Serial televisi ‘Mad Men’ telah memukau penonton dengan kisah intrik dunia periklanan di era 1960-an Amerika. Di balik gemerlapnya Madison Avenue, tersimpan potret perubahan sosial dan moral bangsa yang mendalam. Jika Anda merindukan nuansa era tersebut, gaya busana ikonik, serta aura misterius Don Draper, ada banyak alternatif menarik.
Bagi para pencinta literatur, ‘Mad Men’ menawarkan kedalaman naratif yang mengingatkan pada kumpulan cerita pendek. Untuk memuaskan dahaga tersebut, beberapa buku berikut sangat direkomendasikan.
‘The Man in the Grey Flannel Suit’ karya Sloan Wilson, yang terbit pada 1955, menjadi inspirasi nyata bagi serial ini. Novel ini mengisahkan perjuangan Tom Rath, seorang veteran perang yang bergulat dengan tekanan karir dan trauma masa lalu di tengah kemakmuran. Mirip Don Draper, Tom menampilkan citra pebisnis ulung di luar, namun menyimpan gejolak emosi di dalam.
‘The Best of Everything’ karya Rona Jaffe, yang dibaca Don Draper di musim pertama, memberikan perspektif berbeda. Novel debut Jaffe ini menyoroti kehidupan lima wanita muda yang bekerja di perkantoran Manhattan. Kisahnya detail tentang mimpi, pelecehan di tempat kerja, serta skandal di era yang telah berlalu.
Bagi yang ingin menyelami pola pikir para ‘Mad Men’ sesungguhnya, ‘Confessions of an Advertising Man’ karya David Ogilvy adalah bacaan wajib. Buku ini berisi panduan praktis dari legenda periklanan yang membentuk citra Ogilvy sebagai guru periklanan era 60-an.
Sementara itu, ‘Revolutionary Road’ karya Richard Yates menangkap tema kejenuhan dan kegelisahan di kalangan kelas atas. Novel tragis ini menceritakan upaya pasangan Frank dan April Wheeler untuk melarikan diri dari rutinitas membosankan Amerika era 1950-an.
Novel ‘Seconds’ karya David Ely, terbit pada 1963, juga menawarkan cerita tentang pria sukses yang ingin melarikan diri dan menciptakan identitas baru. Karakter utama, Wilson, menggunakan jasa perusahaan yang memalsukan kematiannya dan memberinya kehidupan baru yang penuh konsekuensi bencana.
Beralih ke layar lebar, beberapa film berhasil menangkap esensi era ‘Mad Men’. ‘A Single Man’ (2009), adaptasi novel Christopher Isherwood, memotret kehidupan seorang profesor gay di awal 1960-an yang berjuang menghadapi kesedihan mendalam. Film ini memukau dengan visualnya yang indah dan penggambaran kehidupan ganda.
‘Inside Llewyn Davis’ (2013) berlatar New York tahun 1961, mengikuti perjalanan seorang penyanyi folk berbakat namun kesulitan finansial. Film ini, meskipun lucu, adalah studi karakter mendalam tentang seorang narsisis yang berjuang meraih kesuksesan.
Bagi penggemar podcast, ada banyak pilihan yang bisa dieksplorasi. Tayangan seperti ‘You Must Remember This’ yang mengupas sejarah Hollywood, atau ‘Slow Burn’ yang mendalami peristiwa sejarah penting Amerika, dapat memberikan wawasan serupa tentang perubahan budaya dan sosial.
Rekomendasi ini diharapkan dapat mengisi kekosongan bagi para penggemar ‘Mad Men’ yang ingin terus menjelajahi pesona era 1960-an melalui berbagai medium.
