Jakarta – Suasana tegang menyelimuti kawasan Hotel Sultan, Jakarta, pada Rabu (17/6/2026). Ratusan simpatisan memadati area depan hotel bersejarah tersebut, menyuarakan penolakan keras terhadap rencana eksekusi lahan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah pada hari Kamis (18/6/2026). Aksi ini merupakan puncak dari rangkaian kekhawatiran mengenai nasib aset dan ribuan karyawan yang bergantung pada operasional hotel tersebut.
Pantauan di lokasi menunjukkan mayoritas massa mengenakan pakaian berwarna biru, membaur dengan para pekerja hotel yang juga turut hadir. Mereka membawa berbagai spanduk berisi slogan-slogan penolakan, menyuarakan aspirasi agar eksekusi lahan tersebut dibatalkan. Kehadiran para pekerja Hotel Sultan yang mengenakan seragam di tengah kerumunan simpatisan menambah kuatnya gelombang solidaritas dan keprihatinan atas potensi hilangnya mata pencaharian mereka.
Salah seorang pekerja Hotel Sultan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kegelisahannya. "Kalau soal pekerjaan, belum ada informasi kelanjutan dari manajemen," ujarnya lirih saat ditanya mengenai nasib pekerjaan mereka pascaeksekusi lahan oleh pemerintah. Kekhawatiran akan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal menjadi motif utama di balik aksi solidaritas ini. Para simpatisan dan pekerja berharap langkah eksekusi dapat dipertimbangkan kembali demi menjaga kelangsungan pekerjaan dan stabilitas ekonomi para staf hotel.
Di sisi lain, peningkatan pengamanan terlihat jelas di sekitar area Hotel Sultan. Deretan mobil sedan polisi telah terparkir di berbagai sudut, menandakan kesiapan pihak berwenang untuk mengamankan proses eksekusi yang dijadwalkan esok hari. Beberapa akses masuk menuju Hotel Sultan juga dilaporkan telah ditutup rapat, dengan spanduk bertuliskan "Aset Milik Negara" terpasang di pagar-pagar akses tersebut, menggarisbawahi status kepemilikan lahan yang menjadi sengketa.
Pihak Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno (PPKGBK) sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa eksekusi pengosongan lahan Blok 15, yang merupakan lokasi Hotel Sultan, akan dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026. Guna mendukung kelancaran proses tersebut, sejumlah akses di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) akan ditutup sementara. Penutupan ini berlaku mulai pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, mencakup Pintu 5, Pintu 7, dan Pintu 8 yang berada di area Blok 15.
Tidak hanya itu, penutupan sementara juga akan diberlakukan di kawasan Parkir Timur, Hutan Kota, Stadion Softball, hingga ruas Jalan KTT yang mengarah ke Jakarta International Convention Center (JICC). Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan kelancaran pelaksanaan eksekusi pengosongan lahan yang melibatkan aset negara.
Konflik terkait lahan Hotel Sultan ini bermula dari status kepemilikan yang dipersengketakan antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pihak pengelola hotel. Lahan ini merupakan bagian dari kompleks GBK yang dikelola oleh PPKGBK. Pengadilan telah memutuskan bahwa lahan tersebut adalah milik negara, dan eksekusi pengosongan menjadi langkah lanjutan dari putusan tersebut.
Keputusan eksekusi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi para pekerja Hotel Sultan. Mereka berjuang bukan hanya untuk mempertahankan tempat kerja, tetapi juga untuk memastikan keberlangsungan hidup keluarga mereka. Aksi yang berlangsung pada hari ini merupakan bentuk perlawanan damai dan upaya terakhir untuk menarik perhatian publik serta pemangku kepentingan agar mencari solusi yang tidak merugikan ribuan karyawan yang telah mengabdikan diri di hotel tersebut.
Situasi di depan Hotel Sultan pada Rabu sore menunjukkan adanya kesiapan dari berbagai pihak. Simpatisan terus berdatangan, menyuarakan dukungan mereka. Sementara itu, pihak kepolisian dan petugas keamanan tampak bersiaga, mengantisipasi potensi kericuhan meskipun hingga berita ini diturunkan, suasana masih terkendali.
Dampak dari eksekusi lahan ini tidak hanya sebatas pada aspek legal dan kepemilikan aset, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi. Nasib ratusan hingga ribuan karyawan yang bekerja di Hotel Sultan menjadi taruhan utama. Pertanyaan besar masih menggantung: apakah akan ada solusi kompromi sebelum eksekusi dilakukan, ataukah Hotel Sultan akan segera menghentikan operasionalnya dan meninggalkan para pekerjanya dalam ketidakpastian? Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau secara ketat, mengingat besarnya implikasi dari kasus ini.











