Musisi papan atas Indonesia, Maia Estianty, kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pandangannya mengenai tren popularitas di era digital. Melalui unggahan di platform Threads pada Minggu, 31 Mei 2026, Maia mengkritik dangkalnya popularitas yang kini banyak diraih melalui sensasi.
Menurut Maia, kemudahan mendapatkan ketenaran di media sosial saat ini berbeda drastis dengan masa lalu. Ia menilai standar menjadi figur publik telah bergeser, mengutamakan sensasi ketimbang prestasi nyata.
Maia Estianty membandingkan era dulu yang mengutamakan karya untuk meraih popularitas. “Zaman dulu terkenal karena prestasi. Zaman sekarang lebih gampang terkenal, asal bikin sensasi saja, Anda sudah terkenal tapi minim prestasi. Benar tidak ya?” tulisnya.
Istri dari pengusaha Irwan Mussry ini kemudian mengajak warganet untuk berdiskusi sehat mengenai fenomena tersebut. Ia meminta validasi dari publik mengenai analisisnya, “Coba komentarnya. Siapa tahu salah analisisnya. Mari kita analisis bersama. Silakan berkomentar, tapi jangan julid,” ajaknya.
Tak disangka, unggahan tersebut justru memicu beragam reaksi dari warganet. Alih-alih fokus pada diskusi yang diajak Maia, banyak netizen justru mengaitkan pernyataannya dengan perjalanan karier dan kehidupan pribadi Maia di masa lalu.
Kolom komentar Threads dipenuhi dengan tanggapan yang mengingatkan kembali konflik lama antara Maia Estianty, Ahmad Dhani, dan Mulan Jameela. Sejumlah pengguna berargumen bahwa isu sensasi bukanlah hal baru dan sudah ada sejak lama di industri hiburan tanah air.
Beberapa komentar menyinggung terpilihnya rekan duet Maia di masa lalu yang dianggap melalui jalur sensasi. Isu orang ketiga yang sempat menghebohkan juga turut diungkit kembali oleh netizen.
Ada pula pandangan yang membandingkan peran Ahmad Dhani dalam mengangkat karier Maia dan Mulan Jameela di masa lampau. Sementara itu, sebagian netizen memilih bersikap netral, menganggap popularitas setiap figur publik memiliki dinamika tersendiri seiring perkembangan zaman.
Diskusi mengenai korelasi antara prestasi dan popularitas ini terus bergulir, memecah belah opini publik. Ribuan respons membanjiri unggahan Maia, baik yang mendukung maupun yang mengkritik pandangannya.
Mayoritas pendukung Maia setuju bahwa kualitas konten saat ini cenderung menurun dan hanya mengejar viralitas. Sebaliknya, para kritikus menilai Maia terlalu menghakimi dan mengingatkan untuk tidak melupakan sejarah masa lalu.
Sementara itu, kubu netral berpendapat bahwa cara setiap orang meraih ketenaran bersifat individual dan bergantung pada perkembangan zaman. Fenomena ini menunjukkan bagaimana rekam jejak digital seorang figur publik selalu membayangi setiap pernyataan yang mereka lontarkan.
