Boston, Amerika Serikat – Gelombang euforia pendukung tim nasional Skotlandia yang membanjiri kota Boston untuk gelaran Piala Dunia 2026 telah menciptakan fenomena budaya yang tak terduga. Lebih dari sekadar sorakan di stadion, para "Tartan Army" ini tidak hanya membawa semangat sepak bola, tetapi juga menghidupkan kembali denyut kehidupan kota, menjalin hubungan yang mendalam, dan bahkan sempat mengundang kontroversi kuliner yang menggelitik.
Seminggu terakhir, jagat maya diramaikan oleh sebuah video yang menampilkan Gubernur Massachusetts, Maura Healey, menandatangani sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa hidangan tradisional Skotlandia, haggis, kini legal di negara bagian tersebut. Awalnya, aksi ini seolah menjadi puncak misi para pendukung Skotlandia di Boston. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati bir, memeriahkan pertandingan baseball, atau menyumbang amal, tetapi juga untuk "membebaskan" haggis dari larangan yang telah berlangsung selama 55 tahun di Amerika Serikat.
Namun, kegembiraan itu berumur pendek. Hanya 24 jam berselang, sebuah klarifikasi mengejutkan muncul dari akun Instagram Gubernur Healey. "Saya telah menerima pesan yang tak terhitung jumlahnya dari warga Massachusetts, pendukung Skotlandia, pakar hukum, dan setidaknya satu domba yang sangat prihatin," tulisnya. "Setelah peninjauan cermat oleh kantor saya, saya siap mengklarifikasi bahwa ini, pada faktanya, adalah lelucon." Lelucon yang berujung pada "pengabaian" misi kuliner tersebut, menyisakan pertanyaan tentang tujuan kedatangan mereka.
Meskipun gagal membebaskan makanan ikonik dari larangan, para pendukung Skotlandia telah berhasil membuka hati warga Boston. Kehadiran mereka yang masif dan penuh keceriaan telah disambut hangat oleh penduduk lokal. Fenomena ini tidak dapat dihindari; hampir setiap patung di area sekitar kini berhiaskan topi kerucut lalu lintas, dan trotoar Boston tak luput dari pemandangan unik saat para pria mengenakan kilt mereka.
Salah satu momen paling ikonik adalah "pengambilalihan tartan" di Fenway Park pada Minggu malam. Saat tim baseball lokal, Boston Red Sox, berjuang keras namun akhirnya kalah 6-4 dari Texas Rangers, ribuan pendukung Skotlandia turut memeriahkan suasana. Sebuah proposal pernikahan disiarkan di layar lebar diiringi nyanyian 10.000 pendukung yang mengelu-elukan nama John McGinn. Di bangku penonton, sekelompok penggemar Red Sox harus rela pandangannya terhalang oleh dua pria yang sedang asyik menari Gay Gordons di depan mereka. Bahkan, organis Fenway Park, Josh Kantor, ikut meramaikan dengan menampilkan tulisan "No Scotland No Party" di layar. Kegembiraan semakin lengkap ketika seorang pendukung Skotlandia berhasil memenangkan hadiah undian 50/50, menambah semarak malam itu.
Dua hari kemudian, ribuan pendukung Skotlandia kembali memadati Fenway Park untuk merayakan "Pride Night" saat Toronto Blue Jays bertandang. Kabar beredar bahwa ribuan lainnya akan menyusul untuk menyaksikan pertandingan Miami Marlins di Florida Selatan. Fenomena ini seolah membuktikan bahwa semangat persahabatan yang terjalin melampaui batas-batas lapangan olahraga.
Namun, kisah cinta antara Skotlandia dan Boston ini telah melampaui sekadar pertandingan baseball. Ini adalah perayaan akbar dua budaya yang saling merangkul. Sebuah bukti nyata datang dari Wali Kota Boston, Michelle Wu, yang mengumumkan rencana aplikasi kota kembar antara Boston dan Glasgow. Pengumuman ini dilakukan secara simbolis di sebuah pub Skotlandia, dengan Wali Kota Wu mengenakan jersey timnas Skotlandia.
Fenomena puluhan ribu penggemar sepak bola memadati sebuah kota untuk turnamen besar bukanlah hal baru. Namun, cara mereka merayakan inilah yang membuat kunjungan kali ini begitu istimewa. Hingga berita ini ditulis, tidak ada satu pun laporan penangkapan pendukung Skotlandia, baik di Boston maupun di Providence, kota lain yang juga menjadi basis kuat Tartan Army.
Jejak kesuksesan pesta ala Skotlandia di Boston ini sebenarnya telah dimulai dua tahun lalu di Bavaria. Pada Kejuaraan Eropa terakhir, alun-alun Marienplatz seolah dipenuhi lebih banyak warga Skotlandia daripada kota asalnya, Motherwell. Saat itu, para pendukung Skotlandia juga dipuji atas perilaku, kemurahan hati, dan keceriaan mereka.
Perbedaan signifikan kali ini, selain peningkatan level kegembiraan dari Euro ke Piala Dunia pertama mereka setelah 28 tahun, adalah bahwa tim di lapangan turut menjaga pesta tetap hidup. Jika pertandingan pembuka melawan Haiti berakhir dengan bencana, mungkin suasana perayaan akan berbeda. Namun, hasil imbang melawan Maroko pada Jumat lalu berpotensi memicu gelombang perayaan yang lebih besar lagi di Boston malam itu.
Perjalanan ini digambarkan sebagai "pengalaman sekali seumur hidup" bagi generasi muda Skotlandia yang telah menunggu begitu lama untuk melihat tim kesayangan mereka berlaga di Piala Dunia. Ada apresiasi mendalam dari para pendukung bahwa kesempatan ini mungkin baru akan terulang lagi tiga dekade mendatang. Namun, apa pun yang terjadi di masa depan, pengalaman seminggu di Boston ini tak akan terlupakan, bahkan jika Miami menawarkan momen yang tak kalah istimewa.
Selama hampir seminggu, Skotlandia seolah memiliki kota ini untuk dirinya sendiri. Kini, Boston telah bertransformasi menjadi permadani bangsa-bangsa yang berkumpul di salah satu tempat terhangat dan terhangat di tepi Sungai Charles. Ada kemungkinan mereka akan kembali ke sini jika berhasil menjadi salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Apa warisan Tartan Army di Boston saat mereka bersiap untuk pulang dan memulai perjalanan kembali ke Miami? Apakah kemurahan hati mereka, semangat positif mereka, atau kemampuan mereka untuk mengingatkan sebagian penduduk lokal bahwa Piala Dunia sedang berlangsung? Kemungkinan besar, semua itu. Namun, bukan jamuan haggis.











