Sejarah Baru di Istana Negara: Presiden Belarus Jadi Tamu Negara Pertama yang Menginap

Heni Maulidya

Jakarta – Presiden Belarus Alexander Lukashenko mencatatkan sejarah baru dalam protokoler kenegaraan Indonesia. Ia menjadi kepala negara pertama yang menginap di Istana Negara selama kunjungan resmi ke Jakarta.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan hal tersebut menjelang pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Lukashenko di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/7). Menurut Sugiono, keputusan ini merupakan bentuk penghormatan khusus dari pemerintah Indonesia.

Biasanya, tamu negara yang berkunjung ke Indonesia lebih memilih untuk menginap di hotel berbintang. Namun, Lukashenko secara khusus menyampaikan keinginan untuk dapat merasakan pengalaman menginap di lingkungan Istana Kepresidenan.

Sugiono menjelaskan bahwa awalnya pihak istana mempertimbangkan Wisma Negara untuk akomodasi tersebut. Namun, Presiden Prabowo menilai bahwa Istana Negara jauh lebih representatif untuk menjamu tamu kenegaraan setingkat kepala negara.

"Presiden yang pertama menginap di Istana Negara. Kalau di Wisma Negara, tamu terakhir yang menginap di sana adalah Perdana Menteri Kamboja Hun Sen," ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan.

Kunjungan Lukashenko kali ini merupakan agenda balasan setelah sebelumnya Presiden Prabowo melakukan lawatan ke Belarus pada pertengahan Juli lalu. Pertemuan kedua pemimpin ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas kerja sama bilateral di berbagai sektor strategis.

Pemerintah Indonesia dan Belarus dijadwalkan meluncurkan roadmap hubungan bilateral yang mencakup bidang ketahanan pangan, energi, sektor pertanian, hingga pasokan bahan baku pupuk. Fokus ini diambil seiring dengan penguatan hubungan ekonomi kedua negara pasca penandatanganan perjanjian perdagangan bebas Indonesia-EAEU pada Desember 2025.

Selain agenda kenegaraan, kunjungan ini juga membawa dampak positif bagi sektor ekonomi. Sugiono menyebut forum bisnis yang digelar sebelumnya telah mencatatkan potensi kerja sama senilai kurang lebih US$500 juta atau setara dengan Rp8,9 triliun dengan asumsi kurs Rp17.979 per dolar AS.

Angka tersebut dinilai oleh kedua pemimpin negara sebagai sinyal positif yang harus terus ditingkatkan. Baik di bidang perdagangan maupun investasi, kedua negara berkomitmen untuk memaksimalkan potensi kemitraan strategis di kawasan Eurasia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga telah memaparkan minat Belarus terhadap komoditas unggulan Indonesia. Belarus tercatat meminta pasokan kakao sebesar 120 ribu ton dan 14 ribu ton minyak sawit mentah atau CPO setiap tahunnya.

Tidak hanya sebatas perdagangan komoditas, kedua negara juga tengah menjajaki kerja sama di bidang mekanisasi pertanian. Hal ini mencakup pengadaan alat mesin pertanian modern serta pertukaran transfer teknologi untuk mendukung produktivitas pangan nasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All