Seruan Paus Fransiskus dari Lampedusa: Eropa Ditantang Hadapi Krisis Migran

Yohanes

Pulau Lampedusa, Italia – Di tengah laut Mediterania yang bergelora, Paus Fransiskus menyampaikan seruan mendesak kepada para pemimpin Eropa. Kunjungan bersejarahnya ke Pulau Lampedusa, Italia, pada Jumat (12/7/2025), menjadi momen penting untuk menyoroti tantangan monumental yang dihadapi benua biru dalam mengelola arus migrasi.

Paus Fransiskus menyerukan Eropa untuk bangkit menghadapi "tantangan besar" ini. Ia menekankan perlunya integrasi yang lebih baik bagi para pendatang baru. Selain itu, Paus juga meminta upaya peningkatan kondisi di negara asal mereka. Seruan ini disampaikan saat memimpin misa di pulau yang menjadi gerbang masuk puluhan ribu migran setiap tahunnya.

"Mereka yang kehilangan nyawa di laut ini adalah korban dari keputusan yang dibuat, dan keputusan yang tidak dibuat," tegas Paus. Sejak menjabat sebagai pemimpin Gereja Katolik pada Mei 2025, Paus Fransiskus secara konsisten menyuarakan dukungan bagi migran. Ia juga tak ragu mengkritik kebijakan anti-migran yang semakin mengeras.

Kunjungan Paus ini terjadi hanya dua minggu setelah Uni Eropa menyetujui aturan migrasi yang lebih ketat. Aturan tersebut memungkinkan kontrol perbatasan yang lebih kaku dan perluasan kewenangan penahanan. Fenomena ini mencerminkan tren global di mana banyak negara, termasuk Inggris dan Italia, memperketat kebijakan untuk mencegah migrasi ilegal.

Sebelumnya, Paus memulai kunjungannya dengan berziarah ke pemakaman di Lampedusa. Ia berdoa di makam para migran yang tewas dalam perjalanan berbahaya dari Afrika melintasi Mediterania menuju Eropa. Ia juga berdiri di depan monumen "Pintu Eropa" yang didedikasikan bagi mereka yang gugur saat mencoba menyeberangi lautan. Paus juga menyempatkan diri berbicara dengan salah satu keluarga migran.

"Dari sudut Eropa yang terpencil di Laut Mediterania ini, tantangan besar yang ditimbulkan fenomena migrasi terhadap masyarakat Eropa dapat dilihat dengan lebih jelas," ujar Paus kepada umat Katolik di pulau tersebut.

Ia menambahkan, "Eropa mampu mengatasi krisis di wilayah ini secara komprehensif. Ini mencakup integrasi upaya bantuan segera ke dalam rencana strategis jangka panjang yang mampu menerima, melindungi, mendukung, dan mengintegrasikan migran." Paus juga menekankan pentingnya membantu negara-negara berkembang agar tidak ada seorang pun yang terpaksa beremigrasi.

Pulau Lampedusa, yang terletak sekitar 145 kilometer di lepas pantai Tunisia, menampung pusat penerimaan migran yang kini mengalami kepadatan berlebih dengan kondisi hidup yang menantang. Para migran yang melakukan perjalanan ini kerap menggunakan kapal yang tidak terawat dan penuh sesak, menjadikan penyeberangan laut semakin berbahaya.

Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB, lebih dari 1.400 orang telah tewas atau hilang saat mencoba menyeberangi Mediterania tahun ini. Angka ini termasuk 28 anak-anak.

Para migran baru, petugas penyelamat, anggota kelompok bantuan, dan Penjaga Pantai Italia turut hadir menyaksikan kedatangan Paus. "Paus terus mendampingi, mendukung, dan menyemangati Anda," kata Paus kepada kerumunan yang hadir.

"Kunjungan Paus berbicara kepada kita semua," ujar Kandeh Abdourahman, seorang migran yang tiba di Lampedusa pada 2015. Ia kini menjadi mediator budaya di International Rescue Committee. "Ini adalah pengingat bahwa kisah kita dilihat, bahwa sambutan bukan hanya kata, tetapi tindakan kemanusiaan."

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All