Mengungkap Sisi Lain Menyusui: Abel Cantika Hadapi Luka Fisik dan Tekanan Mental di Anak Kedua

Wibowo

Momen menyusui seringkali digambarkan sebagai pengalaman yang indah dan penuh kehangatan antara ibu dan bayi. Namun, di balik gambaran ideal tersebut, tersimpan realitas penuh tantangan yang tidak jarang luput dari perhatian publik. Influencer ternama, Abel Cantika, baru-baru ini berbagi pengalaman pribadinya yang jujur dan menyentuh hati mengenai perjuangannya menyusui anak kedua. Kisahnya menyoroti luka fisik, tekanan mental, serta pentingnya edukasi dan dukungan yang tepat bagi para ibu.

Abel Cantika, yang telah memiliki pengalaman menyusui anak pertamanya, sempat meyakini bahwa proses laktasi untuk anak kedua akan berjalan lebih mudah dan lancar. Dengan bekal pengetahuan dan persiapan yang matang, baik secara mental maupun perlengkapan, ia berharap bisa melewati fase ini dengan lebih tenang. Namun, kenyataan berkata lain. "Waktu anak kedua lahir, saya pikir semuanya akan lebih gampang karena sudah punya pengalaman. Ternyata praktiknya jauh lebih sulit," ungkap Abel Cantika di Jakarta Convention Center (JCC) pada Sabtu (27/6/2026). Pernyataan ini sontak menjadi pengingat bagi banyak ibu bahwa setiap pengalaman menyusui, bahkan pada anak yang berbeda, bisa membawa tantangan yang unik dan tak terduga.

Bulan-bulan pertama setelah melahirkan anak kedua menjadi periode yang sangat berat bagi Abel. Ia harus menghadapi rasa sakit yang intens di setiap sesi menyusui, sebuah kondisi yang seringkali tidak terbayangkan oleh banyak orang. Rasa sakit tersebut bukan hanya mengganggu secara fisik, tetapi juga secara psikologis, menciptakan sebuah dilema antara kebutuhan bayi dan penderitaan ibu. "Setiap sesi menyusui rasanya seperti harus menyiapkan diri menahan sakit. Tapi di sisi lain, bayi tetap harus minum," kenangnya, menggambarkan perjuangan batin yang dialaminya. Pengalaman ini membuka mata bahwa menyusui bukan hanya tentang produksi ASI, tetapi juga tentang ketahanan fisik dan mental seorang ibu.

Lebih lanjut, Abel Cantika juga menyoroti fenomena yang berkembang di media sosial terkait stok ASI berlimpah. Ia mengamati bagaimana banyak ibu merasa bangga dengan freezer yang penuh ASI perah, seolah-olah hal tersebut menjadi indikator keberhasilan menyusui. Abel mengingatkan bahwa keberhasilan menyusui seharusnya tidak diukur dari kuantitas ASI yang tersimpan, melainkan dari kecukupan kebutuhan bayi serta kesehatan dan kenyamanan ibu. "Banyak yang bangga freezer penuh ASI. Padahal oversupply juga tidak nyaman dan bisa menyakitkan. Yang terpenting sebenarnya bukan berlebih, tetapi cukup untuk kebutuhan bayi," tegasnya. Pesan ini relevan untuk menepis tekanan tak terlihat yang seringkali dirasakan para ibu untuk memiliki stok ASI berlimpah, padahal kondisi oversupply justru bisa memicu masalah kesehatan lain seperti payudara bengkak atau mastitis.

Dari serangkaian pengalaman sulit tersebut, Abel Cantika menyimpulkan bahwa kenyamanan fisik dan kondisi psikologis ibu memegang peranan krusial dalam kelancaran proses laktasi. Ia kini lebih selektif dalam memilih alat bantu menyusui, khususnya pompa ASI, yang benar-benar memberikan kenyamanan. Menurutnya, pompa yang efektif tidak selalu harus menimbulkan rasa sakit. "Tidak harus hisapannya sakit untuk bisa efektif. Saat ibu nyaman, ASI biasanya keluar lebih lancar," kata Abel, menekankan hubungan erat antara relaksasi ibu dan produksi ASI yang optimal. Prinsip ini menjadi fondasi penting bagi para ibu untuk mencari solusi yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan kenyamanan mereka.

Senada dengan pengalaman Abel, Konselor Menyusui Desyntia Inten Dwi Lestari membenarkan bahwa banyak ibu menyusui menghadapi tantangan serupa. Desyntia menjelaskan bahwa persoalan utama seringkali bukan terletak pada produksi ASI semata, melainkan pada kurangnya edukasi mengenai teknik menyusui dan memompa ASI yang benar. Banyak ibu yang belum memahami pentingnya pengosongan payudara secara rutin untuk menjaga pasokan ASI tetap optimal. "Masalahnya bukan semata-mata produksi ASI, tetapi kurangnya edukasi tentang teknik menyusui dan pumping yang benar. Jangan menunggu sampai payudara terasa sangat penuh. Pengosongan secara rutin penting untuk menjaga produksi ASI tetap optimal," jelasnya. Edukasi yang tepat dan komprehensif sejak awal kehamilan hingga pascapersalinan dapat menjadi kunci untuk mencegah berbagai masalah laktasi.

Menyadari kebutuhan para ibu menyusui, terutama mereka yang memiliki mobilitas tinggi seperti Abel Cantika, TNP Group menghadirkan solusi inovatif. Mereka meluncurkan pompa ASI pintar, Momcozy Air 1, yang dirancang khusus untuk mendukung ibu modern agar tetap produktif tanpa harus mengorbankan proses menyusui. Pompa ASI ini menawarkan fitur-fitur yang menjawab tantangan mobilitas dan kenyamanan. "Banyak ibu yang harus memompa ASI di kantor, saat perjalanan, bahkan di ruang publik. Karena itu, perangkat harus ringan, senyap, dan diskret agar ibu tetap nyaman," terang Brand Manager TNP Group, Hanindya Christina. Dengan adanya perangkat yang mendukung dan edukasi yang memadai, diharapkan semakin banyak ibu dapat menjalani perjalanan laktasi mereka dengan lebih nyaman, percaya diri, dan tanpa tekanan yang berlebihan, sehingga momen menyusui benar-benar bisa menjadi pengalaman yang positif bagi ibu dan bayi.

Perjuangan Abel Cantika dan masukan dari para ahli ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas bahwa menyusui adalah sebuah perjalanan yang kompleks dan personal. Dukungan, pemahaman, dan akses terhadap informasi serta alat yang tepat adalah kunci untuk memberdayakan para ibu agar dapat memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati mereka, sekaligus menjaga kesehatan fisik dan mental diri sendiri.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All