{
“title”: “Diet Ala Viking Erling Haaland: Fokus Makanan Utuh, Tapi Perlu Kewaspadaan”,
“content”: “
Erling Haaland, striker tajam Borussia Dortmund, belakangan menarik perhatian publik bukan hanya karena performanya di lapangan hijau, melainkan juga karena pola makannya yang unik. Dikenal sebagai ‘Diet Viking’, menu santapan Haaland disebut-sebut menjadi salah satu kunci kebugaran dan performanya yang impresif. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penerapan diet ini memerlukan kehati-hatian dan tidak semata-mata bisa ditiru tanpa penyesuaian.
Inti dari diet yang dijalani oleh Haaland adalah konsumsi makanan utuh atau ‘whole foods’ dengan minim pengolahan. Konsep ini menekankan pada bahan-bahan alami yang belum banyak diubah dari bentuk aslinya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip gizi sehat yang umumnya menganjurkan pembatasan makanan olahan, tinggi gula, dan lemak jenuh.
Salah satu sumber yang mengulas diet Haaland menyebutkan bahwa sang pemain dilaporkan mengonsumsi organ dalam seperti hati. Selain itu, makanan seperti ikan, daging, sayuran, dan buah-buahan segar menjadi pilar utama. Pembatasan terhadap makanan olahan dan tambahan gula juga menjadi ciri khasnya. Sebagai contoh, ia disebut sangat membatasi konsumsi minuman manis.
Namun, seorang ahli gizi dari Universitas Indonesia, Wulan Ayuningrum, memberikan pandangan kritis. Menurutnya, meskipun prinsip makanan utuh sangat baik, beberapa aspek dari diet Haaland perlu dicermati lebih lanjut. Ia menekankan bahwa tidak semua orang memiliki toleransi atau kebutuhan nutrisi yang sama. “Setiap individu memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda, tergantung pada usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan metabolisme tubuh masing-masing,” ujar Wulan.
Wulan menambahkan bahwa organ dalam seperti hati memang kaya akan nutrisi, termasuk zat besi dan vitamin A. Akan tetapi, konsumsi berlebihan organ dalam bisa berisiko, terutama bagi individu dengan kondisi tertentu. “Konsumsi hati yang berlebihan bisa menyebabkan kelebihan vitamin A yang toksik, serta berpotensi meningkatkan kadar kolesterol bagi sebagian orang,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar penerapan diet semacam ini sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan profesional kesehatan atau ahli gizi. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa asupan nutrisi yang didapat tetap seimbang dan sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing individu. Modifikasi mungkin diperlukan agar diet tetap aman dan efektif.
“
}
