Penurunan tajam populasi usia muda di Beijing memicu pertanyaan tentang daya tarik ibu kota Tiongkok. Fenomena ini bukan sekadar tren demografis, melainkan cerminan pergeseran prioritas generasi muda yang kini lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan biaya yang terjangkau dibandingkan gengsi metropolitan. Mahasiswa seperti Zhao Haozhe, 20, yang belum pernah tinggal di luar Beijing, kini mulai melirik peluang di kota-kota lain. Meskipun yakin keahliannya dibutuhkan di ibu kota, ia memprioritaskan daerah dengan biaya hidup lebih rendah untuk membangun kemandirian.
"Saya penasaran bagaimana rasanya tinggal di luar kota asal, jauh dari keluarga, dan membangun kehidupan sendiri," ujar Zhao, mahasiswa keperawatan tingkat dua. "Biaya hidup dan sewa tempat tinggal relatif lebih murah di daerah lain, jadi akan lebih mudah menjalani hidup meski tanpa dukungan keluarga di kota asal saya." Pernyataannya mencerminkan pandangan yang kian meluas di kalangan anak muda Beijing, yang mulai menimbang ulang keunggulan kota metropolitan dengan berbagai tantangan yang ada.
Dalam satu dekade terakhir, jumlah penduduk Beijing berusia 20 hingga 29 tahun dilaporkan menyusut drastis. Data resmi yang dipublikasikan Mei lalu oleh China Economic Observer menunjukkan penurunan dari sekitar 4,62 juta orang pada 2015 menjadi 2,49 juta orang pada 2024. Angka ini, yang mencakup penduduk yang tinggal rutin lebih dari enam bulan, menunjukkan pergeseran signifikan dalam profil demografis kota.
Analis memperingatkan agar angka tersebut tidak diartikan sebagai eksodus besar-besaran semata. Zhao Litao, peneliti senior di East Asian Institute (EAI), National University of Singapore, menekankan bahwa tren ini dipengaruhi oleh berbagai faktor demografis dan perubahan arus migrasi yang lebih luas. "Tren ini memang nyata, tetapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan," jelasnya.
Namun, penyusutan populasi muda ini sudah mulai terasa dampaknya di pasar properti Beijing. Agen properti melaporkan penurunan permintaan di sebagian pasar perumahan dan sewa, terutama di kawasan yang sebelumnya populer di kalangan anak muda seperti Tiantongyuan. Hou Junyi, manajer Century 21 di Tiantongyuan, mengamati penurunan aktivitas jual beli dan sewa sekitar 20 hingga 30 persen dalam beberapa tahun terakhir.
"Harga sewa secara alami turun seiring melemahnya permintaan," kata Hou. "Tetapi, meski harga sewa lebih rendah, kondisi itu belum benar-benar mampu membangkitkan minat yang kuat atau mendorong pemulihan pasar secara signifikan." Agen properti lainnya, Hua, menambahkan bahwa mereka kini harus lebih proaktif memasarkan properti karena calon penyewa yang datang semakin sedikit.
Fenomena ini juga dicontohkan oleh Cui Xuan, 22, mahasiswa desain produk asal Shandong, yang memilih menerima tawaran pekerjaan di Sydney setelah menjalani magang di sana. Baginya, keputusan ini bukan karena kurangnya peluang di Beijing, melainkan karena ia mempertanyakan apakah keuntungan hidup di sana sepadan dengan tekanan yang harus dihadapi. "Perjalanan pergi-pulang kerja di Beijing sangat menantang," ujarnya. "Saya tidak yakin ingin menjalani kehidupan seperti itu."
Cui juga menyoroti kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi di kota besar seperti Beijing. "Dalam bidang pekerjaan saya, tekanan dan tuntutan hidup di kota yang serba cepat seperti Beijing bisa terasa berlebihan… tak ada work-life balance," keluhnya. Ia bahkan mempertimbangkan untuk tidak berkarier di bidang yang sesuai dengan jurusannya demi kualitas hidup yang lebih baik.
Secara demografis, proporsi penduduk usia 20-29 tahun di Beijing turun dari 21,3 persen pada 2015 menjadi 11,4 persen pada 2024, mendekati rata-rata nasional. Sebaliknya, jumlah penduduk lansia (60 tahun ke atas) terus meningkat. Pada 2024, dari setiap 100 penduduk Beijing, sekitar 11 orang berusia 20-29 tahun, sementara 24 orang berusia 60 tahun ke atas.
Penurunan ini tidak hanya terjadi di Beijing. Provinsi seperti Henan, Hebei, dan Anhui juga mengalami penurunan proporsi penduduk usia muda. Namun, Beijing menonjol karena proporsi penduduk mudanya pernah jauh di atas rata-rata nasional. Peng Xiujian, peneliti senior di Centre of Policy Studies, Victoria University, menjelaskan bahwa tren ini adalah gabungan antara persoalan demografi dan migrasi. Penurunan angka kelahiran dan menyusutnya kelompok usia muda di Tiongkok menjadi latar belakang utama, ditambah dengan meningkatnya biaya hidup dan kebijakan Beijing untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.
Meskipun demikian, Beijing masih menarik bagi lulusan berkualifikasi tinggi, profesional muda di sektor berbasis pengetahuan, serta mereka yang ingin berkarier di pemerintahan, riset, keuangan, media, budaya, dan teknologi. Zhao Litao menyebutkan bahwa Beijing adalah pusat politik, administrasi, budaya, pendidikan, dan riset nasional, yang memengaruhi strukturnya di luar mekanisme pasar semata.
Namun, bagi sebagian anak muda, pilihan kini lebih beragam. Kota-kota seperti Hangzhou, Chengdu, Suzhou, Wuhan, Xi’an, dan Hefei semakin dilirik karena industrinya yang berkembang pesat dengan biaya hidup yang lebih terjangkau. "Perbaikan infrastruktur, konektivitas digital, dan peningkatan kualitas industri telah menciptakan peluang yang menarik di lebih banyak kota," ujar Peng.
Fenomena ini menunjukkan adanya redistribusi talenta dan tenaga kerja muda di Tiongkok, mencerminkan munculnya ekonomi perkotaan yang semakin beragam. Beijing mungkin tidak lagi menjadi pilihan otomatis, tetapi tetap penting. Perubahan ini dapat berdampak pada permintaan perumahan, pola konsumsi, dan ketersediaan tenaga kerja jangka panjang di ibu kota.
Di sisi lain, masih banyak anak muda yang memilih bertahan di Beijing. Gu Ling, mahasiswa hukum tingkat akhir, meyakini pendidikan pascasarjana di Beijing akan meningkatkan kualifikasi dan daya saingnya. Begitu pula Xia Xiuze, mahasiswa fisika, yang ingin bekerja di bidang riset dan pengembangan di Beijing karena kota ini dikenal sebagai pusat riset unggulan.
Bagi mereka, tekanan hidup di Beijing sepadan dengan peluang karier yang ditawarkan. "Selama kemampuan Anda dapat membantu memperoleh pekerjaan dengan imbalan yang setara atau bahkan lebih besar daripada tekanan yang dihadapi, saya tidak melihat adanya masalah," kata Xia. Persoalan utamanya bukan apakah Beijing mampu mempertahankan jumlah penduduk mudanya, melainkan apakah kota itu dapat terus menarik proporsi talenta muda terbaik Tiongkok di tengah masyarakat yang menua.











