Gelandang tangguh asal Jerman, Leon Goretzka, secara resmi mengakhiri perjalanannya bersama raksasa Bundesliga, Bayern Munich, setelah kontraknya tidak diperpanjang dan berakhir pada akhir musim 2025/2026. Pemain berusia 31 tahun ini kini berstatus bebas agen, sebuah status yang membuatnya menjadi komoditas panas di bursa transfer musim panas, terutama di kancah sepak bola Italia dan Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat.
Keputusan Goretzka untuk tidak melanjutkan karier di Allianz Arena menandai berakhirnya delapan tahun pengabdian yang penuh gelar. Ia bergabung dengan Bayern Munich pada tahun 2018 dan sejak itu menjadi bagian integral dari dominasi klub, baik di kancah domestik maupun Eropa. Kepergiannya ini membuka lembaran baru dalam kariernya dan memicu spekulasi mengenai destinasi berikutnya.
Dilansir dari laporan Sport Bild dan Fabrizio Romano, Goretzka memiliki preferensi kuat untuk tetap berkompetisi di Eropa. Alasannya jelas, ia ingin melanjutkan proyek yang lebih kompetitif di level tertinggi sepak bola benua biru, sebuah ambisi yang selaras dengan profilnya sebagai gelandang berpengalaman yang haus akan tantangan. Hal ini menjadi hambatan besar bagi klub-klub dari MLS, meskipun ada minat serius.
Chicago Fire dari Amerika Serikat, misalnya, disebut-sebut sangat berhasrat untuk mendatangkan mantan bintang Schalke 04 ini. Namun, harapan mereka tampaknya sulit terwujud mengingat prioritas Goretzka untuk tetap berada di kompetisi Eropa yang lebih ketat dan bergengsi. Pilihan ini menunjukkan bahwa sang pemain masih merasa mampu bersaing di level tertinggi dan belum ingin mengakhiri karier di liga yang dianggap kurang kompetitif.
Di Liga Italia Serie A, nama Leon Goretzka dengan cepat mencuat sebagai salah satu target utama. Juventus, klub yang dikenal cerdik dalam memanfaatkan pasar bebas transfer, telah memasukkan Goretzka ke dalam daftar buruan mereka. Ketertarikan Si Nyonya Tua ini bukan tanpa alasan, mengingat adanya potensi kepergian gelandang andalan mereka, Khephren Thuram, yang santer dikaitkan dengan Paris Saint-Germain.
La Gazzetta dello Sport melaporkan bahwa Goretzka menjadi kandidat utama untuk memperkuat lini tengah Juventus. Keuntungan besar merekrutnya adalah status bebas agen, yang berarti Juventus tidak perlu mengeluarkan biaya transfer sepeser pun. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi klub yang tengah berupaya menyeimbangkan neraca keuangan sambil tetap membangun skuad yang kompetitif untuk bersaing di papan atas Serie A dan Eropa. Kehadiran Goretzka diharapkan dapat menambah kekuatan fisik, kreativitas, dan kemampuan mencetak gol dari lini kedua yang sangat dibutuhkan Juventus.
Namun, Juventus bukan satu-satunya klub Italia yang melirik Goretzka. AC Milan juga sempat berada di posisi terdepan untuk melakukan pembicaraan dengan sang gelandang. Sayangnya, rencana negosiasi tersebut kini tertunda akibat adanya perubahan manajemen di tubuh Rossoneri. Pergantian pucuk pimpinan dan direktur olahraga seringkali berdampak pada strategi transfer, membuat kesepakatan yang sudah di depan mata menjadi tertunda atau bahkan batal. Situasi ini memberikan waktu bagi klub lain untuk ikut serta dalam perburuan Goretzka.
Klub Serie A lainnya, Napoli, juga sempat dikaitkan dengan Goretzka di awal bursa transfer. Namun, laporan menyebutkan bahwa tuntutan gaji yang diajukan oleh Goretzka dinilai terlalu tinggi untuk keuangan Partenopei. Napoli, yang dikenal dengan kebijakan transfer yang lebih hati-hati dalam hal gaji pemain, terpaksa mundur dari persaingan, membuka jalan bagi klub-klub lain yang memiliki kapasitas finansial lebih besar untuk memenuhi permintaan sang pemain.
Selama delapan tahun masa baktinya di Bayern Munich, Goretzka telah menjadi salah satu pilar penting. Ia sukses mempersembahkan tujuh trofi Bundesliga, satu gelar Liga Champions UEFA, dan berbagai piala domestik lainnya, menegaskan statusnya sebagai salah satu gelandang terbaik di generasinya. Kontribusinya dalam membangun serangan, memenangkan bola di lini tengah, dan mencetak gol-gol krusial tidak dapat dipandang remeh.
Meski demikian, di musim terakhirnya, menit bermain Goretzka memang berkurang drastis, terutama setelah kedatangan manajer Vincent Kompany. Perubahan taktik dan rotasi skuad yang diterapkan Kompany membuat Goretzka lebih sering memulai pertandingan dari bangku cadangan. Situasi ini disinyalir menjadi salah satu faktor utama yang mendorong keputusannya untuk mencari tantangan baru di luar Bayern Munich, demi mendapatkan waktu bermain reguler dan kembali menemukan performa terbaiknya.
Sebagai seorang gelandang box-to-box dengan fisik yang kuat, visi bermain yang baik, dan kemampuan mencetak gol, Goretzka akan menjadi tambahan berharga bagi klub mana pun yang berhasil mengamankan jasanya. Pengalamannya di level tertinggi Eropa dan tim nasional Jerman membuatnya menjadi aset yang menarik, terutama bagi klub-klub Italia yang mengedepankan taktik dan kekuatan fisik di lini tengah.
Dengan status bebas agen dan usianya yang masih produktif untuk seorang gelandang, Leon Goretzka kini berada di persimpangan jalan kariernya. Pilihannya untuk tetap di Eropa menunjukkan ambisi besar, dan dengan Juventus serta AC Milan yang terus memantau, bursa transfer musim panas ini diprediksi akan menjadi panggung bagi saga transfer Goretzka yang menarik untuk disimak. Keputusan akhir sang pemain akan sangat menentukan arah karier berikutnya dan potensi dampak pada peta persaingan Serie A musim depan.











