Indonesia Terancam Kalah Saing di ASEAN: Defisit Neraca Perdagangan Ungkap Kerentanan Struktural di Tengah Ekonomi Global Bergejolak

Yohanes

JAKARTA – Di tengah upaya pemerintah mempertahankan stabilitas ekonomi pasca-defisit neraca perdagangan pertama dalam enam tahun terakhir, kekhawatiran tentang menurunnya daya saing Indonesia di kancah ASEAN kembali mengemuka. Pelaku usaha dan pengamat ekonomi menyoroti tantangan struktural yang dihadapi negeri ini.

Meskipun Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, kemampuan bersaing dalam rantai pasok global justru semakin tertekan. Berbeda dengan Vietnam dan Filipina yang gencar menarik investasi asing melalui insentif dan infrastruktur logistik, Indonesia dinilai masih terjebak pada nilai tambah industri yang stagnan.

Defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 menjadi bukti nyata kerapuhan struktur ekonomi. Surplus yang bertahan selama 72 bulan sebelumnya, ditopang oleh lonjakan harga komoditas, kini berbalik arah seiring koreksi harga global dan pelemahan permintaan eksternal akibat kebijakan moneter ketat Amerika Serikat.

Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi salah satu poin paling mengkhawatirkan. Industri pangan sehat, misalnya, masih banyak bergantung pada pasokan dari luar negeri untuk menjaga kualitas dan menekan biaya produksi jangka pendek. Hal ini justru kontraproduktif dengan tujuan ketahanan pangan nasional dan memperparah defisit transaksi berjalan saat Rupiah melemah.

Di mata investor global, biaya berbisnis di Indonesia mulai kurang menarik dibandingkan negara tetangga. Vietnam telah memantapkan diri sebagai pusat manufaktur alternatif utama, didukung perjanjian perdagangan bebas dan tenaga kerja produktif. Sementara Filipina unggul dalam sektor jasa dan teknologi digital.

Kedua negara tersebut menawarkan ekosistem regulasi yang lebih sederhana dan kepastian hukum yang lebih baik. Sebaliknya, Indonesia masih bergulat dengan birokrasi yang berbelit dan ketidakpastian regulasi yang sering berubah. Hal ini menciptakan friksi dan menghambat efisiensi operasional perusahaan multinasional.

Dampak kebijakan moneter global juga turut memengaruhi kondisi ini. Kenaikan suku bunga acuan di negara-negara maju mendorong pengetatan likuiditas global, yang berimbas pada aliran investasi ke negara berkembang seperti Indonesia.

Peningkatan inflasi menjadi tantangan lain yang harus dihadapi. Tekanan inflasi yang tinggi dapat menggerus daya beli masyarakat dan menekan profitabilitas perusahaan, yang pada akhirnya berdampak pada kemampuan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional.

Para pengamat menyerukan agar pemerintah segera melakukan reformasi struktural mendalam. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan iklim investasi, penyederhanaan regulasi, serta penguatan industri pengolahan dalam negeri menjadi kunci untuk memulihkan dan meningkatkan daya saing Indonesia di panggung global, khususnya di kawasan ASEAN.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All