Jakarta – Arena Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026 di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, menjadi saksi bisu perjuangan luar biasa seorang atlet muda. Maharani Putri, pesilat putri dari kontingen Perisai Diri Palembang, menunjukkan semangat juang yang tak tergoyahkan, memilih untuk menyelesaikan setiap detik pertandingannya meski dihantam cedera engkel yang serius. Kisah Rani, sapaan akrabnya, menjadi cerminan dedikasi para atlet yang berjuang mengharumkan nama daerahnya di kancah nasional.
Kompetisi bergengsi yang berlangsung dari tanggal 25 hingga 28 Juni 2026 ini mempertemukan pesilat-pesilat terbaik dari seluruh penjuru Tanah Air. Rani, yang turun di kategori fighter, menghadapi tantangan berat saat kakinya terkilir di tengah laga. Cedera pada engkel kaki kirinya menyebabkan pembengkakan, yang secara signifikan menghambat kemampuannya untuk melayangkan tendangan, terutama saat berhadapan dengan lawan yang memiliki postur tubuh lebih tinggi.
"Kaki aku kecetit sebelah kiri, keseleo. Ankle-nya kena, ini bengkak, jadi agak susah nendangnya. Lawannya juga tinggi," ungkap Rani saat ditemui usai pertandingan, menggambarkan kondisi fisiknya yang tidak optimal. Meskipun demikian, rasa sakit dan kesulitan fisik tidak sedikit pun menyurutkan tekadnya untuk tetap berada di gelanggang. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan didasari oleh prinsip pantang menyerah yang telah tertanam kuat dalam dirinya sebagai seorang pesilat.
Di tengah tekanan pertandingan, dengan kondisi fisik yang semakin terbatas, Rani memiliki opsi untuk menyerah. Namun, ia dengan tegas menolak gagasan tersebut. Dari sudut matras, sang pelatih pun tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menghentikan pertandingan, seperti dengan melemparkan sabuk ke dalam arena sebagai isyarat menyerah. Justru, semangat dan motivasi terus diberikan kepada Rani, mendorongnya untuk terus berjuang hingga detik terakhir.
"Selesai kok, enggak sampai DNF (Do Not Finish). Bisa-bisa saja kalau pelatihnya lempar sabuk, tapi pelatih aku enggak. Disuruh lanjutin saja, dikasih semangat. Enggak pernah menyerah sampai habis walaupun kalah poin," jelas Rani, mengisahkan dukungan penuh dari pelatihnya. Walaupun harus menelan kekalahan akibat selisih poin yang cukup jauh, semangat Maharani Putri tetap membara. Pengalaman ini justru menjadi pelajaran berharga baginya.
Pesilat yang sebelumnya pernah meraih Juara 3 pada Piala Menpora ini menyatakan bahwa kekalahan bukanlah akhir segalanya. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang. Evaluasi teknik menjadi prioritas utamanya demi meraih kemenangan di kompetisi-kompetisi mendatang. "Ambisiku mau dilanjutin supaya bisa menang terus. Enggak mikirin hal-hal yang aneh, mikirin silat terus. Tahun depan kalau ada turnamen ini lagi, pasti ikut lagi, harus banget," tegasnya penuh optimisme.
Perjuangan Rani adalah bagian dari kisah besar kontingen Perisai Diri Palembang yang hadir dengan rombongan cukup besar, mencapai 24 orang, termasuk atlet dan orang tua pendamping. Rekan Rani, Khayla Duwita Putri (14), menceritakan detail perjalanan mereka yang penuh dedikasi. Kontingen ini berangkat secara mandiri dari Sumatra Selatan menuju Jakarta, menempuh perjalanan darat yang panjang menggunakan bus dan mobil pribadi.
"Kami dari Palembang pergi hari Selasa jam 2 siang, sampai jam 2 subuh di Jakarta lewat tol sampai Pelabuhan Bakauheni," tutur Khayla. Perjalanan melelahkan ini menunjukkan komitmen tinggi para atlet dan orang tua yang rela mengeluarkan biaya pribadi demi berpartisipasi dalam ajang pencak silat nasional ini. "Untuk biayanya kami bayar sendiri, sama orang tua. Dari 17 atlet yang ikut, mayoritas turun di kelas pemasalan," tambahnya, menyoroti tantangan finansial yang seringkali dihadapi atlet daerah.
Kejuaraan Pencak Silat Tingkat Nasional Piala Presiden 2026, yang merupakan inisiasi kolaborasi antara CNN Indonesia dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), resmi ditutup pada Minggu (28/6). Acara penutupan ini sekaligus menandai penuntasan seluruh nomor pertandingan, termasuk di kelas pemasalan yang banyak diikuti oleh atlet muda seperti Rani dan Khayla. Meskipun banyak rintangan, kontingen Perisai Diri Palembang berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan membawa pulang sejumlah medali emas dari beberapa nomor yang mereka ikuti.
Kisah Maharani Putri dan kontingen Perisai Diri Palembang menjadi inspirasi bagi banyak pihak, menegaskan bahwa semangat juang, dedikasi, dan dukungan penuh adalah kunci utama dalam meraih impian. Cedera mungkin menghambat, tetapi tidak akan pernah memadamkan tekad seorang pesilat sejati. Mereka adalah bukti nyata potensi besar pencak silat Indonesia yang terus tumbuh dan berjuang dari berbagai daerah.











