektasi. Setelah bertahun-tahun berjuang di bawah sorotan publik di tanah kelahirannya, pemain peringkat dunia ke-14 ini mengungkapkan bahwa beberapa faktor, termasuk cedera dan peluncuran lini dagangannya sendiri, justru membantunya mengalihkan fokus. "Tahun ini saya punya pengalih perhatian yang cukup baik," ujarnya sambil tertawa. "Saya sempat cedera dan itu mungkin sedikit mengurangi ekspektasi. Saya juga mengurus dagangan saya, memikirkan itu cukup banyak."
Pertandingan semifinal melawan Koki Watanabe sempat diwarnai ketegangan ketika Loh Kean Yew kehilangan gim kedua. Namun, di gim penentu, ia menunjukkan mental baja yang luar biasa. Berawal dari kedudukan imbang 4-4, Loh Kean Yew tak terbendung. Ia terus berjuang keras, poin demi poin, hingga akhirnya mengunci kemenangan. "Saya hanya mengatakan pada diri sendiri untuk terus menggigit dan berjuang," ungkap Loh Kean Yew. "Kami berdua cukup lelah dengan intensitas tinggi. Saya hanya terus mengatakan pada diri sendiri untuk berjuang satu poin demi satu poin." Momentum kebangkitannya terlihat jelas ketika ia berhasil meraih enam poin beruntun dari kedudukan 14-6. Poin terakhir yang memastikan kemenangannya bahkan diraih setelah melakukan tantangan (challenge) yang berhasil.
Kini, Loh Kean Yew selangkah lagi dari gelar impiannya. Di final, ia akan berhadapan dengan wakil Prancis, Alex Lanier. Rekor pertemuan head-to-head saat ini sedikit berpihak pada Lanier, yang memimpin dengan 2-1. Namun, satu-satunya kemenangan Loh Kean Yew atas Lanier terjadi di arena yang sama, tepat setahun lalu, dan juga melalui pertarungan tiga gim, mirip dengan sebagian besar pertandingan yang ia lalui di turnamen kali ini.
Ketika ditanya apakah perjalanan menuju final kali ini terasa mirip dengan saat ia menjuarai Kejuaraan Dunia, Loh Kean Yew dengan cepat menepis perbandingan tersebut. "Tidak, tidak," katanya dengan tegas. "Saya masih punya satu pertandingan lagi besok." Pernyataannya tersebut menegaskan bahwa ia sepenuhnya fokus pada pertandingan final yang akan datang, membiarkan sejarah menunggu satu malam lagi. Takdir tampaknya sudah mengetuk pintu mimpinya di Singapore Open.
Di sisi lain, gelaran Singapore Open 2024 juga menyajikan drama dan cerita menarik dari sektor lainnya. An Se Young dari Korea Selatan, usai mengalahkan Chen Yu Fei dari Tiongkok, mengungkapkan kondisinya yang kurang prima. "Di gim pertama, saya terlalu memaksakan diri. Jadi saya sakit kepala dan demam tinggi. Saya harap saya cepat pulih dan bisa tampil maksimal di final," ujarnya, menunjukkan perjuangan luar biasa di tengah kondisi fisik yang menantang.
Sementara itu, ganda putra India, Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty, mencetak sejarah sebagai pasangan pertama yang berhasil mengalahkan Kim Won Ho/Seo Seung Jae di tahun ini. Rankireddy menjelaskan kunci kemenangan mereka: "Mereka cukup memimpin di gim pertama. Lalu kami bangkit, ketat, satu poin di sini, satu poin di sana. Lalu siapa pun yang berani mengambil risiko."
Pasangan ganda campuran Denmark, Mathias Christiansen dan Alexandra Boje, juga menunjukkan ketangguhan mereka dengan kembali menembus final Singapore Open. Christiansen berbagi pengalamannya, "Kami punya pengalaman bagus dari tahun 2023 saat kami menang di sini. Kami memainkan arena dengan cara tertentu dan kami mencoba melakukan hal yang sama dengan aliran udara. Meskipun terkadang kami membuat kesalahan bodoh, kami tetap mencoba melakukan apa yang kami anggap benar." Pengalaman dan adaptasi terhadap kondisi arena menjadi kunci mereka untuk kembali bersaing memperebutkan gelar.
Perjalanan Loh Kean Yew di Singapore Open tahun ini tidak hanya tentang kemenangan di lapangan, tetapi juga tentang bagaimana ia mengatasi tekanan dan ekspektasi yang menyertainya sebagai bintang tuan rumah. Dukungan penuh dari publik Singapura menjadi energi tambahan yang membawanya selangkah lebih dekat untuk mewujudkan impian yang telah lama terpendam. Final Singapore Open 2024 akan menjadi saksi bisu apakah Loh Kean Yew mampu mengukuhkan namanya dalam sejarah bulu tangkis Singapura.











