Pesan Kuat Paus Leo XIV di Hari Kemerdekaan AS: Lampedusa Jadi Saksi Kepedulian pada Migran

Emanuel

Roma, Italia – Di tengah riuh peringatan 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, Paus Leo XIV memilih cara berbeda untuk merayakannya. Pada Sabtu, 4 Juli 2026, ia bertolak ke Pulau Lampedusa, Italia, sebuah titik geografis yang sarat makna dalam krisis kemanusiaan. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pesan simbolis yang tajam, terutama bagi negara asalnya dan Eropa.

Keputusan Paus yang lahir di Amerika Serikat ini untuk mendatangi Lampedusa, pulau kecil di Laut Mediterania yang lebih dekat ke Afrika daripada daratan Italia, mencuri perhatian. Ribuan migran setiap tahunnya mempertaruhkan nyawa menyeberangi laut dari Libya dan Tunisia menuju Eropa. Lampedusa telah lama menjadi simbol penderitaan mereka.

Dalam surat yang dirilis bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS, Paus Leo XIV menegaskan prinsip penting. Ia menyatakan bahwa menghormati kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada perlindungan janin. Lebih dari itu, menyambut dan melindungi para migran adalah sebuah keharusan moral. "Menerima mereka dengan belas kasih dan kemurahan hati bukan hanya tindakan amal, tetapi juga pengakuan atas martabat yang melekat pada setiap manusia," tegasnya, mengutip Reuters.

Kunjungan Paus Leo XIV ke Lampedusa menjadi pengingat kuat bahwa Amerika Serikat sendiri dibangun oleh imigran. Ia menekankan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia, terutama kelompok yang paling rentan, merupakan nilai fundamental yang seharusnya dijaga. Pesan ini relevan di saat beberapa negara menerapkan kebijakan imigrasi yang semakin ketat.

Di Lampedusa, Paus Leo XIV melakukan serangkaian kegiatan. Ia berziarah ke pemakaman migran, sebuah tempat yang menyimpan kisah pilu para pencari suaka yang tak selamat dalam perjalanan. Ia juga meresmikan plakat penghormatan bagi pendahulunya, Paus Fransiskus, di dermaga utama. Puncaknya, ia memimpin misa di alun-alun kota, mendoakan para pendatang baru dan mereka yang telah gugur di perjalanannya.

Langkah Paus Leo XIV ini mengikuti jejak Paus Fransiskus. Isu migran memang telah menjadi prioritas utama kepausan selama masa jabatan Fransiskus. Pada Juli 2013, Paus Fransiskus juga menjadikan Lampedusa sebagai tujuan kunjungan pertamanya di luar Roma. Ia bahkan melemparkan karangan bunga ke laut sebagai simbol duka bagi para migran yang tewas. Saat itu, ia mengecam "globalisasi sikap tidak peduli" terhadap penderitaan pengungsi.

Salvatore Sortino, Kepala Misi Italia dan Malta untuk Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), mengakui adanya penurunan kedatangan migran melalui rute Mediterania tengah tahun ini. Namun, ia menambahkan, angka korban jiwa justru masih tinggi secara proporsional. "Itu menunjukkan kerentanan yang masih tetap ada. Karena itu, kunjungan paus ke tempat semua ini terjadi menjadi pengingat yang sangat penting," katanya.

Data IOM mencatat lebih dari 35.000 migran dilaporkan hilang atau meninggal di Laut Mediterania sejak 2014. Angka ini diperkirakan jauh lebih besar mengingat banyaknya insiden kapal karam yang tidak tercatat. Sementara itu, Komite Penyelamatan Internasional (IRC) memperkirakan sekitar 118 juta orang di seluruh dunia mengalami pengungsian paksa tahun ini.

Kunjungan Paus Leo XIV juga terjadi di saat Uni Eropa baru saja menerapkan aturan migrasi baru. Kebijakan ini bertujuan mempercepat proses pemeriksaan di perbatasan dan pemulangan pencari suaka yang ditolak. Namun, aturan ini menuai kritik dari kelompok pembela hak asasi manusia karena dinilai berpotensi mengurangi hak untuk memperoleh perlindungan internasional.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All