Mikroplastik Ancaman Baru bagi Lautan dalam Menyerap Karbon Iklim

Herfansyah

Lautan, penjaga stabilitas iklim bumi yang luas, kini menghadapi ancaman serius. Kemampuannya yang vital dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer terancam tergerus akibat akumulasi polusi mikroplastik. Temuan ini menyoroti dampak mengerikan dari sampah plastik terhadap salah satu fungsi ekosistem laut paling krusial bagi keberlangsungan planet.

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Ecosystem Services mengungkap bagaimana partikel-partikel plastik berukuran mikroskopis ini secara signifikan menghambat peran fitoplankton, alga mikroskopis yang menjadi tulang punggung fotosintesis di permukaan laut. Fitoplankton tidak hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga merupakan komponen utama dalam siklus penyerapan karbon alami lautan.

Penelitian yang dipimpin oleh Francesca Verones dari Departemen Teknik Energi dan Proses di Norwegian University of Science and Technology (NTNU) ini memetakan sebaran mikroplastik dan dampaknya terhadap alga di berbagai zona iklim. Tim peneliti menemukan bahwa kehadiran partikel plastik dapat mengganggu perkembangan fitoplankton melalui dua mekanisme utama: hambatan fisik dan dampak toksik.

"Toksisitas jenis plastik tertentu, seperti PVC, merupakan masalah tersendiri. Selain itu, plastik juga dapat mengurangi jumlah sinar matahari yang menembus kolom air, menyebabkan kerusakan fisik, atau memicu stres oksidatif pada sel alga," jelas Verones. Hambatan fisik ini bisa berupa penutupan stomata alga atau gangguan pada proses penyerapan nutrisi.

Dampak paling mengkhawatirkan terdeteksi di wilayah tropis dan kawasan beriklim kering. Di area-area ini, akumulasi mikroplastik diperkirakan mampu memangkas kemampuan laut dalam menyerap karbon dioksida hingga puluhan ribu ton metrik per tahun. Verones merinci bahwa di wilayah-wilayah tersebut, mikroplastik dapat mengurangi penyerapan karbon masing-masing sebesar 25 ribu dan 48 ribu ton metrik selama setahun.

Meskipun penurunan ini mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan total daya serap karbon laut global yang mencapai sekitar 2 miliar ton metrik per tahun, para ahli menegaskan bahwa ancaman ini tidak boleh disepelekan. Volume limbah plastik yang terus melonjak setiap tahun ke lautan memicu kekhawatiran akan konsentrasi mikroplastik yang semakin tinggi dan kerusakan ekosistem yang lebih parah di masa depan.

Analisis ini juga mengintegrasikan dampak mikroplastik pada penyerapan karbon ke dalam penilaian siklus hidup plastik. Tujuannya adalah untuk mengukur konsekuensi lingkungan dari produksi hingga menjadi sampah, yang menegaskan bahwa polusi plastik bukan sekadar masalah tumpukan sampah. Lebih dari itu, fenomena ini berkaitan erat dengan krisis iklim dan penurunan keanekaragaman hayati.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri telah mengategorikan situasi ini sebagai "krisis planet rangkap tiga", yang mencakup krisis iklim, polusi lingkungan, dan hilangnya biodiversitas yang terjadi secara simultan. Riset tim Verones secara spesifik berfokus pada tiga dampak utama plastik terhadap stabilitas lingkungan global: pengaruhnya terhadap keanekaragaman hayati (hewan terjerat atau menelan plastik), penyebaran spesies invasif yang menempel pada plastik, dan yang terbaru, dampaknya terhadap jasa ekosistem seperti penyerapan karbon.

Temuan ini memperpanjang daftar konsekuensi buruk dari pencemaran plastik. Selain merusak perairan dan mengancam satwa laut, polusi plastik kini terbukti berpotensi melumpuhkan salah satu benteng alami bumi dalam menahan laju krisis iklim. Lautan yang sehat adalah kunci bagi mitigasi perubahan iklim, namun keberadaan mikroplastik mengancam fungsi vital tersebut.

Penting untuk dipahami bahwa lautan menyerap sekitar sepertiga dari emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Kemampuan ini sangat bergantung pada kesehatan ekosistemnya, termasuk populasi fitoplankton yang melimpah dan sehat. Mikroplastik, dengan berbagai cara, mulai mengganggu keseimbangan ini.

Dampak fisik mikroplastik dapat berupa penyumbatan saluran pernapasan atau pencernaan alga, serta menghalangi penetrasi sinar matahari yang esensial untuk fotosintesis. Sementara itu, pelepasan bahan kimia aditif dari plastik, seperti ftalat atau bisphenol A (BPA), dapat bersifat toksik bagi sel-sel alga, menyebabkan kerusakan DNA, gangguan metabolisme, dan bahkan kematian.

Verones dan timnya menekankan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara komprehensif berbagai jenis plastik dan aditifnya, serta bagaimana interaksi mereka dengan berbagai spesies fitoplankton di berbagai kondisi lingkungan. Pemahaman yang lebih mendalam ini krusial untuk mengembangkan strategi mitigasi yang efektif.

Menurunkan produksi dan konsumsi plastik sekali pakai, serta meningkatkan sistem pengelolaan limbah yang lebih baik, menjadi langkah-langkah fundamental yang perlu segera diambil. Upaya global untuk membersihkan lautan dari sampah plastik, meskipun merupakan tantangan besar, juga harus terus digalakkan.

Ke depan, ancaman mikroplastik terhadap kemampuan lautan menyerap karbon harus menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan, industri, dan masyarakat luas. Melindungi lautan dari polusi plastik bukan hanya tentang menjaga keindahan alam atau kelangsungan hidup spesies laut, tetapi juga tentang menjaga kemampuan bumi untuk mengatur iklimnya sendiri. Kegagalan dalam mengatasi krisis polusi plastik dapat mempercepat laju perubahan iklim dan menimbulkan konsekuensi yang lebih luas bagi kehidupan di planet ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All