Pemain sayap andalan tim nasional Belgia, Jeremy Doku, mendadak menjadi sorotan tajam di tengah euforia Piala Dunia 2026. Keputusannya untuk mempertimbangkan meninggalkan pemusatan latihan demi mendampingi momen persalinan anak pertamanya memicu perdebatan sengit di kalangan publik dan media. Istri Doku, Shireen, diperkirakan akan melahirkan pada pekan kedua Juli 2026, yang bertepatan dengan jadwal krusial babak perempat final turnamen akbar empat tahunan ini.
Doku sendiri tidak menampik adanya dilema yang ia hadapi. Sebagai ayah yang akan menyambut anak pertamanya, naluri untuk hadir di momen bersejarah tersebut begitu kuat. "Ini anak pertama saya, jadi saya pasti ingin berada di sana," ungkap Jeremy Doku kepada Reuters, yang dikutip oleh BBC pada Minggu, 21 Juni 2026. Namun, pemain Manchester City ini juga menyadari bobot tanggung jawabnya sebagai wakil negara di kancah sepak bola tertinggi.
"Jika Anda bertanya apa yang saya inginkan, jawaban saya adalah tidak ada seorang pun yang ingin melewatkan kelahiran anak pertamanya. Tetapi saya juga tahu bahwa sepak bola melibatkan banyak pertimbangan lain," tambahnya. Doku berharap federasi sepak bola Belgia, Royal Belgian FA, dapat memahami situasinya dan mencari solusi terbaik. "Saya tahu federasi mendukung para pemainnya dan memahami situasi mereka. Kita lihat saja apa yang bisa kita lakukan," tuturnya penuh harap.
Keputusan Doku yang berpotensi membuatnya absen di fase krusial Piala Dunia 2026 tak pelak mengundang kritik pedas. Salah satunya datang dari presenter olahraga ternama saluran L’Equipe asal Prancis, France Pierron. Melalui media sosial, Pierron mengungkapkan kekecewaannya dan menyebut kesempatan bermain di Piala Dunia sebagai impian langka yang tak boleh disia-siakan.
"Piala Dunia adalah kegembiraan yang luar biasa," tulis France Pierron dalam unggahannya di halaman Facebook L’Equipe. Ia menekankan betapa banyak pemain yang rela melakukan apa saja demi berada di posisi Doku saat ini. "Ada ratusan pemain sepak bola yang rela melakukan apa saja untuk berada di posisimu. Mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi lagi seumur hidupmu," tegasnya.
Lebih jauh, Pierron melontarkan komentar kontroversial mengenai peran ayah dalam proses persalinan. Ia berpendapat bahwa sang ayah memiliki peran yang minim dalam momen tersebut. "Kau sedang mewujudkan mimpi masa kecil, namun kau akan meninggalkan semuanya untuk menghadiri kelahiran anakmu – momen yang menjijikkan, jika boleh dibilang begitu, di mana sang ayah sama sekali tidak berguna," ujar Pierron, yang langsung memicu gelombang reaksi negatif.
Namun, di tengah badai kritik, Doku juga menemukan dukungan. Mantan petinju peraih medali emas Olimpiade Sydney 2000 asal Prancis, Brahim Asloum, justru membela keputusan sang pemain. Asloum berpandangan bahwa keluarga memiliki prioritas utama yang tak tergantikan. "Seorang bayi adalah seluruh hidupmu. Piala Dunia berakhir ketika sudah selesai," tulis Asloum sebagai bentuk dukungannya.
Menyadari komentar kontroversialnya telah menimbulkan kegaduhan dan menyinggung banyak pihak, France Pierron akhirnya memberikan klarifikasi dan permohonan maaf terbuka pada hari Sabtu. Ia menjelaskan bahwa pandangannya tersebut merupakan opini pribadi dalam konteks perdebatan yang sengit.
"Saya sedang menyampaikan opini pribadi, dalam konteks pertukaran pendapat yang kontroversial," kata France Pierron melalui akun X pribadinya. Ia mengaku menyesal jika pernyataannya telah menyakiti atau melukai perasaan sebagian orang. "Saya mengerti bahwa hal itu mungkin telah mengejutkan, menyakiti, atau melukai sebagian dari Anda, dan saya menyesalinya," tuturnya. Pierron menegaskan bahwa niatnya tidak pernah untuk merendahkan peran penting seorang ayah dalam keluarga. "Niat saya tidak pernah untuk mengecilkan tempat atau peran ayah dalam hubungan pasangan dan anak mereka," pungkasnya.
Keputusan Jeremy Doku ini setidaknya membuka kembali diskusi tentang keseimbangan antara karier profesional yang menuntut dedikasi tinggi dengan tanggung jawab personal dan keluarga, terutama dalam momen-momen krusial dalam kehidupan pribadi seorang atlet. Federasi sepak bola Belgia sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait bagaimana mereka akan menyikapi potensi absennya salah satu pemain kunci mereka di fase penting Piala Dunia 2026. Situasi ini tentu akan terus berkembang dan menjadi perhatian publik sepak bola global.











