Aktris Kirana Larasati melayangkan kekecewaannya usai menyaksikan konser grup legendaris asal Taiwan, F4, yang bertajuk “FForever” di Indonesia Arena, Jakarta, pada Sabtu (30/5/2026). Meskipun telah mengeluarkan dana fantastis untuk tiket, pengalaman konser justru diwarnai berbagai kendala teknis dan lapangan yang membuatnya merasa tidak mendapatkan fasilitas sepadan.
Pengalaman kurang menyenangkan ini dibagikan Kirana melalui akun media sosial pribadinya. Ia mengaku merogoh kocek senilai Rp14 juta hingga Rp14,5 juta untuk tiket kategori termahal, dengan harapan dapat berinteraksi lebih dekat dengan para personel F4. Namun, harapan tersebut pupus akibat konsep panggung 360 derajat yang diterapkan.
Konsep panggung tersebut justru membuat Kirana lebih sering melihat punggung para artis. Bintang film “Turis Romantis” ini merasa sangat tidak beruntung karena posisi artis yang terus membelakangi area duduknya. Diperkirakan sekitar 80 persen dari keseluruhan penampilan, ia hanya bisa menyaksikannya secara jelas melalui layar digital besar yang disediakan di lokasi acara.
Selain masalah pandangan yang terhalang, Kirana juga menyoroti kelemahan pengamanan selama konser. Ketidakhadiran jembatan penghubung di area tengah diduga memicu penonton lain untuk bertindak tidak tertib demi mendekati idola mereka. Ia menyaksikan penonton VVIP nekat berdiri di atas kursi bahkan berlarian ke pinggir panggung, sementara petugas keamanan terkesan membiarkan situasi kacau tersebut.
Akibat rasa ketidaknyamanan yang mendalam, Kirana memutuskan untuk meninggalkan area konser lebih awal, sekitar 20 menit sebelum pertunjukan berakhir, sebagai bentuk protes. Ia juga memberikan peringatan kepada calon penonton yang memiliki tiket tribun VVIP untuk sesi berikutnya, menyarankan mereka menyiapkan mental jika pihak penyelenggara tidak melakukan perubahan pada skema koreografi panggung.
Perbandingan antara harapan dan realitas yang dialami Kirana Larasati menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara harga tiket yang sangat tinggi dengan kualitas pelayanan dan kenyamanan yang diterima. Ia berharap hal ini menjadi pelajaran bagi promotor dalam penyelenggaraan konser berskala internasional di masa mendatang.
