Pertemuan puncak para pemimpin negara-negara maju atau G7 di Prancis pada 15-17 Juni lalu telah usai. Namun, di balik diskusi serius mengenai isu-isu global seperti perang Rusia-Ukraina, terselip berbagai momen ringan dan unik yang mewarnai gelaran akbar tersebut. Para pemimpin negara anggota G7, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang, tidak hanya fokus pada agenda politik, tetapi juga berbagi cerita dan interaksi personal yang menarik perhatian.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah pengakuan mengejutkan dari Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengenai kebiasaannya merokok. Meloni, yang dikenal sebagai perokok aktif dan kerap terlihat menghisap rokok di sela-sela pertemuan sebelumnya, menyatakan bahwa ia telah memutuskan untuk berhenti merokok. Pengakuan ini terungkap dalam percakapan santai bersama para pemimpin G7 lainnya dan Ketua Uni Eropa, Ursula von der Leyen.
Saat ditanya oleh Kanselir Jerman, Friedrich Merz, apakah ia akan memesan rokok, Meloni dengan tegas menjawab, "Tidak. Saya sudah berhenti." Ia menambahkan bahwa keputusan berhenti merokok ini diambilnya satu bulan lalu, didorong oleh alasan kesehatan. Pengumuman ini disambut dengan beragam reaksi dari para pemimpin yang hadir, menunjukkan sisi humanis dan tantangan pribadi yang dihadapi para pemimpin dunia di tengah kesibukan mereka. Berhenti merokok memang menjadi tantangan besar bagi banyak orang, dan keputusan Meloni ini menjadi inspirasi tersendiri.
Selain itu, euforia dunia sepak bola juga merambah ke forum diplomatik tertinggi ini. Di sela-sela jamuan makan siang, para pemimpin negara G7 tidak ketinggalan untuk membahas perkembangan olahraga yang paling digemari di dunia tersebut. Percakapan informal pun mengalir, membahas hasil pertandingan dan tim kesayangan masing-masing. Seruan "Allez les bleus!" terdengar dari salah satu pemimpin, menunjukkan dukungan untuk tim nasional Prancis. Pembicaraan juga merambah pada kemenangan klub-klub Eropa di ajang bergengsi seperti Liga Champions. Bahkan, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, sempat mengungkapkan kekagumannya atas hasil imbang 0-0 antara Cape Verde melawan juara dunia bertahan, Spanyol. Momen-momen seperti ini menunjukkan bahwa di balik peran kenegaraan, para pemimpin juga memiliki minat dan kegemaran yang sama seperti masyarakat pada umumnya.
Tak kalah menarik adalah momen pemberian hadiah unik kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam rangka perayaan ulang tahunnya yang ke-80, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, memberikan sebuah jersey tim nasional Jerman. Jersey tersebut tidak biasa, karena tertera nama "Trump" dan nomor punggung "47", yang merupakan referensi terhadap potensi masa jabatan ke-47 presiden Amerika Serikat. Trump terlihat sumringah menerima hadiah tersebut dan sempat berpose dengan jersey itu di hadapan para fotografer. Merz kemudian membagikan foto momen tersebut di akun media sosialnya dengan keterangan, "Selamat ulang tahun yang ke-80. Lagipula, kita berada di tim yang sama." Hadiah ini menjadi simbol persahabatan dan mungkin juga sedikit candaan politik di antara kedua pemimpin negara besar tersebut.
Kejutan kecil lainnya datang dari tuan rumah acara, Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Saat para pemimpin bersiap untuk menikmati makan siang, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyadari bahwa Macron tampaknya lupa mengenakan jam tangannya. "Dia meninggalkan jam tangannya di sini. Kami punya jam tangannya," canda Carney, yang disambut tawa para pemimpin lain. Momen sederhana ini menambah kesan hangat dan akrab di antara para delegasi, menunjukkan bahwa bahkan para pemimpin dunia pun bisa mengalami momen kelupaan dalam keseharian mereka.
KTT G7 kali ini tidak hanya menjadi ajang diplomasi dan pembahasan isu-isu krusial, tetapi juga menyajikan serangkaian momen yang mengingatkan kita akan sisi manusiawi para pemimpin dunia. Dari keputusan pribadi untuk berhenti merokok, antusiasme terhadap olahraga, hingga candaan ringan antarnegara, semua itu terangkai menjadi narasi menarik yang melengkapi gelaran internasional ini. Momen-momen unik tersebut seringkali menjadi cerita yang lebih mudah diingat dan dicerna oleh publik, sekaligus menunjukkan bahwa di balik podium dan negosiasi yang alot, para pemimpin juga manusia biasa dengan segala kebiasaan dan interaksi sosialnya. Hal ini penting untuk menjaga kedekatan antara pemimpin dan rakyat, serta memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai sosok di balik kebijakan-kebijakan penting dunia.











