Monday, 13 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Rentan Celaka di Jalan: Ini Alasan Sebenarnya Remaja Sering Jadi Korban Kecelakaan

Oleh Muzairi M July 13, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Fenomena kecelakaan lalu lintas yang melibatkan remaja terus menjadi sorotan. Banyak yang beranggapan bahwa penyebab utamanya adalah ketidakmampuan mengemudi. Namun, pakar keselamatan berkendara menegaskan bahwa persoalan ini jauh lebih kompleks.

Menguasai teknik dasar seperti mengoperasikan gas, rem, dan kemudi semata tidak menjamin keselamatan di jalan raya. Terutama bagi para pengendara usia muda yang kerap menghadapi berbagai risiko.

Menurut Dr. Budi Santoso, seorang akademisi keselamatan berkendara, faktor dominan kerentanan remaja bukan terletak pada skill teknis semata. “Kemampuan mengemudi itu baru satu bagian kecil dari gambaran besar,” ujarnya dalam sebuah diskusi daring.

Ia menjelaskan, remaja seringkali belum matang secara emosional dan kognitif. Hal ini berdampak pada pengambilan keputusan yang impulsif. “Mereka cenderung lebih mudah terpengaruh oleh tekanan teman sebaya,” tambah Dr. Budi.

Selain itu, pengalaman berkendara yang masih minim membuat mereka kurang peka terhadap potensi bahaya. Pengamatan terhadap kondisi lalu lintas di sekitar seringkali terlewatkan. “Kurangnya antisipasi ini yang seringkali berujung pada celaka,” ungkapnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah tingkat kedewasaan dalam menyikapi aturan. Remaja mungkin masih memiliki kecenderungan untuk melanggar rambu-rambu lalu lintas. Ini bisa disebabkan oleh rasa percaya diri berlebih atau ketidakpahaman akan konsekuensi.

Data dari Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) menunjukkan bahwa usia 15-24 tahun merupakan kelompok paling rentan mengalami kecelakaan. Pada tahun 2023, tercatat ribuan kasus kecelakaan melibatkan pengendara dari rentang usia tersebut di berbagai wilayah di Indonesia.

Kepala Bagian Operasi Korlantas Polri, Kombes Pol. Ahmad Wijaya, menyatakan pentingnya edukasi berlalu lintas yang komprehensif. “Kita perlu membekali mereka tidak hanya dengan teori, tapi juga pemahaman mendalam tentang tanggung jawab di jalan,” kata Kombes Pol. Ahmad saat ditemui di Jakarta.

Edukasi tersebut harus mencakup kesadaran akan risiko, pentingnya mematuhi peraturan, serta pengembangan kemampuan antisipasi. “Ini bukan sekadar soal bisa mengemudi, tapi bagaimana menjadi pengendara yang bertanggung jawab dan selamat,” tegasnya.

Orang tua juga memegang peranan krusial dalam pembentukan karakter pengendara muda. Memberikan contoh yang baik dan mengawasi penggunaan kendaraan bermotor menjadi langkah preventif yang efektif. Diskusi terbuka mengenai bahaya dan risiko di jalan dapat membantu membentuk pola pikir yang lebih bijak.

Pihak sekolah dan instansi terkait juga diharapkan dapat bersinergi dalam menyelenggarakan program-program keselamatan berkendara. Sosialisasi rutin dan simulasi kecelakaan dapat memberikan gambaran nyata mengenai konsekuensi dari perilaku ugal-ugalan di jalan.

Dengan pendekatan yang holistik, diharapkan angka kecelakaan yang melibatkan remaja dapat ditekan secara signifikan. Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama, dan pemahaman yang utuh adalah kunci utamanya.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait