Amina Abu al-Kas sempat merasakan secercah harapan saat dewan medis Gaza menyetujui rujukan pengobatan ke luar negeri. Namun, kabar bahagia itu justru datang dua minggu setelah ia mengembuskan napas terakhir.
Saber, putra Amina, menceritakan bahwa ibunya menderita infeksi nekrosis agresif yang menjalar ke bagian tengkorak. Tanpa akses obat-obatan yang memadai, Amina hanya bisa menahan rasa sakit yang luar biasa setiap harinya.
Kisah pilu Amina bukanlah satu-satunya di Jalur Gaza saat ini. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat ada 300 pasien meninggal dunia saat mengantre izin evakuasi sejak gencatan senjata dimulai.
Saat ini, sekitar 15.000 pasien lainnya masih terdaftar dalam daftar tunggu evakuasi medis. Mereka menderita berbagai penyakit, mulai dari cedera akibat perang hingga pasien kanker yang membutuhkan penanganan intensif.
Proses evakuasi memang menjadi tantangan yang sangat berat dan panjang bagi para pasien. Mereka harus melewati serangkaian pemeriksaan keamanan dari pihak Israel, negara tujuan, hingga negara transit.
WHO menyebutkan bahwa setiap pasien harus mendapatkan persetujuan dari negara penerima yang kriterianya sangat spesifik. Hal ini membuat banyak pasien terjebak dalam ketidakpastian birokrasi yang memakan waktu lama.
Selain hambatan izin, akses keluar dari Gaza sangat terbatas melalui perbatasan Rafah dan Kerem Shalom. Keterbatasan waktu operasional penyeberangan memperlambat arus pengiriman pasien ke luar wilayah konflik.
Di sisi lain, fasilitas kesehatan di Gaza berada di titik nadir akibat minimnya pasokan medis. Tenaga medis sering kali terpaksa melakukan rasionalisasi obat-obatan atau menolak pasien karena ketiadaan alat pendukung.
Direktur teknik Kementerian Kesehatan Gaza, Mazen al-Arayeshi, menyoroti krisis generator listrik di rumah sakit. Meski bahan bakar mulai masuk, kerusakan alat dan minimnya suku cadang mengancam nyawa pasien di meja operasi.
Ketidakpastian ini memicu munculnya praktik penipuan yang menyasar keluarga pasien putus asa. WHO pun telah mengeluarkan peringatan keras agar masyarakat tidak memercayai pihak yang menjanjikan jalur pintas evakuasi.
Di tengah situasi yang mencekam, ribuan nyawa kini bergantung pada kelancaran koordinasi internasional. Bagi banyak warga Gaza, mendapatkan izin untuk keluar dari wilayah tersebut kini terasa seperti sebuah keajaiban.
Kini, para keluarga pasien hanya bisa menunggu dengan cemas di antara reruntuhan rumah sakit. Mereka terus berharap ada panggilan telepon yang mengizinkan orang tercinta mereka mendapatkan perawatan medis yang layak.











