Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, mengungkapkan bahwa baik timnya maupun timnas Inggris memiliki keengganan yang sama untuk memperebutkan posisi ketiga di Piala Dunia 2026. Menurut Deschamps, kedua tim tersebut cenderung merasa kurang termotivasi untuk menghadapi pertandingan perebutan tempat ketiga setelah gagal melaju ke final.
Deschamps secara terbuka menyatakan bahwa semangat juang untuk memperebutkan peringkat ketiga seringkali menurun drastis bagi tim yang sudah tereliminasi dari persaingan gelar juara. “Kami tidak memiliki keinginan yang sama untuk pertandingan perebutan peringkat ketiga,” ujar Deschamps, seolah mewakili perasaan timnya dan juga Inggris. Ia menambahkan bahwa fokus utama tim adalah pencapaian gelar juara, dan ketika hal itu tidak tercapai, motivasi untuk pertandingan semi-final atau perebutan tempat ketiga akan berbeda.
Pernyataan Deschamps ini menyoroti fenomena umum dalam dunia sepak bola, di mana pertandingan perebutan peringkat ketiga seringkali dianggap kurang prestisius dibandingkan dengan partai final. Para pemain dan pelatih biasanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan emosi untuk mencapai puncak, sehingga kekecewaan karena gagal di semifinal atau perempat final dapat memengaruhi antusiasme mereka di laga pamungkas yang hanya memperebutkan predikat terbaik ketiga.
Meskipun demikian, Deschamps tetap menekankan pentingnya profesionalisme dalam setiap pertandingan yang dijalani timnas Prancis. Ia sadar bahwa sebagai perwakilan negara, setiap pertandingan harus tetap dijalani dengan serius dan memberikan yang terbaik bagi para pendukung. Namun, ia tidak menampik bahwa secara psikologis, motivasi untuk pertandingan perebutan peringkat ketiga memang tidak sebesar ketika memperebutkan trofi.
Lebih lanjut, Deschamps mengindikasikan bahwa ketidakantusiasan ini bukan hanya dirasakan oleh Prancis, tetapi juga oleh tim-tim besar lainnya yang mengalami nasib serupa. Ia berargumen bahwa mentalitas juara yang telah terbangun sepanjang turnamen akan sulit dipertahankan ketika tujuan utama, yaitu menjadi juara dunia, telah pupus. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih untuk kembali membangkitkan semangat juang anak asuhnya dalam situasi seperti itu.
