Penelitian terbaru mengungkap sisi kelam di balik euforia Piala Dunia bagi sebagian perempuan di Inggris. Saat timnas Inggris berlaga dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, sejumlah perempuan dan anak perempuan di negara itu dilaporkan hidup dalam ketakutan karena maraknya kasus kekerasan domestik.
Temuan ini menunjukkan adanya korelasi yang mengkhawatirkan antara pertandingan sepak bola timnas Inggris dan lonjakan insiden kekerasan dalam rumah tangga. Situasi ini menyoroti bagaimana peristiwa yang seharusnya membawa kebanggaan nasional justru menjadi momok bagi sebagian masyarakat.
Menurut studi yang dilakukan oleh The Women’s Aid, sebuah organisasi amal terkemuka yang berfokus pada pencegahan kekerasan terhadap perempuan, sebanyak 77% perempuan yang menjadi korban kekerasan domestik melaporkan bahwa situasi mereka memburuk saat Inggris bertanding di turnamen besar.
Organisasi tersebut juga mencatat adanya peningkatan panggilan ke jalur bantuan darurat mereka sebesar 38% pada bulan-bulan ketika Inggris bermain di Piala Dunia. Laporan ini merujuk pada data yang dikumpulkan selama periode Piala Dunia 2018 di Rusia.
Fay, seorang wanita yang mengalami kekerasan domestik, menceritakan pengalamannya. Ia berkata, “Ketika Inggris bermain di Piala Dunia, saya tahu itu akan menjadi malam yang buruk. Dia akan minum lebih banyak, dan saya akan menderita.” Pengalaman Fay ini menjadi gambaran nyata dampak psikologis dan fisik yang dialami para korban.
Kepala Eksekutif The Women’s Aid, Lucy Hadley, menekankan urgensi masalah ini. Ia menyatakan, “Perempuan dan anak-anak di Inggris terus-menerus hidup dalam ketakutan. Ini adalah kenyataan yang mengerikan.” Hadley menambahkan bahwa saat pertandingan berlangsung, pelaku kekerasan seringkali menggunakan momen tersebut sebagai alasan untuk meningkatkan kekerasan, baik verbal maupun fisik.
Lebih lanjut, studi tersebut menemukan bahwa 39% pelaku kekerasan domestik secara eksplisit mengaitkan kekerasan mereka dengan hasil pertandingan timnas Inggris. Jika Inggris kalah, intensitas kekerasan cenderung meningkat, namun bahkan kemenangan timnas pun tidak menjamin keamanan bagi para korban.
Hadley menyerukan agar perhatian lebih diberikan kepada para penyintas kekerasan domestik selama periode turnamen sepak bola besar. Ia menegaskan bahwa meskipun ada perayaan di luar rumah, di dalam rumah tangga banyak yang mengalami penderitaan.
Organisasi The Women’s Aid telah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk FA (The Football Association), untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu ini. Mereka berharap melalui kolaborasi ini, dukungan bagi para korban dapat diperkuat dan pencegahan kekerasan domestik dapat lebih efektif dilakukan.
