Dari Lapangan Sepak Bola ke Panggung Badminton Dunia: Kisah Inspiratif Damo Enou Marc

Wibowo

Kisah Damo Enou Marc, seorang pegiat badminton akar rumput dari Pantai Gading, menawarkan narasi inspiratif tentang bagaimana kecintaan pada olahraga dapat membentuk jalur kehidupan. Dari masa kecil yang penuh gairah pada sepak bola hingga perannya sebagai Koordinator Shuttle Time di Federasi Badminton Pantai Gading, perjalanan Marc mencerminkan dedikasi, ketekunan, dan semangat berbagi.

Lahir di Port Bouët, sebuah distrik di Abidjan, Pantai Gading, Damo Enou Marc tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, seorang atlet dan pelukis, menanamkan nilai sportivitas dalam diri Marc sejak dini. Masa kecilnya didominasi oleh sepak bola, sebuah olahraga yang menuntut perjuangan untuk mendapatkan tempat. Lingkungan tempat ia tumbuh, seperti di Gonzaque Ville, seringkali dihadapkan pada pemadaman listrik yang menyulitkan kegiatan belajar di malam hari.

Ketertarikannya pada sepak bola begitu besar hingga pada bangku kelas delapan, ia sempat dilarang bermain. Namun, larangan tersebut tidak memadamkan semangatnya; Marc kerap bersembunyi untuk bermain bersama teman-temannya di sekolah. Lulus dari sekolah menengah pada tahun 2003, ia berhasil masuk ke Institut Nasional Pemuda dan Olahraga (INJS) untuk menempuh pendidikan sebagai guru Pendidikan Jasmani. Di INJS, Marc sepenuhnya tenggelam dalam dunia olahraga, dan sejak tahun pertama, ia dipercaya menjadi penjaga gawang tim sepak bola INJS selama empat tahun masa pelatihannya.

Titik balik dalam kehidupan olahraga Marc terjadi pada tahun 2014. Di sebuah lapangan sepak bola di munisipalitas Marcory, ia pertama kali diperkenalkan pada raket dan shuttlecock oleh temannya, Stéphane Kouamé, yang kini menjabat sebagai Koordinator Shuttle Time. Setahun kemudian, Kouamé mengundang Marc untuk mengikuti program Pelatihan Guru Shuttle Time. Hanya dalam satu hari, Marc menunjukkan bakat dan potensinya yang luar biasa, mendorongnya untuk lebih mendalami olahraga baru ini.

Antusiasme Marc tidak berhenti di situ. Pada tahun yang sama, ia berhasil mengirimkan lima atlet binaannya ke kejuaraan, dan salah satunya, Gnonsèka Grâce, berhasil meraih gelar juara junior. Keberhasilan ini memberikannya kebanggaan yang luar biasa. Namun, takdir berkata lain. Setelah meraih gelar juara Afrika di Maracana bersama Pantai Gading, karier sepak bolanya terpaksa terhenti akibat cedera lutut yang serius.

Proses pemulihan yang panjang memaksanya untuk rehat dari lapangan hijau. Di tengah masa pemulihannya, teman-temannya meyakinkannya untuk sepenuhnya mendedikasikan diri pada bulu tangkis. Sejak saat itulah, Marc tidak pernah lepas dari raket dan shuttlecock kesayangannya. Kini, bulu tangkis bukan hanya sekadar olahraga baginya, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Perjalanan Marc dalam bulu tangkis terus berkembang. Ia berkesempatan memperdalam pemahamannya melalui berbagai seminar pelatihan, termasuk di Tiongkok pada tahun 2018 dan Malaysia pada tahun 2022. Pengalaman internasional ini memberikannya wawasan berharga, baik secara teknis maupun taktis sebagai seorang pelatih. Inspirasi dari New Vision Badminton Academy di Malaysia membawanya untuk mendirikan akademi bulu tangkis di wilayahnya sendiri.

Ambisi Marc adalah menciptakan model struktur olahraga yang serupa di Pantai Gading, agar para atlet muda dapat bersinar di kancah Afrika. Untuk mewujudkan mimpinya, ia mencurahkan seluruh waktunya untuk melatih anak-anak di daerahnya. Ia meyakini bahwa usia muda adalah waktu yang tepat untuk membentuk karakter dan keterampilan atlet secara optimal.

Momen paling berkesan dalam perjalanan bulu tangkisnya termasuk pertandingan pertamanya melawan pelatihnya, Stéphane Kouamé, di mana ia berhasil mencetak beberapa poin meski harus mengakui keunggulan sang pelatih. Meraih trofi pertamanya sebagai pelatih pada tahun 2015 juga menjadi catatan penting. Tak lupa, kelulusan ujian BWF Level 1, yang dilaluinya saat sedang berjuang melawan cedera lutut yang parah, menjadi bukti ketangguhan dan kegigihannya.

Bagi Marc, bulu tangkis adalah olahraga yang sarat nilai. Intensitas fisik yang dibutuhkan sangat luar biasa, namun aspek mentalnya jauh lebih menarik. Ia kini tidak memiliki olahraga favorit lain selain bulu tangkis, menunjukkan betapa dalamnya ia mencintai olahraga ini.

Dalam upayanya mengembangkan bulu tangkis di komunitas, Marc memfokuskan perhatiannya pada anak-anak usia dini. Ia aktif menjalin kerjasama dengan sekolah menengah dan pertama di wilayahnya, meminta izin untuk mengintegrasikan bulu tangkis ke dalam kurikulum olahraga mereka. Melalui program ini, atlet-atlet muda yang menunjukkan bakat menonjol akan diseleksi untuk mewakili sekolah mereka, dan selanjutnya berkesempatan mengikuti kejuaraan nasional. Marc juga proaktif merekrut rekan-rekan guru dan bahkan para peserta pelatihan untuk diperkenalkan pada olahraga ini, dengan harapan mereka dapat melanjutkan estafet pembinaan di sekolah masing-masing, sementara ia memberikan dukungan dan bimbingan berkelanjutan.

Sistem Shuttle Time terbukti memberikan dampak positif yang signifikan di wilayahnya. Tahun ini, bulu tangkis telah resmi diperkenalkan dalam olahraga sekolah oleh Kantor Olahraga Sekolah dan Universitas Pantai Gading (OISSU). Hal ini memicu minat dari wilayah lain yang mulai menghubunginya untuk menerapkan program serupa di sekolah-sekolah mereka. Dengan demikian, jumlah pemain bulu tangkis di bagian timur negara itu diproyeksikan akan terus bertambah, membuka peluang lebih luas bagi pengembangan olahraga ini di Pantai Gading.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All