Fabio Quartararo, pembalap andalan Monster Energy Yamaha, mengungkapkan rasa frustrasi mendalam terkait ketidakstabilan performa motornya selama akhir pekan MotoGP Ceko. Ia mengaku merasa "tersesat" di awal balapan Sprint karena perasaan pada motor Yamaha YZR-M1-nya berubah drastis dari satu sesi ke sesi lainnya. Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Quartararo dalam upayanya meraih hasil optimal di lintasan.
Perjalanan Quartararo di Sirkuit Brno, Ceko, sejak awal sesi latihan menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan. Sesi latihan bebas pertama (FP1) sempat memberikan angin segar dengan menempati posisi kedua. Namun, performa menurun drastis di sesi latihan sore harinya, di mana ia hanya mampu berada di posisi ke-14. Kondisi serupa berlanjut pada hari Sabtu, di mana Quartararo harus memulai sesi kualifikasi dari posisi ke-15. Puncak kekecewaan terjadi pada balapan Sprint, di mana ia finis di urutan ke-13 dari 15 pembalap yang menyelesaikan lomba. Ia bahkan tertinggal 15 detik dari pemenang dalam balapan singkat 10 lap tersebut, hanya mampu mengungguli rekan setimnya sesama pengguna Yamaha, Jack Miller dan Alex Rins.
"Ini sangat membuat frustrasi karena pagi ini tidak luar biasa, tetapi tidak separah sore ini," ujar Quartararo usai balapan Sprint di Ceko. "Perasaan motor saya berubah setiap saat, baik itu Sprint atau balapan, dan sepertinya di lap pertama saya benar-benar tersesat, saya tidak tahu mengapa. Aneh merasakan hal seperti itu."
Ketidakpastian performa ini sangat memengaruhi kemampuannya untuk bersaing. Quartararo menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada hilangnya performa di lap-lap awal. Fenomena ini yang membuatnya kesulitan menjaga ritme dan disalip oleh pembalap lain, termasuk rookie MotoGP, Toprak Razgatlioglu.
Perbedaan strategi pemilihan kompon ban belakang juga turut memperburuk keadaan. Quartararo memilih kompon lunak (soft), sementara Razgatlioglu menggunakan kompon medium. Kompon lunak yang dipilih Quartararo, meskipun memberikan cengkeraman lebih baik di awal, justru cepat mengalami overheating karena gaya balapnya yang banyak mengandalkan bagian belakang motor untuk berbelok. Hal ini membuatnya kesulitan untuk mengejar ketertinggalan dari Razgatlioglu, yang mampu mempertahankan kecepatan lebih stabil sepanjang balapan.
"Terutama di lap-lap awal dia (Razgatlioglu) lebih cepat, lalu saya bisa sedikit bertahan, tetapi dengan ban belakang lunak saya mengalami overheating cukup parah," jelas Quartararo. "Kami banyak menggunakan bagian belakang untuk membuat motor berbelok, dan di akhir balapan ban belakang saya habis. Ini sangat aneh, saya tidak mengerti mengapa saya sangat lambat di balapan. Ini membuat frustrasi."
Quartararo menambahkan bahwa inkonsistensi performa dari satu sesi ke sesi lainnya ini bukanlah masalah baru bagi Yamaha. Ia mengakui bahwa musim sebelumnya juga menunjukkan pola serupa, terutama ketika cengkeraman lintasan mulai menurun. Namun, performa yang ia tunjukkan di Ceko kali ini terasa sangat tidak biasa.
"Tahun lalu agak sama, terutama ketika cengkeraman menurun kami lebih kesulitan. Tapi hari ini benar-benar aneh. Saya tahu kecepatan saya sedikit lebih cepat hari ini, tetapi hari ini saya sangat lambat di sore hari," ungkap Quartararo.
Situasi yang dihadapi Quartararo mencerminkan tantangan yang lebih luas yang dihadapi tim pabrikan Yamaha di MotoGP. Sejak era dominasi mereka berakhir, tim Garpu Tala terus berjuang untuk menemukan kembali jati diri mereka dan bersaing di papan atas. Berbagai upaya pengembangan telah dilakukan, termasuk pembaruan aerodinamika dan mesin, namun hasil yang konsisten masih sulit dicapai.
Perasaan yang berubah-ubah pada motor menjadi salah satu indikator bahwa ada sesuatu yang mendasar perlu dibenahi dalam sasis atau pengaturan motor. Hal ini bukan hanya memengaruhi Quartararo, tetapi juga rekan setimnya, Franco Morbidelli, serta pembalap satelit yang menggunakan motor Yamaha.
Para insinyur Yamaha kini menghadapi tugas berat untuk mengidentifikasi akar permasalahan dari inkonsistensi ini. Apakah ini terkait dengan desain sasis, elektronik, atau kombinasi dari berbagai faktor, perlu segera ditemukan solusinya. Ketergantungan pada ban belakang untuk manuver berbelok, seperti yang diungkapkan Quartararo, bisa menjadi area krusial yang perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam pengembangan motor.
Performa di MotoGP sangat bergantung pada kemampuan pembalap untuk merasa nyaman dan percaya diri dengan motornya. Ketika perasaan itu berubah-ubah secara drastis, seperti yang dialami Quartararo, maka sulit untuk memaksimalkan potensi yang ada. Balapan di Ceko ini menjadi pengingat bahwa Yamaha masih memiliki jalan panjang untuk kembali ke puncak persaingan MotoGP, dan pembalap bintang mereka, Fabio Quartararo, menjadi garda terdepan dalam perjuangan tersebut. Perkembangan selanjutnya dalam pengujian dan pengembangan motor akan menjadi sorotan utama bagi para penggemar MotoGP dan tim Yamaha.











