BELU – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyoroti potensi besar Desa Adat Matabesi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai warisan budaya dan destinasi pariwisata yang menjanjikan. Dalam kunjungan kerjanya pada Minggu, 28 Juni 2026, Mendagri Tito secara langsung mengapresiasi upaya masyarakat setempat dalam melestarikan adat dan budaya di tengah arus modernisasi. Apresiasi ini menjadi sinyal kuat dukungan pemerintah pusat terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya di wilayah perbatasan Indonesia tersebut.
Kunjungan Mendagri Tito ke Desa Adat Matabesi bukan sekadar agenda formal, melainkan bentuk pengakuan terhadap kekayaan kultural yang dimiliki Indonesia. Beliau memuji ketahanan nilai-nilai luhur dan tradisi yang masih dijaga dengan baik oleh komunitas adat Matabesi. Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman, desa ini berhasil mempertahankan identitasnya, menjadikannya sebuah oase budaya yang patut diperhitungkan dalam peta pariwisata nasional. Mendagri melihat Matabesi memiliki daya tarik unik yang bisa dikembangkan lebih jauh, tidak hanya sebagai pelestarian warisan leluhur tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal.
Mendagri Tito menyoroti karakteristik istimewa Desa Adat Matabesi yang mengingatkannya pada Desa Adat Wae Rebo, destinasi terkenal lain di NTT. Namun, menurutnya, Matabesi memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya. Salah satu keunggulan Matabesi adalah keberadaan rumah-rumah adat yang telah berdiri kokoh selama ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun, mencerminkan peradaban panjang dan kearifan lokal yang luar biasa. Lingkungan desa yang masih sangat asri, dikelilingi pepohonan berusia tua, turut menambah pesona dan suasana magis yang sulit ditemukan di tempat lain.
Aspek aksesibilitas menjadi nilai tambah utama bagi Desa Adat Matabesi di mata Mendagri. Jika Wae Rebo mengharuskan pengunjung menempuh perjalanan mendaki selama dua jam untuk mencapai lokasi, Matabesi menawarkan kemudahan akses langsung dengan kendaraan. "Kali ini saya lihat ada sesuatu yang lain di sini. Jadi mirip-mirip dengan Wae Rebo, tapi punya kekhasan sendiri, sejarah sendiri. Kalau di sana harus jalan dua jam katanya. Di sini naik mobil langsung jadi. Artinya kemudahan untuk turis lebih mudah," ungkap Mendagri Tito, menekankan potensi Matabesi untuk menarik segmen wisatawan yang lebih luas, termasuk mereka yang mencari kenyamanan dan efisiensi waktu.
Potensi Desa Adat Matabesi sebagai destinasi wisata budaya yang unik tentu akan semakin optimal jika sejarahnya digali dan didokumentasikan secara komprehensif. Mendagri Tito mendorong agar narasi sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung di Matabesi dapat dicatat dengan baik. Dokumentasi ini tidak hanya berfungsi sebagai materi promosi pariwisata yang kaya, tetapi juga sebagai warisan tak ternilai bagi generasi mendatang untuk memahami akar budaya dan sejarah panjang nenek moyang mereka. Melalui upaya ini, Matabesi dapat menjadi "perpustakaan hidup" yang menceritakan kisah peradaban Belu.
Pengembangan Desa Adat Matabesi sebagai destinasi wisata budaya tidak hanya akan memberikan keuntungan ekonomis bagi masyarakat lokal, tetapi juga akan memperkuat identitas budaya dan menjaga keberlangsungan tradisi. Peningkatan kunjungan wisatawan berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, mulai dari pemandu wisata lokal, penjual kerajinan tangan, hingga pengelola penginapan dan kuliner khas. Diversifikasi ekonomi ini diharapkan dapat mencegah eksodus pemuda ke kota besar, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya mereka sendiri.
Mendagri juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Belu atas komitmennya dalam melestarikan Desa Adat Matabesi. Dukungan penuh dari pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan upaya pelestarian dan pengembangan. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat adat diharapkan dapat menciptakan sebuah model pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan prinsip keadilan, kelestarian lingkungan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal.
Dengan dukungan ini, Desa Adat Matabesi berpeluang besar untuk bertransformasi menjadi salah satu ikon pariwisata budaya di NTT, melengkapi destinasi-destinasi lain yang sudah dikenal luas. Kehadirannya tidak hanya akan memperkaya pilihan wisatawan yang mencari pengalaman otentik, tetapi juga akan menempatkan Kabupaten Belu dalam sorotan sebagai daerah yang kaya akan warisan sejarah dan budaya. Visi Mendagri Tito untuk Matabesi menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan desa adat ini sebagai magnet wisata budaya unggulan yang mendunia.











