IHSG Menguat Tipis di Penutupan Sesi II, Lampaui 5.900 Poin

Emanuel

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Senin, 6 Juli 2026, dengan catatan positif. Kinerja pasar modal domestik ini ditutup menguat 0,69%, mencapai level 5.916,07 poin. Penguatan ini didukung oleh sentimen positif dari bursa saham Asia yang bergerak bervariasi, serta antisipasi pasar terhadap rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Perdagangan sesi kedua menunjukkan IHSG meraih tambahan 40,23 poin. Nilai transaksi yang tercatat masih terbilang moderat, mencapai Rp 9,50 triliun. Sebanyak 19,83 miliar saham berpindah tangan melalui 1,63 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri berada di kisaran Rp 10.378 triliun. Secara rinci, sebanyak 386 saham ditutup menguat, 242 saham melemah, dan 155 saham lainnya stagnan.

Mayoritas sektor di BEI menunjukkan performa positif. Sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mengalami koreksi. Sektor infrastruktur, finansial, properti, dan industri menjadi motor penggerak utama kenaikan. Sejumlah emiten unggulan yang turut menopang pergerakan IHSG antara lain BBRI, DCII, BBCA, BRMS, dan TPIA.

Pergerakan pasar keuangan global dan domestik pekan ini akan dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi penting. Dari Amerika Serikat, pelaku pasar menanti indikator sektor jasa dan risalah rapat The Fed. Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian tertuju pada data cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta survei penjualan eceran Bank Indonesia.

Di pasar komoditas global, OPEC+ sepakat untuk kembali menaikkan target produksi minyak mentah sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Agustus mendatang. Keputusan yang diumumkan pada Minggu, 5 Juli 2026, ini bertujuan menambah pasokan minyak global di tengah tren pelemahan harga dan pemulihan ekspor melalui Selat Hormuz. Kenaikan kuota produksi ini merupakan lanjutan dari kebijakan serupa pada Juni dan Juli.

Secara kumulatif, tujuh anggota inti OPEC+ telah meningkatkan target produksi hampir 800.000 bph sejak April. Namun, realisasi produksi belum sepenuhnya mengikuti peningkatan target. Gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz akibat ketegangan geopolitik sempat mempengaruhi produksi. Produksi OPEC+ tercatat turun pada Mei sebelum menunjukkan pemulihan pada Juni.

Harga minyak dunia saat ini berada di kisaran US$72 per barel, jauh di bawah puncaknya yang sempat menyentuh lebih dari US$120 per barel. Pelemahan harga ini dipicu oleh penurunan impor minyak Tiongkok, peningkatan pasokan dari produsen di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis global.

OPEC+ juga menghadapi tantangan internal, termasuk keluarnya Uni Emirat Arab dari aliansi dan dorongan Irak untuk kuota produksi yang lebih besar. Analisis Reuters memperkirakan masih ada sekitar 379.000 bph pemangkasan produksi yang belum dikembalikan ke pasar oleh tujuh anggota inti. Jika kenaikan produksi kembali dilakukan pada pertemuan 2 Agustus, pemangkasan produksi yang disepakati pada 2023 diperkirakan akan berakhir sepenuhnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All