Buah atemoya, komoditas unggulan dari Kabupaten Taitung, Taiwan, kini menjadi sorotan dan memicu kekhawatiran baru di kalangan petani dan pemerintah Taiwan. Rencana China untuk meningkatkan impor buah berbentuk hati bersisik ini dinilai sebagai taktik manipulasi pasar yang berisiko merugikan petani Taiwan. Kementerian Pertanian Taiwan secara tegas memperingatkan para petani agar tidak tergiur dengan tawaran tersebut, menyebutnya sebagai pola "naikkan, jebak, lalu bunuh" yang kerap dilancarkan Beijing.
Atemoya, buah hibrida dari berbagai jenis srikaya yang memiliki daging buah putih lembut terbungkus kulit hijau kasar, merupakan salah satu produk pertanian andalan Taiwan. China yang merupakan importir utama atemoya Taiwan, baru-baru ini berjanji untuk meningkatkan pembelian buah tersebut. Namun, peringatan keras datang dari Kementerian Pertanian Taiwan melalui siaran pers pada Sabtu lalu. Kementrian tersebut mengidentifikasi langkah China sebagai "contoh klasik dari proses ‘naikkan, jebak, lalu bunuh’", sebuah strategi yang dinilai bertujuan menciptakan ketergantungan sebelum akhirnya meninggalkan petani dalam kerentanan terhadap perubahan pasar.
Latar belakang ketegangan ini tidak terlepas dari hubungan politik yang kompleks antara China dan Taiwan. Beijing mengklaim pulau yang memerintah sendiri ini sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan untuk mengambil alih secara paksa. Dalam beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan latihan militernya di dekat Taiwan, termasuk simulasi blokade. Para pengamat menilai, selain taktik militer, China juga menggunakan berbagai cara non-militer untuk menekan Taiwan, salah satunya melalui komoditas pertanian.
Sebelumnya, pada tahun 2021, China secara mendadak melarang impor nanas Taiwan. Keputusan ini menimbulkan gejolak besar bagi para petani dan memicu gerakan konsumsi domestik sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang dianggap banyak warga Taiwan sebagai pemaksaan ekonomi. Kini, kekhawatiran serupa muncul terhadap nasib buah atemoya. Kementerian Pertanian Taiwan menjelaskan pola yang sama: "Pertama, China melakukan pembelian besar untuk menunjukkan niat baik dan mendorong petani menanam atemoya. Selanjutnya, China secara sepihak memberlakukan pembatasan ekspor tanpa peringatan."
Pernyataan kementerian tersebut merinci riwayat pembatasan yang pernah diterapkan China terhadap atemoya Taiwan. Pada tahun 2021, impor atemoya sempat dihentikan dengan alasan kekhawatiran hama, sebelum sebagian impor dilanjutkan pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024, China kembali memberlakukan tarif impor yang memberatkan buah tersebut. Tindakan-tindakan seperti ini, menurut kementerian, "menyebabkan industri menghadapi ketidakstabilan besar dan petani menanggung risiko yang sangat besar." Lebih lanjut, China juga dilaporkan tengah mengembangkan budidaya atemoya di negaranya sendiri, yang dikhawatirkan akan menjadi ancaman tambahan bagi industri lokal Taiwan.
Perdebatan mengenai ekspor atemoya Taiwan semakin memanas awal bulan ini. Hal ini terjadi setelah perusahaan-perusahaan China berjanji untuk meningkatkan pembelian buah tersebut dalam sebuah forum di Kota Xiamen, China. Forum ini merupakan bagian dari rencana yang lebih luas untuk memperluas pembelian produk ekspor Taiwan ke China, termasuk ikan dan teh. Forum tersebut dihadiri oleh para pemimpin bisnis dan politisi oposisi dari Taiwan, meskipun ada larangan resmi dari pemerintah pusat Taiwan untuk partisipasi dalam acara tersebut.
Tindakan partisipasi dalam forum tersebut menuai konsekuensi. Juru bicara Dewan Urusan Daratan Taiwan menyatakan bahwa para pejabat yang menghadiri forum tersebut dapat dikenakan investigasi. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Pertanian Taiwan menegaskan komitmennya untuk fokus pada "pembangunan pertanian berkelanjutan dan pendapatan yang stabil bagi petani". Selain itu, kementerian akan terus membimbing industri atemoya menuju "diversifikasi pengolahan", termasuk pengembangan produk olahan seperti buah beku, puree, dan minuman anggur (wine).
Namun, langkah pemerintah ini mendapat kritik dari kalangan politisi oposisi. Anggota parlemen dari partai Kuomintang menganggap peringatan pemerintah sebagai upaya politisasi industri atemoya yang justru dapat merugikan petani di pulau tersebut. Walikota Taipei, Chiang Wan-an, bahkan menuduh Dewan Urusan Daratan Taiwan menggunakan isu ini untuk "menindas dan menindas" petani Taiwan. Chiang Wan-an secara tegas menyatakan bahwa atemoya adalah "TSMC-nya dunia buah", merujuk pada raksasa semikonduktor Taiwan yang terkenal di dunia. "Tidak ada negara di dunia yang dapat menghasilkan buah yang selezat dan seistimewa atemoya Taiwan," tegasnya kepada wartawan pada Sabtu lalu.
Situasi ini menyoroti bagaimana komoditas pertanian bisa menjadi alat dalam permainan politik antarnegara. Taiwan, dengan ketergantungannya pada pasar ekspor, terus berupaya mencari keseimbangan antara kepentingan ekonomi petani dan menjaga kedaulatan politiknya. Upaya diversifikasi pasar dan pengolahan produk menjadi kunci strategis Taiwan dalam menghadapi potensi tekanan ekonomi dari China, sambil terus mempromosikan keunggulan produk lokalnya di kancah global.











