Di tengah sorotan tajam dan keraguan yang membayanginya, Jude Bellingham telah menjelma menjadi sosok sentral emosional dan simbolis bagi tim nasional Inggris. Perjalanannya tak selalu mulus, namun ia berhasil melampaui segala prasangka.
Bulan-bulan sebelum Piala Dunia, kritik terhadap Jude Bellingham justru semakin menguat. Sejumlah penulis, pengamat, dan mantan pemain meragukan kemampuannya untuk menjaga keharmonisan skuad. Puncaknya, sebuah artikel di Daily Mail pada November 2025 memuat judul yang dianggap memalukan dalam sejarah sepak bola Inggris: “Tinggalkan Jude di Rumah.”
Di tengah gelombang kritik tersebut, Ian Wright merasa perlu membela Bellingham dalam acara Stick to Football. Pernyataannya yang disebarkan luas di media sosial menyoroti kebencian yang diarahkan pada Bellingham sebagai bagian dari tradisi historis dalam mengontrol perilaku pria kulit hitam.
“Jude, entah mengapa, menakuti orang-orang ini,” ujar Wright. Ia menambahkan, “Ini adalah sesuatu yang diajarkan kepada kita sebagai pria kulit hitam… untuk menundukkan kepala dan menjadi, kalau boleh dibilang, budak yang rendah hati.”
Pernyataan Wright ini bukan sekadar pembelaan, melainkan pengingat akan bias yang kerap dihadapi atlet kulit hitam. Bellingham, dengan bakatnya yang luar biasa, seolah menjadi ancaman bagi narasi lama.
Kini, Bellingham telah membuktikan diri. Ia bukan hanya pemain berbakat, tetapi juga penggerak semangat tim. Perannya melampaui statistik gol atau assist; ia adalah jantung emosional The Three Lions.
Transformasi Bellingham dari sasaran kritik menjadi figur yang dicintai menunjukkan ketangguhan mentalnya. Ia berhasil mengubah kebencian menjadi kekuatan, dan keraguan menjadi keyakinan.
Calum Jacobs, penulis buku A New Formation: How Black Footballers Shaped the Modern Game, melihat fenomena ini sebagai bukti evolusi dalam sepak bola Inggris. Kehadiran Bellingham mendobrak stereotip lama.
Kisah Jude Bellingham menjadi inspirasi. Ia membuktikan bahwa bakat, kerja keras, dan ketahanan dapat mengalahkan segala bentuk prasangka. Kini, ia menjadi simbol kebanggaan yang tak terbantahkan bagi Inggris.
