Presiden Hongaria, Tamás Sulyok, akhirnya menyetujui untuk mengakhiri masa jabatannya setelah Dewan Nasional Hongaria memberikan suara mayoritas untuk memberhentikannya. Keputusan ini diambil menjelang batas waktu yang ditetapkan pada Sabtu malam, mengakhiri spekulasi mengenai masa depan kepemimpinannya.
Langkah pemberhentian ini muncul menyusul penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran etika yang melibatkan Sulyok. Meskipun rincian lengkap mengenai tuduhan tersebut belum sepenuhnya diungkapkan kepada publik, keputusan parlemen menunjukkan adanya cukup bukti yang dianggap memberatkan oleh mayoritas anggota.
Tamás Sulyok, yang secara luas dianggap sebagai sosok yang loyal kepada Perdana Menteri Viktor Orbán, telah menjabat sebagai presiden sejak Maret 2024. Masa jabatannya yang relatif singkat ini diwarnai oleh kontroversi yang berujung pada pemungutan suara untuk pemberhentiannya.
Sebelumnya, pada 10 April 2024, Parlemen Hongaria telah memilih untuk memulai proses pemberhentian presiden. Pemungutan suara tersebut menunjukkan dukungan mayoritas dari partai-partai yang berkuasa. Laporan dari sumber-sumber berita menyebutkan bahwa Sulyok memiliki waktu hingga Sabtu malam untuk memberikan tanggapannya, yang kini telah berujung pada persetujuannya untuk mundur.
Keputusan Sulyok untuk mengundurkan diri ini menjadi penutup dari babak yang penuh ketegangan politik di Hongaria. Latar belakang Sulyok sebagai seorang ahli hukum dan mantan hakim Mahkamah Konstitusi sempat diharapkan membawa stabilitas dalam jabatannya. Namun, tuduhan pelanggaran etika yang muncul kemudian mengubah dinamika tersebut.
Dengan mundurnya Tamás Sulyok, Hongaria kini dihadapkan pada kebutuhan untuk menunjuk presiden baru. Proses ini diperkirakan akan kembali melibatkan manuver politik dari partai-partai yang ada, mengingat peran presiden, meskipun seremonial, tetap memiliki signifikansi simbolis dalam tata kelola negara.
