Morbidelli Meragukan Kemampuan Balap MotoGP-nya Pasca Akhir Pekan Mengecewakan di Brno

Wibowo

Franco Morbidelli, pembalap VR46 Racing Team, melontarkan keraguan diri yang mendalam setelah penampilan yang sangat mengecewakan di Sirkuit Brno, Republik Ceko. Dalam sebuah pernyataan yang jujur, ia mempertanyakan apakah dirinya "lupa cara mengendarai motor MotoGP" setelah berjuang keras sepanjang akhir pekan. Hasil ini menambah rentetan performa yang kurang memuaskan bagi Morbidelli di musim ini.

Morbidelli, yang musim ini menggunakan motor Ducati GP25 yang pernah membawa Marc Marquez meraih gelar juara, namun sempat membuat Pecco Bagnaia kesulitan di sebagian besar musim sebelumnya, mengalami penurunan posisi yang signifikan. Start dari posisi kesembilan di grid, ia harus puas finis di urutan ke-12 pada balapan Sprint dan merosot lebih jauh ke posisi ke-13 pada balapan utama Grand Prix.

"Saya melakukan start yang lebih baik dibandingkan kemarin. Saya melakukan sangat sedikit kesalahan. Saya mencoba untuk memberikan yang maksimal di setiap lap, dan hasilnya tetap P13," ungkap Morbidelli dengan nada frustrasi. Ia menambahkan, "Saya tidak punya performa sama sekali, saya tidak punya cengkeraman sama sekali. Saya sudah berjuang keras dengan masalah traksi sejak awal tahun, dan sepertinya tidak ada yang berubah."

Ungkapan "Mungkin saya lupa cara mengendarai MotoGP" mencerminkan kedalaman rasa frustrasinya. Morbidelli merasa aneh karena pada beberapa seri sebelumnya, seperti di Barcelona, ia berhasil menembus baris terdepan, dan di Mugello, ia menunjukkan kecepatan yang sangat baik selama sesi latihan dan kualifikasi. Namun, ketika balapan dimulai, performanya seolah lenyap.

"Saya tidak tahu. Mungkin memang begini. Ini aneh, karena di Barcelona, saya di baris depan. Lalu di Mugello, saya punya kecepatan yang sangat bagus sepanjang Jumat, sepanjang Sabtu, hingga balapan. Dan kemudian mungkin ketika balapan datang, saya lupa cara mengendarai MotoGP. Saya tidak tahu," ujarnya penuh kebingungan.

Terlepas dari kesulitan yang dialaminya, Morbidelli menepis anggapan bahwa ketidakpastian mengenai masa depannya di MotoGP menjadi faktor utama. Ia menegaskan bahwa ia telah terbiasa hidup di bawah tekanan sejak usia muda. "Dengar, saya hidup dengan tekanan. Saya sudah balapan sejak usia 7 tahun. Saya sudah menghadapi tekanan sepanjang hidup saya. Saya sudah menghadapi tekanan untuk memenangkan kejuaraan dunia," tegasnya.

"Saya tidak takut pulang jika memang saya tidak layak lagi di sini. Saya tidak di sini hanya untuk menghangatkan kursi dan menerima gaji. Saya di sini untuk tampil, untuk menang, untuk melakukan yang terbaik yang saya bisa. Dan saat ini, itu belum terwujud," lanjut Morbidelli dengan keyakinan bahwa ia tidak datang hanya untuk sekadar partisipasi.

Ia menekankan bahwa baik tim, kru, maupun dirinya sendiri telah memberikan segalanya. "Bahkan hari ini, saya mencetak lap tercepat saya di lap terakhir. Saya memberikan segalanya, setiap lap untuk menjaga mereka yang ada di belakang saya. Tapi jelas saya punya potensi lebih sedikit, saya punya cengkeraman lebih sedikit, saya tidak bisa tampil seperti yang seharusnya," keluhnya.

"Ini sangat membuat frustrasi. Tapi untungnya, tim ini penuh dengan orang-orang yang tidak mudah menyerah. Kami memiliki atmosfer yang hebat di dalam tim. Kami siap memberikan segalanya yang kami miliki setiap saat, dan semoga kami akan keluar dari situasi ini," tambahnya, menunjukkan optimisme terhadap dukungan timnya.

Saat ini, Morbidelli menempati posisi ke-14 klasemen sementara, menjadi pembalap Ducati terakhir di urutan klasemen. Ia dengan tegas menyatakan bahwa masalahnya bukanlah kurangnya kepercayaan diri, melainkan kurangnya cengkeraman belakang (rear grip) pada motornya.

Di luar performanya, Morbidelli juga dimintai pendapat mengenai hukuman larangan balap yang dijatuhkan kepada Marco Bezzecchi karena menampar seorang marshal. Insiden serupa yang pernah dialami Morbidelli pada MotoGP Qatar 2023, ketika Aleix Espargaro menampar helmnya dan hanya dikenai denda serta penalti grid, juga turut disinggung.

"Ya. Saya punya pendapat. Kalau begitu, Espargaro seharusnya juga absen di balapan Qatar saat itu. Karena saya adalah manusia. [Marshal] juga manusia," ujar Morbidelli. Ia mengakui bahwa tindakan Marco Bezzecchi adalah sebuah kesalahan dan perbuatan yang buruk. "Saya mengerti penalti dan segalanya. Jika saya mengesampingkan ego saya, saya memikirkan diri saya sendiri dan ketika itu terjadi pada saya, ketika seorang pembalap yang bersaing dengan saya melakukan gestur itu kepada saya. Dan tidak ada yang terjadi padanya saat itu."

Namun, ia juga memahami perubahan kebijakan steward. "Oke, segalanya telah berubah dalam tiga tahun terakhir; steward menjadi lebih sensitif terhadap hal ini. Oke, saya mengerti. Dan saya memahami penalti yang diberikan kepada Marco," pungkasnya, menunjukkan sikap yang dewasa terhadap keputusan steward MotoGP yang semakin ketat dalam menjaga etika di lintasan. Situasi yang dihadapi Morbidelli saat ini memang kompleks, di mana ia harus berjuang tidak hanya melawan para rivalnya di lintasan, tetapi juga melawan keraguan diri dan masalah teknis yang membelenggu performanya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All