Manchester City telah mencapai kesepakatan sensasional untuk merekrut gelandang Nottingham Forest, Elliot Anderson, dengan biaya transfer yang memecahkan rekor Inggris. Klub berjuluk The Citizens menyetujui mahar sebesar £116 juta pada 25 Juni 2026, menjadikannya pemain Inggris termahal dalam sejarah sepak bola. Transfer ini menandai puncak perjalanan karier yang luar biasa bagi Anderson, yang kini menjadi simbol era baru di Etihad Stadium.
Perjalanan Anderson menuju status pemain elit dimulai jauh sebelum kesepakatan fantastis ini. Di Bristol Rovers, tempat ia dipinjamkan, rekan-rekan setimnya berebut untuk berada di timnya dalam sesi latihan lima lawan lima. Mereka tahu betul bahwa keberadaan Anderson menjamin kemenangan, sebuah bukti nyata keunggulannya bahkan di usia remaja. Anderson kemudian menjadi bagian integral dari promosi klub ke League One, sebuah langkah awal yang krusial dalam kariernya.
Namun, periode pinjaman di Rovers bukanlah awal dari kenaikan yang mulus tanpa hambatan. Sekembalinya ke klub masa kecilnya, Newcastle United, Anderson justru kesulitan mendapatkan tempat di tim utama. Skuad The Magpies kala itu dipenuhi gelandang-gelandang berbakat, membuatnya harus berjuang keras. Pada akhirnya, kontribusi utamanya di St James’ Park lebih banyak terkait statusnya sebagai pemain binaan klub.
Status "homegrown" ini membantu Newcastle menghindari penalti finansial ketika ia dijual ke Nottingham Forest pada tahun 2024. Kesepakatan tersebut secara efektif menilai Anderson seharga £15 juta. Di City Ground, markas Nottingham Forest, bakatnya mulai benar-benar terasah. Ia berhasil memantapkan dirinya sebagai salah satu gelandang terbaik di Inggris, sebuah fakta yang mungkin menyakitkan bagi para penggemar Newcastle.
Kini, Anderson menjadi pilar pertama yang tiba di era baru Manchester City, menyusul bayang-bayang berakhirnya dominasi Pep Guardiola. Di bawah arahan Enzo Maresca, Anderson diharapkan menjadi gelandang "all-action" yang agresif dalam tekel dan impresif saat menguasai bola. Selain kemampuan teknisnya, kebugaran Anderson adalah karakteristik penting yang membedakannya.
Ia dikenal jarang absen dalam pertandingan. Musim ini, ia menjadi starter di semua pertandingan liga Forest kecuali satu, dan masuk sebagai pemain pengganti di laga lainnya. Total, ia mencatatkan 3.334 menit dari kemungkinan 3.420 menit bermain, secara efektif bermain lima pertandingan lebih banyak daripada gelandang Manchester City yang paling sering dimainkan, Bernardo Silva. Dalam jadwal padat empat kompetisi yang akan dijalani City, ketersediaan pemain akan menjadi faktor krusial.
Anderson dan rekannya di timnas Inggris, Declan Rice, menjalani jadwal yang serupa dalam dua bulan terakhir. Keduanya melaju jauh di kompetisi Eropa dan harus berjuang hingga akhir di liga domestik. Namun, di Piala Dunia, Anderson terlihat lebih bugar dan mobil. Ini bukan kritik terhadap Rice, yang mengatakan bahwa ia telah mengelola nyeri saraf di hamstring sejak Natal, melainkan pujian atas kebugaran pemain yang meninggalkan Forest tersebut.
Manchester City memang membutuhkan penguatan di lini tengah, terutama mengingat masa depan Rodri yang tidak pasti dan masalah kebugaran yang dialaminya belakangan ini. Nico González belum sepenuhnya meyakinkan, dan Mateo Kovacic juga sering absen karena cedera. Anderson lebih tangguh dari ketiga pemain tersebut. Ia berhasil memenangkan 297 duel dan melakukan intersep operan dengan tingkat yang lebih tinggi daripada gelandang City mana pun, menjadikannya aset fantastis untuk merebut kembali penguasaan bola.
Meskipun Forest, yang terlibat dalam perjuangan degradasi, bermain lebih defensif daripada City, kemampuan Anderson dalam memenangkan bola akan sangat penting. Terutama bagi seorang pelatih seperti Maresca yang menyukai permainan menyerang dan agresif dalam menekan lawan. Ketika Rodri absen, tidak ada individu yang mampu mengisi perannya secara penuh, memaksa Guardiola untuk mengubah taktik guna menjaga efektivitas tim, seringkali dengan memainkan dua pemain yang lebih bertahan untuk memperkuat area tersebut. Dengan Anderson, ambisinya adalah agar ia menjadi satu-satunya pemain di depan empat bek, cukup cerdas untuk memposisikan diri dengan pintar dan cukup cepat untuk memadamkan ancaman.
City tidak hanya merekrut gelandang berdasarkan kemampuan bertahannya saja. Anderson dikenal gemar menggerakkan bola ke depan, memberikan umpan ke dalam kotak penalti dengan frekuensi yang lebih tinggi daripada siapa pun di City. Dengan bakat menyerang di sekelilingnya, ia diharapkan mampu melihat celah dan mengirimkan bola ke area paling berbahaya agar Erling Haaland dan pemain lain dapat memanfaatkannya. Anderson bukanlah pemain "metronom" yang hanya mencari operan termudah ke samping; ia ingin berada dalam posisi berputar dan membawa timnya maju ke depan.
Anderson adalah pesepakbola cerdas yang mampu beradaptasi posisi sesuai kebutuhan, sebuah kualitas yang menawarkan fleksibilitas yang dituntut oleh Maresca. Kemampuannya bermain sebagai gelandang bertahan (No. 6), gelandang tengah (No. 8), atau gelandang serang (No. 10) semakin membenarkan biaya transfernya yang tinggi. Pemain berusia 23 tahun itu melewati empat pelatih kepala dalam delapan bulan di Forest, dan ia adalah yang tercepat dalam memahami perbedaan taktik yang diminta oleh masing-masing pelatih. Transisi dari gaya konservatif Nuno Espírito Santo ke serangan total ala Ange Postecoglou adalah hal yang sulit, namun Anderson adalah salah satu dari sedikit pemain yang berhasil beradaptasi dengan sukses. Kapan pun Forest berada dalam situasi sulit, Anderson tanpa henti berusaha membalikkan keadaan, tidak pernah mau menerima kekalahan, dan membangkitkan semangat penonton dengan energinya.
Ia adalah seorang profesional yang tekun, terbukti dari catatan kebugarannya yang nyaris tanpa cela. Meninggalkan Newcastle adalah keputusan yang menyakitkan, namun hal itu justru membuatnya semakin bertekad untuk bersinar sebagai pemain elit. Forest memang mengetahui potensi yang mereka dapatkan, namun lintasan karier yang begitu cepat telah mengejutkan mereka. Menambah lebih banyak gol dan assist akan menjadi langkah berikutnya bagi Anderson, dan berada di klub yang lebih berorientasi menyerang seperti City diharapkan dapat lebih mengembangkan keterampilan tersebut.
Manchester City telah kehilangan sejumlah pemain senior dalam dua musim panas terakhir, seperti Kevin De Bruyne, Kyle Walker, Ilkay Gündoğan, dan Bernardo Silva. Maresca akan membutuhkan pemimpin di dalam dan luar lapangan. Meskipun rendah hati dan pendiam, Anderson menjadi contoh melalui dedikasi dan etos kerjanya. Ini adalah karakteristik penting dalam grup yang semakin muda di City. Kisah Elliot Anderson adalah ilustrasi nyata tentang bagaimana waktu bermain di lapangan dapat memengaruhi perkembangan seorang pemain. Ketika pesepakbola muda lainnya melihat kemajuan yang telah ia buat dalam dua tahun, dari sosok pinggiran di Newcastle menjadi pesepakbola Inggris termahal dan pilar di Piala Dunia, mereka akan tahu bahwa meninggalkan zona nyaman dapat membawa manfaat yang sangat besar. Bagi Anderson, hal itu telah mengubah hidupnya, dan masih banyak lagi yang akan datang.











