Afrika Selatan akhirnya mencetak sejarah gemilang di ajang Piala Dunia. Untuk pertama kalinya, tim berjuluk Bafana Bafana itu berhasil melaju ke babak gugur turnamen akbar sepak bola sejagat, setelah empat kali mencoba. Keberhasilan ini dipastikan usai Thapelo Maseko mencetak gol tunggal penentu kemenangan 1-0 atas Korea Selatan dalam laga krusial Grup A.
Kemenangan dramatis ini mengakhiri penantian panjang Afrika Selatan yang selalu terjebak di fase grup dalam tiga partisipasi sebelumnya, yaitu pada tahun 1998, 2002, dan 2010. Momen paling menyakitkan terjadi pada Piala Dunia 2010 ketika mereka menjadi tuan rumah pertama yang gagal lolos dari babak grup.
Thapelo Maseko menjadi pahlawan dengan lesakan golnya di menit ke-63. Tembakan mendatar ke sudut bawah gawang Korea Selatan memastikan tiga poin krusial bagi Bafana Bafana. Gol ini disambut euforia tak terkira, baik di lapangan maupun di seluruh penjuru Afrika Selatan.
Dengan tambahan tiga poin, Afrika Selatan kini mengoleksi empat poin di Grup A. Mereka menempati posisi kedua, di bawah Meksiko yang memuncaki grup setelah mengalahkan Republik Ceko 3-0. Sementara itu, Korea Selatan masih memiliki harapan tipis untuk melaju sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik, dengan raihan tiga poin.
Selanjutnya, Afrika Selatan akan menghadapi tantangan berat di babak gugur. Mereka dijadwalkan bertemu dengan tim tuan rumah bersama, Kanada, di Los Angeles pada hari Minggu. Pertandingan ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi tim asuhan Hugo Broos.
Pelatih kepala Afrika Selatan, Hugo Broos, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya atas pencapaian bersejarah ini. "Ini adalah pengalaman yang fantastis," ujar Broos dengan raut wajah penuh syukur. "Pertandingan hari ini sangat sulit, tetapi ini adalah laga yang bagus."
Broos menambahkan bahwa timnya bermain sangat baik secara taktik, sehingga menyulitkan Korea Selatan untuk menemukan ruang. "Kami mencetak gol, lalu ada 20 menit yang membuat jantung berdebar kencang. Ini bersejarah, dan saya sangat bahagia untuk para pemain. Saya sudah bekerja dengan mereka selama lima tahun," imbuhnya, menyoroti perjalanan panjangnya bersama tim.
Pencapaian ini memicu kegembiraan tak terbatas di seluruh Afrika Selatan. Meski pertandingan dimulai pada pukul 3 pagi waktu setempat, hal itu tidak menghalangi para penggemar, tua dan muda, untuk turun ke jalan. Mereka merayakan di Soweto dan berbagai komunitas lainnya, bahkan masih mengenakan piyama dan baju tidur saat peluit akhir dibunyikan.
Perayaan ini mencerminkan kelegaan dan kegembiraan yang mendalam bagi rakyat Afrika Selatan. Mereka sudah terbiasa dengan kesuksesan olahraga dari tim nasional lainnya, seperti tim rugby Springboks yang memegang rekor empat kali juara Piala Dunia Rugby, dan tim kriket yang merupakan pemegang mace Kejuaraan Tes Dunia. Namun, sepak bola selalu memiliki tempat yang lebih besar di hati bangsa karena popularitasnya yang universal.
Meskipun Bafana Bafana telah lama berjuang untuk menemukan kesuksesan internasional sejak menjuarai Piala Afrika pada tahun 1996, kemenangan ini menjadi titik balik yang diharapkan. Mantan striker Afrika Selatan, Marks Maponyane, dengan tepat menggambarkan suasana hati melalui unggahan di Instagram-nya: "Ini akan menjadi hari yang sangat panjang, Afrika Selatan, tetapi ini sepadan dengan setiap kantuk yang ada."
Jalannya pertandingan sendiri cukup alot. Korea Selatan, yang memulai laga dengan Son Heung-min di bangku cadangan, menguasai sebagian besar bola tetapi kesulitan menciptakan peluang berbahaya. Di awal babak pertama, Kim Min-jae sempat menyundul bola yang kemudian disapu bersih dari garis gawang oleh Aubrey Modiba pada menit kedua. Tak lama berselang, Lee Kang-in melepaskan tembakan dari dalam kotak penalti namun masih melambung di atas mistar.
Bafana Bafana secara bertahap menunjukkan peningkatan performa dan hampir mencetak gol pada menit ke-19. Maseko berhasil melewati pertahanan lawan setelah menerima umpan terobosan, namun Lee Ki-hyuk melakukan tekel krusial di saat-saat terakhir. Kiper Korea Selatan, Kim Seung-gyu, juga melakukan penyelamatan ganda yang brilian, menepis tembakan Thalente Mbatha sebelum mengamankan bola muntah dari upaya Evidence Makgopa.
Setelah meredam tekanan awal dari tim Korea Selatan yang minim kreativitas, bahkan setelah kapten Son Heung-min masuk di babak kedua, Afrika Selatan akhirnya menemukan celah. Tshepang Moremi memberikan umpan terobosan yang sangat akurat kepada Maseko. Sang penyerang kemudian menggeser bola ke kaki kiri favoritnya sebelum melepaskan tembakan rendah yang menembus sudut kanan bawah gawang, memastikan tiket bersejarah ke babak 32 besar Piala Dunia.











