Tim nasional Belanda, atau yang akrab disapa Oranje, kembali menorehkan catatan pahit dalam sejarah partisipasi mereka di ajang Piala Dunia. Setelah tersingkir dari babak perempat final Piala Dunia 2022 Qatar melalui drama adu penalti melawan Argentina, Belanda kini menyamai rekor buruk yang sebelumnya dipegang oleh Spanyol. Mereka tercatat sudah empat kali harus menelan kekalahan dalam babak adu penalti di turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat itu. Rekor ini sekaligus menambah daftar panjang kegagalan Oranje untuk meraih trofi juara dunia yang selalu menjadi impian.
Kekalahan menyakitkan di Qatar menjadi episode terbaru dalam serial mimpi buruk Belanda di titik putih. Tim asuhan Louis van Gaal harus mengakui keunggulan Argentina dengan skor 3-4 di babak tos-tosan, setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit. Ini adalah kali kedua Belanda takluk di tangan Argentina melalui adu penalti di Piala Dunia, setelah sebelumnya terjadi di semifinal Piala Dunia 2014 Brasil. Kala itu, skor 0-0 tak berubah hingga babak tambahan, memaksa kedua tim beradu keberuntungan, dan Argentina keluar sebagai pemenang dengan skor 4-2.
Jauh sebelum itu, trauma adu penalti pertama Oranje di Piala Dunia terjadi pada semifinal edisi 1998 di Prancis. Kala itu, tim bertabur bintang seperti Dennis Bergkamp, Patrick Kluivert, dan Edgar Davids harus menyerah dari Brasil dengan skor 2-4 setelah bermain imbang 1-1. Momen tersebut menjadi salah satu titik balik dalam sejarah keikutsertaan Belanda, yang sejak saat itu seolah dihantui oleh "kutukan" di babak adu penalti.
Dengan catatan empat kekalahan adu penalti di Piala Dunia, Belanda kini resmi bersanding dengan Spanyol sebagai tim yang paling sering tersingkir dengan cara dramatis ini. Spanyol, tim raksasa Eropa dengan segudang prestasi, juga memiliki rekor serupa. Mereka pertama kali merasakan pahitnya adu penalti di perempat final Piala Dunia 1986 Meksiko saat kalah dari Belgia. Kemudian, di perempat final Piala Dunia 2002 Korea-Jepang, La Furia Roja disingkirkan tuan rumah Korea Selatan.
Dua kegagalan lainnya bagi Spanyol terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 2018 Rusia saat takluk dari tim tuan rumah, serta di babak 16 besar Piala Dunia 2022 Qatar ketika secara mengejutkan dihentikan oleh Maroko. Senada dengan Belanda, Spanyol, meski kerap diunggulkan, seringkali harus pulang lebih awal karena ketidakberuntungan atau ketidakmampuan mereka dalam menghadapi tekanan di babak adu penalti. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam mengingat status kedua negara sebagai kekuatan sepak bola dunia.
Adu penalti dalam sepak bola seringkali disebut sebagai "lotre" karena faktor keberuntungan yang besar. Namun, bagi tim sekaliber Belanda dan Spanyol, rentetan kegagalan ini memunculkan pertanyaan lebih dalam tentang persiapan mental, teknik, dan strategi. Tekanan yang luar biasa pada setiap eksekutor, serta penjaga gawang, dapat mengubah jalannya pertandingan yang sebelumnya dikuasai menjadi ajang adu mental yang menegangkan. Psikologi bermain menjadi sangat krusial di momen-momen krusial ini.
Para ahli sepak bola sering menyoroti beberapa faktor penyebab kegagalan adu penalti. Pertama, adalah faktor psikologis. Ketegangan tinggi, ekspektasi publik, dan bobot pertandingan seringkali membuat pemain bintang sekalipun goyah. Kedua, adalah kurangnya latihan spesifik. Meskipun semua tim berlatih penalti, intensitas dan simulasi tekanan pertandingan sesungguhnya sulit diciptakan. Ketiga, kemampuan membaca arah bola dari kiper, serta teknik eksekusi penendang yang sempurna, juga sangat menentukan.
Bagi Belanda, yang dikenal dengan gaya bermain menyerang dan atraktifnya, julukan "tim tanpa mahkota" kerap melekat. Mereka telah tiga kali mencapai final Piala Dunia (1974, 1978, 2010) namun selalu gagal di partai puncak. Kini, rekor adu penalti ini menambah narasi tentang "kutukan" yang seolah membayangi setiap langkah Oranje di turnamen mayor. Kegagalan demi kegagalan ini tidak hanya menyisakan kekecewaan bagi para pemain dan staf pelatih, tetapi juga bagi jutaan penggemar setia di seluruh dunia.
Melihat kembali kiprah mereka, timnas Belanda memang memiliki tradisi kuat dalam mencetak talenta-talenta luar biasa dan menyajikan sepak bola indah. Namun, entah mengapa, momen-momen penentu di Piala Dunia selalu berakhir tragis, khususnya di babak adu penalti. Hal ini mungkin akan mendorong federasi sepak bola Belanda (KNVB) untuk melakukan evaluasi mendalam, tidak hanya pada aspek teknis dan taktik, tetapi juga pada persiapan mental para pemain untuk menghadapi tekanan maksimal.
Fenomena ini juga menimbulkan perdebatan di kalangan pecinta sepak bola global. Apakah adu penalti merupakan cara yang adil untuk menentukan pemenang pertandingan di babak gugur? Atau haruskah ada alternatif lain untuk mengurangi faktor keberuntungan dan lebih menonjolkan kualitas tim secara keseluruhan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus menjadi topik hangat selama drama adu penalti masih menjadi bagian tak terpisahkan dari turnamen-turnamen besar.
Dengan menyamai rekor Spanyol, Belanda kini memiliki pekerjaan rumah yang besar. Bukan hanya soal meningkatkan performa di lapangan, tetapi juga mengatasi momok psikologis yang melekat pada babak adu penalti. Hanya dengan persiapan yang matang, baik secara fisik, taktik, maupun mental, Oranje dapat berharap untuk memutus rantai kegagalan ini dan akhirnya meraih kejayaan di panggung Piala Dunia di masa mendatang. Pengalaman pahit ini harus menjadi pelajaran berharga untuk membangun tim yang lebih tangguh.











