Perlambatan ekonomi kini bukan lagi sekadar isu makro. Dampaknya mulai terasa nyata di tingkat rumah tangga, terwujud dalam pelemahan daya beli dan penurunan pendapatan. Sebuah survei yang dirilis Juni 2026 lalu mengonfirmasi kekhawatiran ini, menunjukkan mayoritas masyarakat menilai kondisi ekonomi nasional memburuk.
Menanggapi temuan tersebut, Kepala Unit Rumah Kerja DPP Partai Perindo, Agus Taufiq, menyatakan bahwa hasil survei ini menjadi sinyal peringatan serius. Perlambatan ekonomi telah memberikan pukulan telak bagi dunia kerja dan keberlangsungan usaha masyarakat.
"Survei ini mencatat 47,3 persen responden menganggap ekonomi Indonesia buruk. Ditambah 8,9 persen yang menyatakan sangat buruk," ujar Agus di Jakarta, Senin (6/7/2026). "Ketika lebih dari separuh masyarakat merasakan tekanan ekonomi, ini adalah peringatan bahwa perlambatan sudah merasuk hingga ke tingkat rumah tangga."
Agus Taufiq menilai persepsi negatif masyarakat ini sangat sejalan dengan kondisi pendapatan riil mereka. Survei yang sama mengungkap fakta mencengangkan: 39,7 persen responden mengaku pendapatannya stagnan. Lebih parah lagi, 30,5 persen mengalami penurunan pendapatan akibat melambatnya geliat usaha. Hanya segelintir, sekitar 5,9 persen, yang melaporkan adanya kenaikan gaji atau upah.
"Data ini menunjukkan persoalan utamanya bukan semata-mata kenaikan harga barang. Akar masalahnya adalah melemahnya kemampuan masyarakat untuk memperoleh penghasilan," tegas Agus. Ia menjelaskan, ketika dunia usaha terpaksa menahan ekspansi, penyerapan tenaga kerja pun ikut terhambat. Konsekuensinya, pendapatan para pekerja dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami tekanan.
Situasi ini, menurut Agus, berpotensi besar memperlemah konsumsi rumah tangga. Padahal, konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Melemahnya daya beli juga berarti semakin terbatasnya kemampuan masyarakat untuk menyisihkan dana cadangan.
Menghadapi tantangan ini, Agus Taufiq mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Perluasan lapangan kerja menjadi prioritas utama untuk menahan laju pelemahan ekonomi. Kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat, seperti yang pernah diutarakan Agus Taufiq sebelumnya, kini semakin relevan untuk diterapkan demi memulihkan kepercayaan dan kesejahteraan masyarakat.
Situasi ekonomi yang stagnan dan penurunan pendapatan ini memerlukan perhatian serius dari pemangku kebijakan. Upaya menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan sektor usaha menjadi kunci untuk membangkitkan kembali optimisme ekonomi nasional.











