Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, melontarkan peringatan keras terkait potensi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. Ia mengklaim memiliki informasi bahwa Iran masih menyimpan "senjata cadangan" di Selat Bab Al Mandab. Pernyataan ini disampaikan Medvedev saat kunjungannya ke Teheran, Iran, untuk menghadiri prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut laporan Al Jazeera, Medvedev secara spesifik menyebutkan lokasi strategis di Bab Al Mandab sebagai tempat penyimpanan cadangan tersebut. Ia membandingkan pentingnya selat ini dengan aset strategis Iran lainnya, yaitu Selat Hormuz, yang bahkan disetarakan nilainya dengan senjata nuklir. Bab Al Mandab, yang menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah dan Terusan Suez, merupakan jalur vital yang diapit oleh Yaman, Djibouti, dan Eritrea.
Medvedev mewanti-wanti bahwa kelancaran lalu lintas di titik rawan maritim ini dapat terganggu jika terjadi eskalasi konflik regional. "Saya harap hal itu tidak terjadi, tetapi semua negara yang menginginkan konflik di kawasan ini harus mengingat hal ini," tegasnya. Ancaman ini menjadi semakin relevan mengingat kelompok pemberontak Houthi di Yaman, yang memiliki kedekatan dengan Iran, sebelumnya telah mengancam akan menutup Bab Al Mandab. Pada 8 Juni lalu, mereka juga menyatakan larangan terhadap kapal-kapal yang terafiliasi dengan Israel di Laut Merah.
Selat Bab Al Mandab sendiri merupakan jalur sempit dengan panjang sekitar 32 kilometer. Peranannya sangat krusial sebagai satu-satunya akses masuk ke Laut Merah dari Samudra Hindia, sebelum akhirnya terhubung ke Laut Mediterania melalui Terusan Suez. Statistik menunjukkan betapa vitalnya jalur ini bagi perdagangan global. Pada paruh pertama tahun 2023, sekitar 12 persen dari total perdagangan minyak dunia melintasi selat ini. Proyeksi untuk tahun 2025 memperkirakan rata-rata 4,2 juta barel minyak dunia akan melewati Bab Al Mandab setiap harinya.
Setiap gangguan yang terjadi di Selat Bab Al Mandab berpotensi memutus rantai pasok perdagangan antara Eropa dan Asia. Dalam skenario terburuk, kapal-kapal harus mengambil rute memutar mengelilingi benua Afrika. Perubahan rute ini dapat menambah waktu pengiriman secara signifikan, diperkirakan antara 10 hingga 14 hari. Pernyataan Medvedev ini menggarisbawahi ketegangan geopolitik yang terus membayangi kawasan strategis tersebut.











