PT Pertamina (Persero) menargetkan ekspansi signifikan dalam penyediaan bahan bakar ramah lingkungan dengan memperluas implementasi pencampuran bioetanol 5% (E5) pada Pertamax Green (RON 95) ke enam kota besar di Indonesia pada tahun 2026. Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung program hilirisasi energi nasional dan memperkuat ketahanan energi berkelanjutan.
Rencana ambisius ini terungkap dalam pertemuan antara jajaran direksi Pertamina dengan Kepala Badan Pengawas Usaha Milik Negara (BP BUMN) yang juga menjabat sebagai COO Danantara, Dony Oskaria, di Jakarta pada Rabu, 17 Juni 2026. Selain fokus pada perluasan Pertamax Green E5, pertemuan tersebut juga membahas percepatan pengembangan bioavtur, jenis bahan bakar pesawat yang juga memanfaatkan sumber energi terbarukan.
Dalam pertemuan tersebut, Dony Oskaria secara tegas mendorong Pertamina untuk mempercepat realisasi proyek-proyek strategis di lapangan. Dorongan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai wujud nyata dukungan terhadap agenda hilirisasi energi yang menjadi prioritas pemerintah. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dampak ganda, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga lingkungan.
Akun Instagram resmi BP BUMN, @bumn_id, pada Rabu (17/6/2026), mengonfirmasi bahwa rapat kali ini secara khusus membahas implementasi dua proyek hilirisasi fase pertama, yaitu bioetanol dan bioavtur. Keberhasilan dalam tahap awal menjadi modal penting untuk melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih luas.
Sebagai bukti konkret kemajuan di lapangan, hingga Juni 2026, Pertamina telah berhasil mengoperasikan sebanyak 178 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menyediakan Pertamax Green dengan kandungan bioetanol 5% untuk jenis RON 95. Keberhasilan ini akan segera diikuti dengan perluasan implementasi E5 untuk bahan bakar dengan RON 92, yang dikenal sebagai Pertamax, yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan Juli 2026.
Perluasan ini menandakan komitmen Pertamina untuk semakin mendekatkan produk bahan bakar ramah lingkungan kepada masyarakat. Dengan ketersediaan yang lebih luas, diharapkan konsumsi bahan bakar fosil dapat mulai dikurangi secara bertahap, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan energi terbarukan.
Melalui sinergi yang terjalin antara BP BUMN, Danantara, dan Pertamina, percepatan proyek hilirisasi energi ini diupayakan tidak hanya untuk menghasilkan manfaat finansial bagi perusahaan dan negara, tetapi juga memiliki tujuan strategis yang lebih besar. Salah satunya adalah menekan angka impor bahan bakar jenis gasoline (bensin) yang selama ini menjadi beban defisit perdagangan Indonesia.
Selain itu, pengembangan industri bioetanol dan bioavtur ini juga diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Proses produksi yang melibatkan petani tebu atau sumber biomassa lainnya, hingga pengolahan di pabrik, akan menciptakan multiplier effect yang positif terhadap perekonomian daerah dan nasional.
Lebih jauh lagi, inisiatif ini berkontribusi signifikan dalam membangun ketahanan energi nasional yang berkelanjutan. Dengan mengurangi ketergantungan pada pasokan energi fosil yang semakin menipis dan fluktuatif harganya, Indonesia dapat memiliki kemandirian energi yang lebih kokoh di masa depan.
Implementasi Pertamax Green E5 merupakan bagian dari upaya Pertamina untuk terus berinovasi dalam penyediaan produk energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Bioetanol, sebagai komponen pencampur, umumnya berasal dari sumber nabati seperti tebu atau jagung, yang merupakan sumber daya terbarukan. Penggunaan bioetanol dalam bahan bakar tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai tambah produk pertanian dalam negeri.
Sejalan dengan target global untuk transisi energi, langkah Pertamina ini menempatkan Indonesia pada jalur yang benar untuk mencapai target bauran energi terbarukan. Pengembangan bioavtur untuk sektor penerbangan juga menjadi sorotan penting, mengingat sektor ini memiliki jejak karbon yang cukup besar. Percepatan pengembangan bioavtur diharapkan dapat memberikan solusi emisi yang lebih ramah lingkungan bagi transportasi udara di masa depan.
Keputusan untuk memperluas Pertamax Green E5 ke enam kota besar menunjukkan strategi Pertamina untuk menjangkau pasar yang lebih luas dan mendapatkan respon pasar yang lebih komprehensif. Evaluasi terhadap 178 SPBU yang telah menjual Pertamax Green E5 menjadi tolok ukur keberhasilan awal dan dasar untuk pengambilan keputusan ekspansi lebih lanjut. Keberhasilan ini juga bergantung pada penerimaan konsumen terhadap produk baru ini, baik dari segi performa mesin maupun harga.
Pertamina terus berupaya menghadirkan solusi energi yang inovatif dan berkelanjutan. Komitmen terhadap hilirisasi sumber daya alam domestik dan pengembangan energi terbarukan menjadi pilar utama dalam strategi perusahaan untuk menghadapi tantangan energi global dan regional. Perluasan Pertamax Green E5 ini diharapkan menjadi langkah awal yang monumental dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan energi yang lebih hijau dan mandiri.











