Siapkan Diri Hadapi AI, Kemnaker Mulai Buka Pelatihan Digital di Balai Latihan Kerja

Emanuel

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengakui bahwa daya saing digital tenaga kerja Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain yang berada di level setara. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius di tengah masifnya disrupsi kecerdasan buatan atau AI, otomasi, dan digitalisasi yang bergerak sangat cepat.

Untuk memangkas ketertinggalan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan kini mulai mengintegrasikan pelatihan berbasis AI dan keterampilan digital ke dalam kurikulum di seluruh Balai Latihan Kerja milik pemerintah. Langkah ini diambil sebagai pelengkap atas pendidikan formal yang meski sudah mulai menerapkan materi serupa, namun hasilnya baru akan terasa dalam beberapa tahun ke depan.

Yassierli menjelaskan bahwa institusi pendidikan memang sudah merespons dengan baik terkait kebutuhan skill masa depan. Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan lulusan yang siap pakai dalam waktu dekat. Oleh karena itu, balai latihan kerja difungsikan sebagai penopang atau fasilitas pelengkap untuk mempercepat kompetensi para pekerja.

Dalam acara Economics Update CNBC Indonesia pada Jumat, 3 Juli 2026, Yassierli menekankan bahwa program ini terbuka bagi pekerja maupun calon tenaga kerja. Pelatihan tersebut dirancang agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan industri yang kian kompetitif.

Guna memastikan kualitas materi, Kemnaker menggandeng berbagai mitra industri. Sejumlah perusahaan multinasional di bidang teknologi informasi dan AI turut membantu pengembangan kurikulum hingga memberikan program Training of Trainers bagi para instruktur di kementerian. Dengan begitu, para pengajar di balai pelatihan sudah memiliki kesiapan untuk membimbing peserta.

Menurut Yassierli, penguatan keterampilan digital adalah agenda yang tidak bisa ditunda. Berdasarkan Digital Skill Competitiveness Index, posisi Indonesia memang masih berada di bawah negara-negara pembanding. Solusi konkret yang harus dilakukan pemerintah adalah melalui program peningkatan kompetensi berupa upskilling dan reskilling.

Ia menegaskan bahwa ancaman disrupsi teknologi tidak boleh hanya disikapi dengan kekhawatiran berlebihan mengenai hilangnya pekerjaan. Respon paling efektif adalah dengan terus mengasah kompetensi.

Bagi pekerja yang bidang usahanya sudah tidak lagi relevan, solusinya adalah reskilling atau pelatihan ulang. Sementara bagi mereka yang industrinya masih relevan namun terancam oleh otomasi, maka solusinya adalah upskilling untuk meningkatkan kemampuan yang sudah ada.

Yassierli menyimpulkan bahwa kunci utama untuk bertahan dan tetap produktif di era disrupsi ini hanyalah kompetensi. Inovasi yang berkelanjutan sangat bergantung pada kualitas keterampilan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi global.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All