Penyerang Timnas Kanada, Jonathan David, menampilkan performa gemilang dengan mencetak tiga gol dalam pertandingan kedua Grup B Piala Dunia 2026 yang digelar di Vancouver, British Columbia. Kemenangan telak 6-0 atas Qatar ini tidak hanya menjadi poin penuh pertama bagi "Les Rouges" di turnamen akbar empat tahunan tersebut, tetapi juga menandai momen bersejarah bagi sepak bola Kanada. David, yang kini berusia 26 tahun, menyamai pencapaian Lionel Messi di puncak daftar pencetak gol sementara turnamen.
Kemenangan besar ini menjadi angin segar bagi Kanada, yang sebelumnya selalu kesulitan meraih poin penuh di ajang Piala Dunia. Pada partisipasi di edisi 1986 dan 2022, timnas Kanada selalu gagal mengamankan kemenangan. Performa impresif David menjadi sorotan utama, menegaskan statusnya sebagai salah satu striker paling menjanjikan di kancah internasional. Perjalanannya bersama tim nasional pun tidak instan, dimulai sejak dipanggil oleh mantan pelatih John Herdman pada tahun 2018 saat usianya masih belia.
John Herdman, yang jeli melihat potensi besar dalam diri David, langsung menjadikannya pilar utama dalam proyek jangka panjang timnas Kanada. Ketenangan dan ketajaman David di depan gawang lawan membuatnya dijuluki "Iceman" oleh sang pelatih. Kepercayaan yang diberikan di level internasional ini turut memuluskan karier profesionalnya di kompetisi Eropa. David, yang menghabiskan masa kecilnya di Haiti sebelum pindah ke Ottawa, Kanada, sempat bersinar bersama klub Belgia, Gent, sebelum akhirnya berlabuh ke klub Prancis, Lille.
Di Lille, ketajamannya terbukti dengan rekor luar biasa, mencetak 109 gol dari 232 penampilan dan berhasil mempersembahkan gelar Ligue 1 pada tahun 2021. Pencapaian ini menempatkannya dalam jajaran pencetak gol tersubur sepanjang masa bagi klub Prancis tersebut. Performa konsistennya tidak luput dari pujian, termasuk dari pelatih timnas Kanada saat ini, Jesse Marsch, yang pada tahun 2024 lalu memuji kecerdasan taktik David di lapangan.
"Saya sering menyebutnya sebagai pemain sepak bola paling cerdas yang pernah saya latih," ujar Jesse Marsch. "Dia benar-benar pintar. Kami semua benar-benar percaya bahwa dia bisa menjadi salah satu yang terbaik di dunia, jika dia belum berada di kategori itu."
Di balik reputasinya sebagai juru gedor papan atas, Jonathan David dikenal memiliki kepribadian yang cenderung tertutup dan tidak terlalu menyukai sorotan publik di luar lapangan. "Secara pribadi, berbicara di depan umum bukanlah sifat saya karena saya tidak suka menonjolkan diri. Saya adalah orang yang bijaksana dan tenang," ungkap David kepada La Voix du Nord. "Setelah pertandingan, saya lebih suka meninggalkan stadion tanpa mengucapkan sepatah kata pun."
Pada jendela transfer sebelumnya, David sempat mencoba peruntungannya di kompetisi Italia bersama Juventus dengan status bebas transfer. Namun, di Serie A, ia menghadapi hambatan adaptasi dan hanya mampu mencetak delapan gol dari total 46 pertandingan yang dijalani. "Bagi saya, itu naik turun … Saya tidak mencetak gol sesering yang saya inginkan," katanya kepada TSN pada April lalu. "Juventus adalah klub yang berada di bawah pengawasan lebih ketat daripada klub lain di Italia. Ada banyak mata yang tertuju pada Anda, dan tentu saja, orang-orang akan membicarakannya," jelas David.
Meskipun menghadapi tantangan di level klub, penyerang bertinggi badan 180 cm ini tetap memelihara impian tertinggi bersama negaranya di turnamen Piala Dunia. "Impian terliar saya? Katakan saja menjuarai Piala Dunia bersama Kanada. Jika saya berhasil melakukannya, jujur saja, saya bisa pensiun keesokan harinya," ucap David kepada La Voix du Nord. Ia juga berharap turnamen ini dapat mengubah lanskap sepak bola di Kanada secara permanen. "Saya ingin Piala Dunia ini mengubah sepak bola di Kanada selamanya, menjadikannya olahraga nomor satu di negara ini," kata David kepada FIFA.com.
Kemenangan besar atas Qatar dan performa brilian Jonathan David tentu menjadi modal berharga bagi Kanada dalam mengarungi sisa pertandingan di Grup B Piala Dunia 2026. Momentum ini diharapkan dapat membangkitkan kepercayaan diri tim dan para penggemar, serta semakin mempopulerkan sepak bola di negara yang identik dengan olahraga musim dingin tersebut. Publik Kanada kini menantikan gebrakan lebih lanjut dari timnas kesayangan mereka di panggung dunia.











