Kelompok milisi Houthi di Yaman melayangkan ancaman serangan terhadap bandara-bandara di Arab Saudi. Pernyataan keras ini muncul menyusul klaim Houthi atas upaya pencegatan pesawat sipil Iran oleh jet tempur Saudi di wilayah udara Yaman.
Menurut juru bicara Houthi, Yahya Saree, insiden tersebut terjadi pada pukul 05.20 waktu setempat. Pesawat tempur Saudi dituding melanggar wilayah udara Yaman yang dikuasai Houthi. Tujuannya diduga untuk menghalangi pesawat sipil Iran yang membawa lebih dari 200 warga Yaman, termasuk yang terluka dan sakit, mendarat di Bandara Internasional Sanaa.
"Kami memperingatkan musuh Saudi yang kriminal agar tidak mengulangi upaya apa pun untuk melanggar wilayah udara kami atau agresi apa pun yang menargetkan negara kami," tegas Saree dalam pernyataan video. "Tindakan seperti itu akan dibalas dengan respons komprehensif yang menargetkan bandara dan kepentingan vitalnya di darat dan laut."
Saree menambahkan bahwa penerbangan antara Sanaa, yang dikuasai Houthi, dan Teheran akan terus berlanjut, terlepas dari potensi konsekuensi. Laporan media Houthi sebelumnya menyebutkan bahwa pesawat sipil Iran tersebut berhasil mendarat dan kembali ke Teheran. Pesawat itu diduga membawa delegasi Houthi untuk menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Kelompok Houthi menyatakan pasukannya siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka menegaskan kesiapan untuk melaksanakan arahan yang bertujuan mematahkan blokade yang dilakukan Saudi dan Amerika Serikat. Namun, rincian lebih lanjut mengenai rencana tersebut tidak diungkapkan.
Ancaman ini menambah ketegangan di tengah upaya perdamaian yang sempat menunjukkan kemajuan. Beberapa bulan sebelumnya, pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan Houthi berhasil menyetujui pertukaran tahanan terbesar mereka pada Mei.
Konflik antara Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional telah berlangsung sejak 2015. Perang ini telah merenggut ratusan ribu nyawa dan memicu krisis kemanusiaan yang parah. Saat ini, Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk pusat-pusat populasi utama. Sementara itu, pemerintah internasional menguasai wilayah selatan. Pertempuran besar sebagian besar telah mereda sejak gencatan senjata yang dinegosiasikan PBB pada tahun 2022.











