Friday, 10 July 2026
BREAKING
BERITA

Perang Dagang Memanas: AS Mendadak Tarik Ulur ‘Daftar Hitam’ Perusahaan Teknologi China

Oleh Emanuel June 18, 2026 3 weeks lalu 0 komentar

Amerika Serikat tiba-tiba menunjukkan sikap melunak terhadap beberapa perusahaan teknologi raksasa China, menyusul ancaman balasan yang lebih keras dari Beijing. Keputusan ini diambil setelah pemerintahan Donald Trump memasukkan sejumlah entitas China ke dalam daftar entitas yang dianggap mendukung militer negara Tirai Bambu, yang berpotensi memicu eskalasi ketegangan dagang yang lebih luas.

Pada awal Juni 2026, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD/Pentagon) merilis daftar ‘1260H’ atau ‘CMC’, yang mencakup rentetan raksasa teknologi China. Daftar ini berisi entitas yang dinilai membantu atau terlibat dengan militer China. Meskipun tidak secara langsung memberlakukan sanksi, masuk dalam daftar ini memiliki konsekuensi signifikan.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku, Pentagon dilarang melakukan kontrak langsung dengan perusahaan-perusahaan yang terdaftar. Selain itu, mulai tahun 2027, pembelian produk atau layanan mereka melalui pihak ketiga juga akan dibatasi. Langkah-langkah ini berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang besar bagi perusahaan-perusahaan China dan mitra bisnis mereka, sekaligus mengirimkan sinyal negatif kepada para pemasok Pentagon dan lembaga pemerintah AS lainnya.

Kementerian Perdagangan China merespons dengan tegas, menyatakan akan membalas dengan cara yang "tegas dan keras." Beijing mendesak pemerintahan Trump untuk menghentikan praktik-praktik yang dianggap keliru dan kembali ke jalur yang benar untuk membangun hubungan strategis yang stabil antara kedua negara.

Beberapa perusahaan teknologi terkemuka China yang masuk dalam daftar tersebut antara lain CXMT dan YMTC, yang merupakan produsen chip ternama. Sektor bioteknologi juga terdampak dengan masuknya WuXi AppTec, sementara RoboSense Technology yang mengembangkan robot berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Unitree, perusahaan robot serta humanoid terkemuka, juga turut menghiasi daftar tersebut.

AS Mendadak Melunak, Tunda Penambahan Perusahaan ke Daftar Hitam

Tak lama setelah ancaman balasan dari China, pemerintahan Trump memperlihatkan perubahan sikap yang signifikan. Namun, pelunakan ini tidak terkait langsung dengan daftar Pentagon, melainkan dengan ‘daftar hitam’ lain yang dikelola oleh Kementerian Perdagangan AS, yang dikenal sebagai ‘Entity List’.

Dikutip dari Reuters pada Rabu, 17 Juni 2026, Amerika Serikat menangguhkan penambahan lebih dari 100 perusahaan China ke dalam ‘Entity List’. Di antara perusahaan yang penambahannya ditunda adalah startup AI DeepSeek dan produsen chip CXMT, menurut informasi dari dua sumber yang memahami masalah ini.

Langkah penangguhan ini disebut sebagai upaya pemerintahan Trump untuk menghindari peningkatan ketegangan dengan Beijing. Penambahan perusahaan ke dalam ‘Entity List’ biasanya berarti perusahaan-perusahaan AS dilarang mengirimkan barang, perangkat lunak, dan teknologi kepada entitas yang terdaftar tanpa lisensi khusus, yang kemungkinan besar akan ditolak.

DeepSeek, yang model AI berbiaya rendahnya sempat menggemparkan dunia teknologi pada Januari 2025, sebelumnya dituding oleh seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mendukung operasi militer dan intelijen China. Pejabat tersebut menyatakan bahwa startup AI itu diduga berupaya menggunakan perusahaan cangkang di Asia Tenggara untuk mengakses chip canggih AS secara ilegal.

Tahun ini, perusahaan Anthropic melaporkan telah mengidentifikasi kampanye yang dilakukan oleh DeepSeek dan dua laboratorium AI China lainnya. Kampanye ini diduga secara ilegal mengekstraksi kemampuan dari platform AI Claude milik Anthropic untuk meningkatkan model mereka sendiri. OpenAI juga dilaporkan telah memperingatkan para pembuat undang-undang bahwa DeepSeek juga menargetkan model mereka.

Sementara itu, CXMT, produsen chip memori terkemuka China, telah ditetapkan sebagai perusahaan militer China oleh Pentagon di bawah pemerintahan sebelumnya. Departemen Perdagangan AS sendiri sudah mempertimbangkan untuk memasukkan CXMT ke dalam ‘Entity List’ lebih dari setahun yang lalu, menurut laporan Reuters dan sumber lainnya.

Baik DeepSeek maupun CXMT tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar di luar jam kerja normal. Biro Industri dan Keamanan (BIS) Departemen Perdagangan, yang bertanggung jawab mengawasi ‘Entity List’, tidak memberikan tanggapan langsung mengenai alasan pembaruan daftar tersebut belum dipublikasikan sejak tahun lalu, maupun komentar spesifik mengenai DeepSeek dan CXMT.

Namun, BIS dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa mereka menggunakan "berbagai alat kebijakan dan penegakan hukum, termasuk ‘Entity List’, untuk memastikan kami memerangi pelaku kejahatan." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada penundaan, pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan China yang dianggap berisiko tetap berlanjut.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China, di mana isu keamanan nasional dan teknologi menjadi faktor krusial dalam setiap kebijakan yang diambil. Langkah AS yang cenderung mundur sesaat dari kebijakan pengetatan menunjukkan adanya pertimbangan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi global di tengah tensi geopolitik yang terus meningkat. Perkembangan lebih lanjut mengenai peninjauan ulang daftar perusahaan dan potensi dampaknya terhadap industri teknologi kedua negara akan terus menjadi sorotan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait