Merino: Gol Penentu di Momen Penuh Makna, Kisah Ayah dan Anak di Panggung Dunia

Danu Ilham

Mikel Merino kembali merayakan gol dengan gaya khasnya di dekat bendera sudut. Momen ini mengingatkannya pada sang ayah, Ángel Miguel, dan buah hatinya, Marco. Ia merayakan kemenangan bersama orang-orang terdekatnya. Perayaan serupa juga membahana di Pamplona, kota kelahirannya. Hari dimulainya festival San Fermín, saat warga mengenakan kemeja putih dan syal merah, kini diwarnai kebahagiaan atas gol Merino di Amerika Serikat.

Merino lahir di Pamplona pada hari yang sama saat Spanyol kalah dari Inggris di Euro 1996. Kini, mengenakan seragam putih merah kebanggaan negaranya, ia mencetak gol krusial di menit akhir. Gol tersebut memastikan langkah Spanyol ke perempat final Piala Dunia 2026. Ia kembali menjadi pahlawan, membawa euforia perayaan ke seluruh penjuru negeri.

Pertandingan babak 16 besar yang bisa saja menjadi final itu berlangsung sengit. Ketegangan mereda sejenak oleh sorakan "Mexican wave" yang membingungkan di stadion. Merino, yang baru masuk enam menit, tak menunjukkan tanda kelelahan. Ia sigap memanfaatkan situasi bola mati di luar kotak penalti. Bola bergulir ke Fabián Ruiz, lalu ke Ferran Torres, sebelum kembali ke kaki Merino. Dengan pergerakan cerdas, ia berhasil melewati Diogo Costa di dalam kotak penalti.

Gol kemenangan itu tercipta berkat kolaborasi tiga pemain pengganti. Spanyol pun meledak dalam sukacita. Ini bukan kali pertama Merino menjadi penentu. Empat tahun lalu, ia menyundul bola ke semifinal Euro 2024 di menit-menit akhir. Kini, ia kembali mencetak gol penentu di Piala Dunia, hanya beberapa detik sebelum peluit panjang dibunyikan.

Merino kembali melakukan selebrasi memutar di dekat bendera sudut. Ia meniru gaya ayahnya yang mencetak gol kemenangan untuk Osasuna 33 tahun lalu. Kali ini, ia melakukannya untuk sang ayah dan putranya yang berusia dua bulan, Marco, yang jarang ditemuinya.

Suatu hari nanti, Merino akan bercerita kepada Marco tentang peran ayah dan kakeknya dalam sejarah sepak bola. Untuk saat ini, Marco masih terlalu kecil dan jauh untuk memahami. Selama lima dari delapan minggu hidupnya, Merino berada di Amerika Serikat, menjalankan misi penting.

"Ketika mereka memberitahu saya tentang cedera saya, saya pikir tidak akan bisa bermain di Piala Dunia. Tapi di sini saya," ujar Merino. Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, meyakinkannya untuk tetap optimis. Namun, cedera retak di kakinya sempat sulit didiagnosis. Ia harus menggunakan kruk selama dua bulan dan hanya bermain 28 menit antara Januari hingga turnamen.

Meski terisolasi dan harus menepi lama, Merino tetap berjuang. Ia membaca buku, termasuk "Fever Pitch", untuk mengusir kebosanan. Ia fokus pada pemulihan dan latihan. Ia merasa lebih kuat dari yang ia bayangkan. Pelatihnya pun percaya pada kontribusinya. Dan ia membuktikannya dengan peran krusial ini.

Enam menit sebelum bubaran, kesempatannya datang. Ia sadar, waspada, dan tidak ingin menyia-nyiakannya. Tiga bulan lalu, ia bahkan kesulitan berjalan. Kini, Spanyol selangkah lebih dekat ke mimpi Piala Dunia. Rekan-rekannya berlarian menyambutnya, luapan kebahagiaan terpancar jelas. Mereka memeluknya erat, berteriak kegirangan, sebelum membiarkannya merayakan golnya.

"Saat momen itu terjadi, Anda teringat segalanya. Hal baik dan buruk, semua yang ada di rumah," kata Merino. "Cedera, tidak bisa melihat anak saya tumbuh, semua itu menjadi kekuatan saya. Ini hasil kerja keras yang selalu ditanamkan keluarga saya. Saya melakukan bagian saya. Terjadi lagi di menit akhir, saya sangat bahagia." Di lehernya tersemat syal merah San Fermín. "Nikmati momen ini," pesannya. "Merayakan bersama orang terkasih adalah hal terindah dalam hidup."

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All