Kekeringan mulai menunjukkan dampaknya di berbagai wilayah Indonesia, memaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di sejumlah daerah untuk segera bergerak menyalurkan bantuan air bersih. Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dan Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, menjadi dua wilayah yang dilaporkan mengalami krisis air akibat penurunan debit air dan minimnya curah hujan. Laporan situasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada periode Sabtu, 27 Juni 2026, hingga Minggu, 28 Juni 2026, mencatat ribuan kepala keluarga kesulitan mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Menghadapi situasi darurat ini, pemerintah daerah melalui BPBD merespons cepat dengan mendistribusikan puluhan ribu liter air bersih. Langkah ini diambil untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan data terbaru dari BNPB, penanganan telah dilakukan secara bertahap melalui pengiriman armada truk tangki air ke titik-titik pemukiman yang paling terdampak krisis air. Bencana kekeringan ini telah memukul sektor domestik warga secara signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan pola penyebaran dampak yang bervariasi, mulai dari desa terisolasi hingga kelurahan di wilayah perkotaan.
Di Kabupaten Bekasi, kekeringan dilaporkan melanda Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, sejak Sabtu, 27 Juni 2026. Musim kemarau yang berkepanjangan telah menyebabkan penurunan drastis pada debit sumber air bersih yang biasa digunakan oleh warga. Situasi ini berdampak langsung pada 160 kepala keluarga (KK) yang kini harus sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari luar untuk kebutuhan memasak dan minum. Keterbatasan akses air bersih ini menjadi pukulan berat bagi aktivitas rumah tangga sehari-hari di desa tersebut.
Sementara itu, di wilayah Indonesia Tengah, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, mencatat sebaran dampak kekeringan yang jauh lebih masif. Krisis air di Bima, yang mulai dilaporkan sejak Jumat, 26 Juni 2026, kini telah meluas hingga mencakup empat wilayah kecamatan sekaligus. Fenomena ini dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat rendah dalam beberapa pekan terakhir, menyebabkan sumur-sumur milik warga mengering secara tiba-tiba.
Data dari BNPB menunjukkan bahwa total 1.129 KK di Kota Bima menjadi korban terdampak langsung dari bencana kekeringan ini. Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat memastikan bahwa tidak ada laporan korban jiwa maupun kerugian materiil yang signifikan akibat krisis air bersih yang sedang berlangsung. Namun, skala dampak yang meluas memerlukan perhatian dan bantuan yang lebih besar.
Untuk memetakan secara konkret wilayah yang terdampak kekeringan, laporan resmi BNPB akhir Juni 2026 merinci area-area yang mengalami krisis air bersih. Di Jawa Barat, Kabupaten Bekasi, Kecamatan Cibarusah, Desa Ridogalih, terdampak pada 160 KK. Sementara di Nusa Tenggara Barat, Kota Bima mengalami dampak yang lebih luas. Di Kecamatan Rasanae Barat, Kelurahan Tanjung, Paruga, dan Pane terdampak, meskipun jumlah spesifiknya tidak dirinci. Kecamatan Mpunda juga terdampak di Kelurahan Sambinae, Panggi, Manggemaci, dan Monggonao. Kecamatan Raba di Kelurahan Rontu turut merasakan dampak kekeringan, begitu pula Kecamatan Asakota di Kelurahan Melayu. Skala dampak yang lebih luas di Bima mengindikasikan kebutuhan pasokan air yang lebih besar.
Menanggapi situasi darurat ini, BPBD daerah segera mengaktifkan mekanisme kedaruratan logistik untuk menyuplai kebutuhan air warga yang terdampak. Pengiriman armada truk tangki air menjadi prioritas utama untuk menjangkau wilayah-wilayah yang paling membutuhkan. Kolaborasi antara BPBD daerah dan BNPB menjadi kunci dalam koordinasi dan penyaluran bantuan agar tepat sasaran dan efektif.
Selain bencana kekeringan yang melanda Bekasi dan Bima, BNPB juga mencatat laporan penanganan bencana hidrometeorologi lainnya di beberapa wilayah Indonesia dalam kurun waktu yang bersamaan. Pada Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 18.00 WIB, tanah longsor dilaporkan terjadi di Kota Sabang, Aceh, tepatnya di Desa Kuta Timur, Kecamatan Sukakarya. Peristiwa ini dipicu oleh hujan lebat berdurasi lama. Dampak dari insiden longsor tersebut menyebabkan satu warga mengalami luka berat dan harus segera dirujuk ke Banda Aceh, sementara dua warga lainnya mengalami luka ringan dan dirawat di RSUD Kota Sabang. Sebanyak dua KK terpaksa mengungsi dari rumah mereka akibat longsoran tersebut. BPBD Kota Sabang bersama warga setempat langsung melakukan gotong royong untuk membersihkan material longsoran yang menutup akses jalan.
Di wilayah lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 18.19 WIB. Kobaran api dilaporkan menghanguskan sekitar satu hektare lahan. Hingga kini, penyebab pasti dari kebakaran tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang setempat. Kejadian ini menambah daftar bencana yang perlu diwaspadai di musim kemarau.
Pemerintah melalui BNPB mengimbau masyarakat, terutama yang berada di daerah rawan kekeringan, untuk mulai menghemat penggunaan air bersih yang tersisa dan mempersiapkan diri menghadapi puncak musim kemarau. BPBD bersama instansi terkait dijadwalkan akan terus melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi kekeringan di berbagai wilayah. Jika cakupan wilayah yang terdampak kekeringan terus meluas, maka penambahan volume distribusi air bersih akan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kewaspadaan dan tindakan preventif menjadi kunci dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan musim kemarau yang semakin ekstrem.











