Jakarta – Kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, membantah keras isu yang beredar mengenai kerugian finansial sebesar Rp20 miliar yang dialami kliennya akibat perseteruan dengan mantan suami, Ruben Onsu. Kabar simpang siur ini mencuat setelah sebuah video pernyataan maaf Sarwendah yang diunggah pada awal Juni 2026 memicu beragam spekulasi publik terkait kondisi keuangan dan hubungan interpersonal pasca-perceraian mereka pada tahun 2024.
Chris Sam Siwu menegaskan bahwa klaim kerugian materi senilai Rp20 miliar tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan merupakan kabar bohong atau hoaks. "Tetapi apakah nilainya berapa? Saya pikir itu hoax lah ya 20 miliar tidak lah tidak seperti itu ya," ujar Chris saat dikonfirmasi melalui Zoom pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurut Chris, prioritas utama Sarwendah saat ini adalah kesejahteraan dan masa depan kedua buah hati mereka. Urusan materiil tidak menjadi fokus utama mantan personel grup vokal Cherrybelle tersebut. "Karena klien kami ini jujur tidak menghitung-hitung hal-hal seperti itu, yang penting satu yang dia paling sayang yaitu anak-anaknya," tegasnya.
Meski diakui ada beberapa kerja sama bisnis yang terpaksa ditunda sementara waktu hingga situasi mereda, Chris memastikan bahwa hubungan kerja Sarwendah dengan para mitra bisnisnya tetap terjalin baik. Penundaan tersebut diambil demi menghindari gejolak lebih lanjut dan agar polemik yang ada bisa segera terselesaikan.
"Ya… izin ini sebenarnya yang paling berharga buat Sarwendah cuma satu, yaitu anak-anaknya. Jadi kerugian apa pun material tidak ada artinya itu buat dia," beber Chris, menekankan betapa pentingnya peran anak-anak dalam hidup Sarwendah. Pihak keluarga pun berharap masyarakat tidak berasumsi buruk secara sepihak dan menyudutkan posisi Sarwendah dalam dinamika rumah tangga yang telah berakhir.
"Masih banyak juga kok yang bekerja sama dengan Sarwendah hanya yang sekarang terjadi mungkin semua ada beberapa yang men-hold dulu supaya masalah ini beres," terang Chris.
Di tengah badai pemberitaan dan komentar negatif dari warganet, kondisi psikologis Sarwendah dilaporkan tetap stabil dan tegar. Chris Sam Siwu menyatakan bahwa kliennya memiliki hati yang lapang dalam menerima kritik, namun di balik itu, ia juga merasakan kesedihan atas situasi yang tengah terjadi.
"Klien kami pada dasarnya cukup berbesar hati untuk menerima setiap kritik apa pun, namun di balik itu ia merasa sedih dengan situasi yang terjadi saat ini," ujar Chris Sam Siwu dalam konferensi pers virtual, Sabtu (20/6/2026).
Sarwendah kini memilih untuk memusatkan seluruh energinya guna memastikan aktivitas harian dan agenda pendidikan anak-anaknya tidak terganggu oleh polemik yang sedang berlangsung. "Klien kami dengan semua permasalahannya hanya fokus satu, yaitu tetap membahagiakan anak," kata Chris.
Ia menambahkan bahwa Sarwendah secara rutin memastikan jadwal sekolah dan kegiatan les penunjang anak-anaknya tetap terpenuhi melalui hasil kerja kerasnya sendiri. "Klien kami sekarang ini baik-baik saja dan hanya fokus untuk membahagiakan anak," tegasnya. Langkah ini diambil demi menjaga kestabilan tumbuh kembang anak-anak di tengah sorotan tajam media.
"Untuk saat ini klien kami lebih memilih fokus bekerja keras mencari nafkah dan memastikan bahwa les serta sekolah anak-anak tetap berjalan dengan normal," jelas Chris.
Sebelumnya, isi dari unggahan video klarifikasi Sarwendah pada tanggal 5 Juni 2026 memang sempat mendapatkan analisis kritis dari berbagai kalangan, termasuk para ahli interaksi sosial. Dalam video tersebut, Sarwendah mengakui bahwa potongan video yang beredar telah menimbulkan kegaduhan di media sosial.
"Sebagai manusia yang biasa, yang tidak luput dari dosa dan kesalahan, saya menyadari potongan video yang beredar tersebut sudah membuat kegaduhan di media sosial," kata Sarwendah di akun Instagramnya @sarwendah29 pada 5 Juni 2026. Ia menyadari kata-katanya tidak menunjukkan kebaikan maupun kerendahan hati, serta berharap agar permasalahan keluarga dapat diselesaikan secara internal tanpa melibatkan perhatian publik yang masif.
"Hal-hal yang seharusnya cukup diselesaikan di ruang lebih tenang, kini turut menyita perhatian dan energi dari banyak pihak," tuturnya, sembari menutup pesannya dengan doa ketabahan dan kebaikan untuk semua pihak yang terdampak.
Menanggapi video klarifikasi tersebut, psikolog Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., atau yang akrab disapa Bunda Romy, memberikan pandangan mengenai pentingnya kematangan berpikir sebelum mengunggah sesuatu ke dunia siber. Ia menekankan bahwa setiap orang yang beraktivitas di media sosial harus bijak dan melakukan pertimbangan matang agar dampaknya tidak meluas.
"Pada waktu kita main di media sosial kita harus yakin bahwa apa yang kita upload dan sebagainya itu betul-betul sesuai dengan pertimbangan yang matang. Jadi, sebagai orang yang main di dunia digital harus bijak dengan hal ini. Kalo kita enggak bijak bisa dampaknya ke mana-mana," ujar Bunda Romy. Ia menambahkan bahwa kurangnya kehati-hatian dalam bermedia sosial dapat memicu opini liar masyarakat yang tidak terkendali.
Bunda Romy juga mempertanyakan esensi permohonan maaf yang disampaikan secara terbuka kepada netizen umum, sebab masyarakat internet dinilai hanya memandang dari luar pusaran konflik yang sesungguhnya. "Kalau minta maaf ke netizen untuk apa? Mereka kan enggak disakiti atau apa?," tanyanya, seraya menduga langkah tersebut diambil sekadar untuk meredam gelombang kecaman publik digital secara instan.
Analisis serupa juga datang dari pakar mikro ekspresi, Kirdi Putra, yang menyoroti bahasa tubuh nonverbal Sarwendah saat berbicara di depan kamera. Menurutnya, apa yang ditampilkan Sarwendah lebih sebagai bentuk klarifikasi yang banyak menimbulkan pertanyaan, dan secara verbal tidak memenuhi kaidah permintaan maaf yang tulus.
"Jadi buat saya, apa yang ditampilkan oleh Sarwendah dengan yang kita katakan sebagai permintaan maaf, itu buat saya tidak lebih dari bentuk klarifikasi yang banyak sekali hal yang patut dipertanyakan. Secara verbal, kata-kata yang disampaikan Sarwendah itu tidak memenuhi kaidah sebuah permintaan maaf yang tulus," kata Kirdi Putra, dikutip dari Youtube Cumicumi.
Kirdi menambahkan, ketegangan fisik yang terlihat dari gerakan tangan Sarwendah, seperti kedua tangan yang saling menggenggam, mengindikasikan adanya kecemasan mendalam, terutama saat membahas anak-anaknya. "Dari non-verbal, perhatikan deh. Dari awal tangannya begini (kedua tangan saling menggenggam), itu salah satu pertanda bahwa dia nervous, iya wajar. Pertanyaannya, kapan dia terlihat paling gugup? Ketika dia cerita tentang anaknya, tangannya makin kencang tuh, dia takut, dia sedih, ya wajar sebagai seorang ibu nggak mau anaknya ikut terbawa-bawa," jelasnya.
Ia mengamati adanya rasa lega di akhir video, namun tanda-tanda penyesalan emosional yang mendalam kurang terlihat jelas. Kirdi menyimpulkan bahwa bagi Sarwendah, hal tersebut bisa jadi hanya sebuah basa-basi. "Menjelang akhir, tangannya sudah agak lebih santai, itu artinya dia merasa lega bahwa ini sudah lewat. Tetapi pada poin-poin penting, ketika permintaan maaf kalau dia merasa bersalah, apakah itu akan terjadi perubahan yang signifikan? jawabannya tidak. Artinya apa? Ini buat dia hanya basa-basi. Jadi targetnya dia melakukan ini apa? Kita tidak tahu," tuturnya.











